JOGJA - Prosesi Upacara Adat Garebeg Besar Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun ini akan berlangsung khidmat dengan format yang disederhanakan.
Keraton sendiri memutuskan untuk memusatkan seluruh rangkaian prosesi pembagian pareden hanya di dalam Keraton dan diperuntukkan hanya untuk abdi dalem.
Raja Keraton Jogjakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan, penyederhanaan prosesi Garebeg dilakukan sebagai langkah penghematan di tengah situasi efisiensi anggaran pemerintah.
Ayah dari 5 puteri tersebut mengatakan, bahwa pengurangan sejumlah prosesi dilakukan bukan hanya karena pertimbangan anggaran, tetapi juga untuk menghindari kesan bermewah-mewah di tengah kondisi ekonomi saat ini.
"Penghematan aja. Kabeh kan penghematan. Ya kita juga menghemat, secara psikologisnya kan gitu. Nanti dikira mewah-mewah," katanya saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Kamis (21/5).
Ia menyadari, bahwa penghematan saat ini dilakukan baik di tingkat pemerintah pusat maupun daerah. Karena itu, langkah efisiensi dinilai lebih tepat diterapkan pada kegiatan dengan beban anggaran besar.
"Yang pemerintah pusat APBN ya penghematan, daerah ya penghematan, kan gitu. Karena biayanya besar kan di situ," bebernya.
Namun demikian, ia menilai penghematan dan penyederhanaan yang dilakukan pada Garebeg juga tidak akan berdampak signifikan apabila hanya dilakukan pada pos-pos kecil.
Lebih lanjut, ia juga menyebut unsur budaya tertentu kemungkinan masih dipertahankan dalam agenda budaya mendatang. Ia mencontohkan prajurit Keraton masih dimungkinkan ikut mengawal prosesi Sekaten, meski acara gunungan berpotensi ditiadakan.
"Tapi kalau seandainya Sekaten, kemungkinan prajurit tetap ngawal misalnya gitu. Tapi pada waktu acara gunungan nggak ada. Penghematan aja," katanya.
Sultan menambahkan, format pelaksanaan kegiatan budaya ke depan juga masih akan melihat perkembangan kondisi ekonomi. Ia membuka kemungkinan sejumlah prosesi kembali digelar secara penuh apabila situasi sudah semakin membaik.
"Saya nggak bisa menentukan, nanti kita lihat perkembangannya. Kalau memang keadaan ekonominya lebih baik ya dimunculkan lagi. Kita kan belum tahu," ucapnya.
Baca Juga: Inklusi Tinggi tapi Literasi Rendah, LPS Sebut Gen Z dan Milenial Rentan Terjebak Risiko Pinjol
Di sisi lain, salah satu Abdi Dalem senior Keraton Jogjakarta, KRT Kusumanegara mengatakan, bahwa penyederhanaan yang dilakukan memang berdasarkan arahan atau dhawuh langsung Sultan.
"Betul bahwa kami, Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, belum lama ini menerima dhawuh/perintah Sultan untuk menyederhanakan prosesi Garebeg dimulai dari besok Garebeg Besar," ujarnya.
Menurut dia, pelaksanaan Garebeg tahun ini akan menyerupai format saat pandemi Covid-19, di mana seluruh pembagian ubarampe pareden dipusatkan di dalam lingkungan keraton dan hanya diperuntukkan bagi Abdi Dalem.
Akibat penyesuaian tersebut, sejumlah agenda pendukung seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik juga ditiadakan.
"Tidak ada gunungan yang keluar dari keraton, tidak ada iring-iringan prajurit. Seluruh ubarampe pareden nanti hanya akan dibagi kepada Abdi Dalem Keraton," tuturnya. (iza)
Editor : Heru Pratomo