JOGJA – Ribuan warga yang tergabung dalam Forum JogjaDamai menggelar aksi damai menolak demonstrasi anarkis di kawasan sumbu filosofi, Rabu (29/4/2026).
Mereka mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga keamanan kawasan vital Jogja.
Kegiatan yang berlangsung damai tersebut diikuti oleh berbagai elemen seperti organisasi masyarakat (ormas), komunitas, hingga paguyuban becak dan andong Malioboro.
Baca Juga: Persoalan Pelaku UMKM di Kota Magelang Tidak Hanya Modal, Tidak Siapnya SDM Turut Jadi Masalah
Aksi diawali kirab dari kawasan Abu Bakar Ali, lalu berlanjut di kawasan Jalan Malioboro, hingga berakhir di Titik Nol Kilometer.
Dalam kegiatan tersebut juga diselenggarakan doa bersama dan pentas budaya.
Serta yang tidak kalah cukup menarik perhatian adalah pembentangan bendera merah putih dengan panjang 100 meter.
Aksi diakhiri dengan deklarasi damai yang diikuti oleh seluruh peserta.
Baca Juga: Hirup Gas Beracun, Dua Warga Desa Tersobo, Prembun, Kebumen Meninggal di Dalam Sumur
Perwakilan Forum Jogja Damai Kusnanto mengatakan, aksi tersebut bertujuan untuk mengajak seluruh warga untuk menjaga Jogjakarta sebagai daerah yang cinta damai.
Sekaligus mengamankan titik-titik vital seperti Kawasan Tugu, Malioboro dan Keraton (Gumaton).
Menurutnya, aksi tersebut juga untuk mengantisipasi adanya demonstrasi yang akan berlangsung dalam waktu dekat.
Salah satunga Hari Buruh, yang diharapkan tidak dinodai dengan aksi anarkis.
Lantaran dia khawatir jika terjadi kerusuhan di Kawasan Gumaton, wisatawan akan enggan berkunjung yang dampaknya dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
“Kalau sampai anarkis, maka kami Forum Jogja Damai bersama seluruh warga masyarakat akan gempur," tegas Kustanto.
Korlap Forum Jogja Damai Hasanudin menekankan pentingnya menjaga Malioboro.
Sebab kawasan tersebut merupakan salah satu ikon bagi Kota Jogja.
Sehingga sudah seharusnya dijaga kondisinya tetap aman dan nyaman bagi semua pihak.
Dia juga meminta aksi demonstrasi atau penyampaian aspirasi di kawasan vital seperti Malioboro bisa disampaikan tanpa ada gejolak.
Sebab Yogyakarta selama ini dikenal sebagai ruang aman bagi warga maupun wisatawan.
“Malioboro ini milik bersama, harus kita jaga,” tegas Hasan.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan, kehadiran berbagi elemen masyarakat selama ini cukup bisa mencegah adanya potensi kerusuhan maupun gangguan keamanan masyarakat lainnya.
Oleh karena itu, dia berharap keterlibatan masyarakat untuk menjaga situasi tetap aman bisa terus dipertahankan sampai kapanpun. “Semoga Jogja tetap istimewa,” pesannya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita