JOGJA - Potensi cuaca ekstrem masih menghantui wilayah Yogyakarta ditengah musim kemarau seperti sekarang. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi adanya bibit Siklon 92S.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Feriomex Hutagalung mengatakan, aktivitas siklonik itu terpantau berada di Samudera Hindia sebelah barat daya Lampung.
Sehingga berdampak pada pola angin di wilayah Pulau Jawa termasuk DIY yang bertiup dari arah timur.
Baca Juga: Kebutuhan Sapi Kurban Capai 9.600 Ekor, Sleman Ambil dari Luar Daerah: Kebutuhan Sapi Kurang
Feri menyebut, kondisi tersebut memungkinkan adanya potensi cuaca berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang.
Terlebih di wilayah Sleman bagian utara dan Kulon Progo bagian utara.
“Profil kelembaban udara di DIY berada pada ketinggian 1.0-3.0 kilometer, sehingga masih dapat memberi peluang pertumbuhan awan hujan pada siang dan sore hari,” ujar Feri saat dikonfirmasi, Minggu (19/4/2026).
Baca Juga: Gelar Muscab, Ida Fauziyah Minta Kader PKB KebumenTak Larut di Zona Nyaman
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengungkapkan, di bulan April merupakan masa peralihan musim dari penghujan ke kemarau.
Sehingga ada kondisi berupa perubahan cuaca yang cepat dan mendadak. Seperti dari panas terik ke hujan lebat.
Reni meminta agar masyarakat dan pemerintah daerah lebih antisipatif terhadap berbagai potensi bencana. Sebab ancaman tidak hanya bencana hidrometeorologi.
Baca Juga: Gencarkan Razia Malam, Satlantas Gunungkidul Jaring Puluhan Motor Knalpot Blombongan
Namun juga ada dampak kekeringan metereologis seperti kekurangan air bersih hingga kebakaran lahan.
“Wilayah yang rentan kekeringan harus lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Darmanto menyampaikan bahwa Kota Jogja kecil kemungkinannya terjadi bencana kekeringan. Sehingga di musim kemarau status siaga darurat bencana telah dicabut..
“Mulai bulan april intensitas hujan sudah menurun dan akhir musim hujan,” katanya. (inu)
Editor : Winda Atika Ira Puspita