Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Over Suplai dan Lesunya Permintaan Konsumen, Harga Ayam Kini Terjun Bebas Pasca-Lebaran

Gregorius Bramantyo • Minggu, 20 April 2025 | 03:31 WIB

 

 

ILUSTRASI: Pedagang daging ayam melayani permintaan pembeli di Jalan Poncowinatan, Kota Jogja, beberapa waktu lalu.
ILUSTRASI: Pedagang daging ayam melayani permintaan pembeli di Jalan Poncowinatan, Kota Jogja, beberapa waktu lalu.

JOGJA - Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo) menyebut adanya penurunan harga ayam pascamasa Lebaran 2025. Meski membawa keuntungan bagi konsumen, kondisi ini justru menimbulkan kerugian signifikan bagi para peternak akibat over suplai dan terbatasnya daya serap pasar.

Ketua Apayo Citra Nugroho menjelaskan, saat ini harga ayam di tingkat peternak berkisar Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram. Sementara normalnya berada di angka Rp 18 ribu hingga Rp 19 ribu. Di pasar, harga ayam yang sebelumnya berada di kisaran Rp 27 ribu hingga Rp 31 ribu per kilogram, kini turun menjadi sekitar Rp 20 ribu.

“Khusus ayam ukuran besar, yang beratnya sekitar 2,5 kilogram ke atas, harganya bahkan hanya Rp 10.000 per kilogram di kandang,” ujarnya kemarin (19/4).

Penurunan harga ini disebut terjadi akibat beberapa faktor. Pertama, daya beli masyarakat yang menurun usai Lebaran. Kedua, banyaknya pabrik pengolahan ayam yang baru kembali beroperasi pada 8 April 2025 setelah mengikuti masa libur panjang. Ketiga, terjadi kelebihan pasokan (over suplai) karena perusahaan-perusahaan besar seperti Japfa meningkatkan produksi menjelang Lebaran. Namun di saat yang sama, pabrik olahan mereka berhenti beroperasi sehingga stok ayam membanjiri pasar.

“Operasional pengolahan seperti rumah potong ayam (RPA), pabrik sosis, dan nugget itu cukup panjang, terakhir produksi 28 Maret, baru buka lagi 8 April. Di sisi lain, semua peternak menaikkan populasi menjelang Lebaran. Ini membuat pasokan membeludak sementara permintaan tidak seimbang,” jelas Citra.

Kondisi ini membuat banyak peternak kesulitan menjual ayam. Di kandang, ayam-ayam yang sudah mencapai bobot besar tidak bisa segera dikeluarkan karena pasar tidak bisa menyerap semuanya. Akibatnya terjadi over weight yang menambah beban biaya pemeliharaan seperti pakan dan tenaga kerja.

Meski permintaan ayam di pasar kini cenderung meningkat karena harga yang murah, masyarakat cenderung membeli dalam jumlah terbatas dan menyimpan di lemari es. Namun jenis ayam yang banyak tersedia saat ini berukuran besar, tidak selalu sesuai kebutuhan pasar rumah tangga yang umumnya lebih menyukai ayam ukuran sedang.

"Di peternak, ayam belum habis karena kesulitan distribusi. Ini terjadi karena tidak ada keseimbangan antara suplai dan permintaan. Saat ini permintaan dari RPA, pabrik sosis, dan olahan masih belum stabil," ujar Citra.

Sementara dari sisi biaya produksi, para peternak mengaku merugi cukup besar. Dengan harga jual yang sangat rendah, mereka tidak mampu menutup biaya operasional seperti pakan, bibit, obat-obatan, listrik, dan tenaga kerja.

"Untuk ayam berbobot sekitar 2 kg, kerugiannya bisa mencapai Rp 10 ribu per ekor. Itu belum menghitung biaya tenaga kerja, hanya materiil saja,” ucap Citra.

Dia menyebut, saat ini peternak berada dalam dilema. Menahan ayam di kandang terlalu lama justru meningkatkan kerugian karena harus memberi pakan dan membayar biaya operasional lebih banyak. Di sisi lain, menjual dengan harga rendah pun tetap rugi. (tyo/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Ayam Potong #peternak ayam #harga ayam