JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) DIY merilis data wisatawan nusantara (wisnus) di DIY untuk kali pertama pada Agustus 2024 lalu. Data wisnus yang baru pertama kali dirilis itu dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal.
Kepala BPS DIY Herum Fajarwati mengatakan, setiap tahunnya BPS DIY sudah melakukan survei terkait wisnus. Namun memang baru dirilis pada Agustus 2024 kemarin. “Komitmen untuk dirilis memang baru mulai bulan Agustus. Tapi kami sebenarnya sudah ada data untuk disajikan setiap bulannya," ujarnya Jumat (27/9/2024).
Ia menjelaskan, data wisnus dapat digunakan untuk melihat perkembangan perekonomian. Juga dapat memotret kondisi sektor wisata yang menjadi salah satu pembangunan prioritas di DIY . Selain itu, juga bisa digunakan untuk melihat inflasi yang berkaitan dengan ketersediaan pangan.
“Ketersediaan pangan itu tidak hanya terkait dengan penduduk DIJ saja, tapi pendatang sebagai wisatawan yang juga butuh makan,” katanya.
Herum menyampaikan, dari data wisnus pada 2024, jumlah wisnus tertinggi adalah bulan Januari 2024 sebanyak 4,26 juta. Sementara pada Juli 2024 lebih rendah dari bulan-bulan sebelumnya. Yakni sebanyak 2,43 juta.
“Pergerakan wisnus di DIY didominasi pergerakan antarwilayah provinsi. Tertinggi adalah Kabupaten Sleman, disusul Kota Jogja, Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo,” jelasnya.
Perkembangan wisnus pada rentang Januari hingga Juli yang tertinggi adalah ada 2024. Data itu diambil dalam enam tahun terakhir, pada 2019 hingga 2024. Jumlah periode tersebut di 2024 lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya. Yakni sebanyak 22,58 juta. “Lebih tinggi dari sebelum pandemi di 2019 sebesar 11,82 juta di periode yang sama,” ungkap Herum.
Sementara itu, adanya data wisnus yang dirilis BPS DIY dapat dimanfaatkan oleh industri pariwisata di kabupaten dan kota sebagai dasar untuk meningkatkan beberapa hal. “Harapannya data yang disajikan adalah khusus soal mobilitas masyarakat dari luar DIY. Sehingga bisa lebih riil untuk mengukur dampak ekonominya,” kata Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardianto.
Apabila data yang disajikan adalah mobilitas wisatawan asal luar DIY, kata Bobby, maka dapat digunakan sebagai acuan dan panduan para pelaku wisata untuk membuat perencanaan bisnis.
Baca Juga: Pemasaran Jadi Kendala Utama UMKM di Sleman, Maish Pakai WhatsApp Mode Biasa
Dikatakan, tingginya jumlah wisnus di DIY pada 2024 bisa menjadi momentum bagi pelaku wisata. Sebab menurut Bobby, pengembangan wisata selalu terkait dengan kondisi perekonomian di suatu daerah. “Saat pergerakannya positif dan perekonomian kuat, maka bisa jadi dasar dalam membuat strategi di tahun 2025,” tandasnya. (tyo/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita