RADAR JOGJA - Perayaan sekaten oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat tahun ini dimulai. Hal ini ditandai dengan prosesi miyos gangsa sebagai rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Bangsal Pancaniti, Kompleks Keraton Jogja, Senin malam (9/9).
Memasuki area Bangsal Pancaniti, pengunjung akan disuguhi iringan gamelan yang sayup terdengar dengan irama menenteramkan. Gamelan mulai ditabuh sekitar pukul 19.30.
Para penabuh gamelan mengenakan surjan warna hijau. Abdi dalem yang duduk mengelilingi bangsal terbagi menjadi dua busana, yakni surjan putih dan pranakan abdi dalem seperti saat bertugas pada hari biasa.
Kepulan asap dengan aroma kemenyan yang khas mengepul ke udara menambah suasana khidmat. Hiasan lilin ditambah lampu kuning remang, menjadi penerangan di bangsal ini.
Sekitar pukul 19.50, pengunjung mulai berdatangan untuk melihat prosesi udhik-udhik. Mereka juga menunggu momen berebut koin yang dilemparkan para putri raja Sultan Hamengku Bawono Ka 10.
Sekitar pukul 20.00, kelima putri Sultan mulai keluar dari Keraton dengan diiringi para abdi dalem. Kelima putri itu adalah GKR Mangkubumi atau putri sulung Sultan dengan nama lahir GRAj Nurmalita Sari. GKR Condrokirono atau GRAj Nurmagupita (putri kedua), GKR Maduretno atau GRAj Nurkamnari Dewi (putri ketiga), GKR Hayu atau GRAj Nurabra Juwita (putri keempat) dan si bungsu GKR Bendara atau GRAj Nurastuti Wijareni. Mereka kompak mengenakan baju kebaya bermacam warna.
Prosesi udhik-udhik pun dimulai. Para putri Sultan menyebar koin Rp 500 rupiah ke warga, abdi dalem dan pengunjung yang datang. Warga berdesakan dan berebut untuk mendapatkan koin itu. Tak sedikit warga yang tangannya terinjak saat ingin mendapatkan koin itu.
Baca Juga: 10 Produk Inovatif Bagi Lansia Karya Mahasiswa Terpampang di Gelaran CHRONICS 2024
Parinah, 57, salah seorang warga Saman, Bangunharjo, Sewon, Bantul mengaku telah bertahun-tahun mengikuti prosesi sebar udhik-udhik. Ia rela datang sendirian lebih awal untuk bisa mendapatkan koin dari prosesi ini.
"Niki ajeng nyuwun udhik-udhik ning malah tangan kula kepidak-pidak (ini mau minta udhik-udhik malah tangan saya keinjak, Red)," ujarnya.
Walaupun berdesakan dan sempat terinjak, ia terlihat senang dan mengikuti prosesi itu. Koin yang ia dapatkan nantinya akan disimpan dan tidak untuk membeli barang. "Banyak yang bilang berkah. Untuk kenang-kenangan," jelasnya.
Selain itu ia datang di acara ini sekalian untuk membeli kinang (perlengkapan seperti sirih, pinang, gambir untuk digigit). Menurutnya, banyak pedagang yang berjualan kinang di luar area keraton saat ada prosesi ini.
Miyos gangsa sendiri merupakan awal tanda berlangsungnya sekaten. Miyos gangsa juga merupakan tanda keluarnya gamelan sekati yakni Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga dari keraton. Gamelan selanjutnya ditempatkan di Pagongan Masjid Gedhe dan ditabuh selama satu minggu. Rentang waktu inilah yang kemudian disebut sebagai sekaten.
Beberapa abdi dalem yang berjaga mengatakan, setelah prosesi udhik-udhik, pukul 23.00 kedua perangkat gamelan akan dikawal oleh prajurit menuju Masjid Gedhe. Kanjeng Kyai Gunturmadu dikawal Bregada Prawiratama, sementara Kanjeng Kyai Nagawilaga dikawal Bregada Jagakarya. Gamelan akan ditabuh setiap hari, kecuali Kamis malam sampai Jumat siang. (oso/laz)
Editor : Heru Pratomo