Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengamat Sebut Tragedi Bunuh Diri Polisi di Kulon Progo Ditengarai Faktor Kurangnya Keterbukaan pada Keluarga

Fahmi Fahriza • Kamis, 5 September 2024 | 05:15 WIB
Dosen Ilmu Komunikasi UMY Suciati.Fahmi Fahriza/Radar Jogja
Dosen Ilmu Komunikasi UMY Suciati.Fahmi Fahriza/Radar Jogja
 
RADAR JOGJA - Tragedi bunuh diri yang dilakukan anggota polisi di Kulon Progo menyisakan duka sekaligus tanda tanya besar bagi banyak pihak, merespon hal ini, para pengamat psikologi dan sosiologi pun turut memberi tanggapannya.
 
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang juga banyak meneliti kajian psikologi komunikasi Prof. Suciati menyampaikan, jika menilik dari kasus tersebut, faktor bunuh diri diperkirakan karena kurangnya keterbukaan korban pada anggota keluarganya.
 
"Ini bisa dianalisis dari dua faktor, internal dan eksternal. Internal seperti masalah mental, tapi dari laporannya karena ekonomi, berarti ini eksternal," katanya pada Radar Jogja, Rabu (4/9).
 
Baca Juga: Rayakan HUT Ke-95 PSIM Jogja, The Maident Ingin Tahun Depan Dirayakan dengan Status Tim Liga 1
 
Baca Juga: Upaya Tingkatkan Literasi, Toko Buku Jemput Bola Dengan Mengadakan Bazar di Kampus Jogja, Giliran UNY Mulai 2-6 Sptember
 
Baca Juga: Dishub Bantul Buka Peluang Kerja Sama untuk Bus Sekolah Gratis, Sasar Kerja Sama dengan Trans Jogja atau Damri
 
"Jelas sekali ada masalah yang dipendam sendiri kalau lihat dari kasus yang terjadi ini," sambungnya.
 
Suci menekankan, keterbukaan adalah faktor kunci, apalagi dalam konteks rumah tangga. Ia menganalisis, bahwa korban sepertinya tidak sepenuhnya terbuka soal masalah-masalah yang dihadapinya.
 
"Dia memendam tekanan batin yang dipikul sendiri, mentalnya tidak kuat, tidak bisa atau tidak mau share ke keluarga," tuturnya.
 
"Akhirnya meledak, dan salah satu jalan menurut dia mengakhiri masalah adalah bunuh diri. Padahal itu bukan solusi, saya yakin ada solusi ketika dia mau terbuka untuk cerita," imbuhnya.
 
Kurangnya keterbukaan tersebut, kata Suci. Ada kasuistik atau stereotip di mana laki-laki, apalagi kepala keluarga, merasa selalu bisa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. 
Baca Juga: Soal Pendirian Hiburan Malam di Kronggahan, Anggota DPRD Sleman Herman Budi Parmono Sebut Masyarakat Tidak Dilibatkan
Baca Juga: Keistimewaan Tak Hanya tentang Danais dari Pemprov DIY, tetapi Soal Identitas dan Proses Sejarah
Baca Juga: UMY Serukan Jilbab Bukan Penghalang Prestasi, Gunawan Budiyanto Sebut Jilbab Adalah Simbol Kekuatan dan Iman
 
 
"Keterbukaan itu 100% harus dilakukan. Justru ketika tidak terbuka itu jadi pertanyaan, ada apa sebenarnya, apakah ada yang disembunyikan," ujarnya.
 
"Apapun risikonya, terbuka itu lebih baik daripada tidak terbuka. Istri itu juga suka dilibatkan dalam berbagai hal," lanjutnya.
 
Lebih lanjut, ia juga menegaskan, persoalan mental seperti halnya depresi, tidak memandang usia maupun jenis kelamin. Sehingga, keterbukaan jadi kunci yang harus disadari dan dilakukan.
 
Berarti dia sangat tertutup dengan keluarganya, itu risiko sebuah ketertutupan 
 
"Semua orang bisa merasakan gundah, dan depresi. Salah satu penyelesaian adalah terbuka, berkomunikasi," urainya.
Editor : Heru Pratomo
#terbuka #Bercerita #Kulon Progo #Polisi #dosen #ilmu komunikasi #UMY #Suciati