RADAR JOGJA – Biaya hidup mahasiswa di DIJ mengalami kenaikan pada 2024. Gaya hidup menjadi salah satu komponen pengeluaran yang paling banyak. Rata-rata pengeluaran biaya hidup mahasiswa lebih tinggi dibandingkan rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga dan Upah Minimum Provinsi (UMP) DIY 2024 yakni senilai Rp 2,1 Juta.
Ekonom Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta Ardito Bhinadi mengatakan, dari penelitian yang dilakukan, rata-rata pengeluaran biaya hidup mahasiswa di DIJsebesar Rp 2.966.514. Juml tersebut naik sebesar dua persen dari 2020 sebesar Rp 2.917.264. “Ada perubahan distribusi alokasi pengeluaran mahasiswa di 2024 dibandingkan dengan 2020,” katanya dalam Jogja Economic Forum 2024, Kamis (8/8).
Biaya hidup mahasiswa pendatang yang tinggal di indekos atau pondokan lebih tinggi, yaitu Rp 3.069.216. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pengeluaran biaya hidup mahasiswa lebih tinggi dibandingkan rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga di DIJ 2024, sebesar Rp 2.125.898. Distribusi pengeluaran makan dan minum ada di posisi pertama.
Ketua Pusat Studi Ekonomi Keuangan dan Industri Digital ini mengatakan, pengeluaran gaya hidup paling banyak adalah untuk perawatan wajah dan tubuh. Pengeluaran gaya hidup perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. “Sebagian besar perempuan menghabiskan anggaran gaya hidupnya untuk perawatan wajah dan tubuh,” jelas Ardito.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIJ Ibrahim mengatakan, sektor pendidikan berkontribusi 8,23 persen terhadap perekonomian DIJ. Kegiatan sektor jasa pendidikan berdampak pada pertumbuhan ekonomi DIJ. Hal itu mengindikasikan adanya multiplier effect yang kuat dalam perekonomian.
Ia berharap dapat tercipta sinergi dan kolaborasi antar lembaga untuk mengoptimalkan pemberdayaan mahasiswa melalui program pengabdian masyarakat. “Mengingat besarnya dampak dan kontribusi mahasiswa dan perguruan tinggi dalam mendorong perekonomian,” katanya.
Bank Indonesia melalui komunitas penerima beasiswa Generasi Baru Indonesia (GenBI) senantiasa berperan aktif dalam mendukung pengembangan hardskill dan softskill generasi muda.
“Membentuk generasi muda sebagai frontliners dan agent of change, sehingga tercipta calon pemimpin masa depan yang berkualitas,” ujar Ibrahim. (tyo/din)
Editor : Satria Pradika