RADAR JOGJA - Pelaku usaha penggilingan daging benar-benar panen pada momentum Idul Adha. Konsumennya melonjak. Ini karena di kalangan rumah tangga stok daging kuban berlebih, hingga kemudian banyak yang ndandakke untuk bisa dibuat bakso, rendang, galatin, dan lain-lain.
Para pelaku usaha penggilingan daging melakukan persiapan demi persiapan untuk menampung melonjaknya pesanan dari para konsumen. Hal ini dilakukan karena momen Idul Adha biasanya pesanan pengolahan daging naik berkali-kali lipat dari hari biasanya.
Pemilik usaha jasa penggilingan daging STS, Budi Kusuma menyampaikan, menjelang Idul Adha ia disibukkan dengan persiapan seperti pengecekan mesin olahan dan sebagainya. Itu karena mulai hari H usahnya sudah dipenuhi warga yang akan menggilingkan daging kurban
"Hari pertama kita sampai buka dari pukul 10.00-24.00," ujarnya kepada Radar Jogja saat ditemui di lokasi penggilingan, Pakualaman, Jogja, kemarin (16/6).
Selanjutnya pada hari kedua, banyak warga yang mulai berdatangan sejak pagi selepas subuh. Ia menyampaikan, lonjakan konsumen akan menurun setelah hari ketiga walaupun tetap masih lebih banyak daripada hari biasa.
"Kalau hari raya bahkan sampai 24 jam bisa saya terima. Perbadingan dengan hari biasa bisa sampai 10 kali lipat, bahkan lebih produksi olahannya," ungkap Budi.
Menurutnya, kebanyakan warga yang datang untuk menggilingkan daging agar daging kurbannya dapat bertahan lama saat disimpan. Selain itu, olahan daging dinilai lebih praktis daripada ketika masih dalam bentuk daging segar. "Kalau sudah jadi gilingan bakso kan tinggal merebus dan makan langsung bisa," jelasnya.
Ia merasakan perbedaan orderan yang sangat jauh saat Idul Adha dibandingkan hari biasa. Buktinya, di pengolahan daging miliknya selalu penuh hingga tiga hari setelah penyembelihan kurban. Bahkan ia juga menambah mesin penggilingan khusus untuk momen Idul Adha.
"Kalau hari biasa, biasanya cuma pakai satu mesin giling dan cacah. Ini kita pakai dua mesin giling dan empat mesin cacah," ujarnya.
Selain itu, ia juga mencari karyawan tambahan khusus pada momen Idul Adha. Di jasa pengolahan daging miliknya, ada enam karyawan tambahan untuk membantu mengolah daging agar pekerjaan menjadi lebih cepat. "Padahal hari-hari biasa, biasanya cuma saya garap sendirian," ujarnya berkelakar.
Sebagai tambahan informasi, Jasa Penggilingan Daging STS dapat mengolah daging menjadi bakso, kreni, galatin dan siomay. Harganya Rp 23 ribu untuk per kilogram di momen Idul Fitri. Tapi untuk hari biasa, dia hanya mematok Rp 20 ribu per kg.
Sejalan dengan itu, pemilik Jasa Penggilingan Daging Handayani, Tya menyampaikan juga telah melakukan servis mesing penggilingan. Menurutnya, di tempatnya juga mengalami peningkatan konsumen saat Idul Adha jika dibandingkan hari biasa.
Namun, lonjakan itu lebih sedikit sebelum tren grilled daging terjadi. "Anak muda sekarang kan banyak yang bakar-bakar daging. Jadi tidak diolah, hanya di-slice saja," ujarnya.
Di tempat itu tidak hanya mengolah daging menjadi bakso melainkan bisa dijadikan empek-empek, cilok dan berbagai macam olahan lain. Pihaknya juga menambah karyawan saat momen Idul Adha, khususnya pegawai serabutan di bagian pembuatan bumbu olahan. "Paling kita cuma nambah satu orang, karena kalau penggilingan ada karyawan khusus," tuturnya.
Untuk penggilingan dagingnya, Handayani mematok harga tetap seperti pada hari biasa. Harga pengolahan daging per kilogram sampai jadi olahan yang sudah dibumbui seharga Rp 30 ribu. "Semua cabang Handayani segitu. Kalau hanya jasa penggilingan saja Rp 8 ribu per kilogramnya," ungkapnya. (oso/laz)
Editor : Satria Pradika