Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sentra Bawang Merah di Brebes dan Grobogan Terendam Banjir, Harga di DIY Stabil Tinggi, Ini Yang Dilakukan Disperindag

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 19 Mei 2024 | 01:10 WIB

 

STABILKAN HARGA: Warga membeli sembako saat pasar murah di halaman Disperindag DIJ, Semaki, Jogja, kemarin (17/5). Disperindag menggelar pasar murah dengan menyediakan 10 ton bahan pokok.
STABILKAN HARGA: Warga membeli sembako saat pasar murah di halaman Disperindag DIJ, Semaki, Jogja, kemarin (17/5). Disperindag menggelar pasar murah dengan menyediakan 10 ton bahan pokok.

RADAR JOGJA - Pasar murah untuk menstabilkan harga dan pasokan di pasaran terus digencarkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIJ, seperti di kantornya kemarin (17/5). Masyarakat tampak anstusias dilihat dari antrean yang mengular untuk menyerbu berbagai bahan pokok yang dijual di bawah harga eceran tertinggi (HET).

Kepala Disperindag DIJ Syam Arjayanti mengatakan, berbagai macam bahan pokok (bapok) disediakan, di antaranya, beras, minyak goreng, gula pasir, telur ayam, bawang merah dan putih, tepung.  "Itu kita sediakan, total 10 ton barang," katanya.

 Syam menjelaskan beberapa komoditas itu dijual di bawah HET. Seperti gula pasir dijual Rp 15 ribu hingga Rp 15.500 per kg dari HET Rp 17.500. Kemudian minyak goreng dari HET Rp 14 ribu dijual hanya Rp 12.500.

"Kalau beras bervariasi tergantung jenisnya. Kemudian telur Rp 27 ribu, bawang merah Rp 38 ribu per kg, bawang putih Rp 34 ribuan," ujarnya.

Ia menyebut, harga bahan pokok yang masih terpantau relatif tinggi saat ini komoditas bawang merah. Harga bawang merah tertinggi mencapai Rp 45 ribu per kg. Sementara bawang putih harga eceran Rp 43 ribu per kg.

Faktor harga bawang merah masing tinggi disebut karena sentra bawang merah terdampak banjir beberapa waktu lalu yakni di Grobogan dan Brebes, Jawa Tengah. Sehingga menyebabkan musim panen bawang merah tertunda akibat cuaca ekstrem.

 "Padahal bawang merah kita dari mereka, beberapa pasokan dari luar daerah. Ini yang menyebabkan terjadi (kenaikan). Pas puasa, Idul Fitri peningkatan kebutuhan juga, sehingga harga mengalami kenaikan," jelasnya.

Meski begitu komoditas ini tak terjadi kelangkaan di DIJ. Hal ini juga karena konsumsi bawang merah per orang diklaim tak terlalu signifikan kebutuhannya.

"Paling industri kuliner yang butuh banyak. Kalau untuk keluarga nggak banyak, paling berapa butir, berbeda dengan beras. Jadi nggak begitu (terdampak langka) sih, jadi stok aman," terangnya.

Selain itu, instansi ini mencatat terjadi penurunan permintaan untuk bawang putih, gula pasir, dan beras sehingga harganya pun relatif sudah menurun. Namun justru ada kenaikan untuk beras SPHP.

"Ini kalau harganya tinggi masyarakat mencari beras SPHP. Pada saat SPHP ada kenaikan sekarang nyarinya bukan yang SPHP. Biasanya setiap ada pasar murah, beras SPHP itu selalu diserbu. Tapi ini kok kita amati di beberapa pasar murah, SPHP kurang diminati, mungkin karena ada kenaikan harga," tambahnya.

Kegiatan pasar murah ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Sementara Juni mendatang akan ada enam kali pasar murah dengan berbagai lokasi tersebar di empat  kabupaten dan satu kota.

"Kalau bulan ini sudah selesai. Juni ada enam kali, biasanya kita kalau kemarin  sampai ke Lendah, bergantian tidak hanya di sini (Disperindag)," tambahnya.

Salah satu warga Kota Jogja Sulis mengaku terbantu adanya pasar murah, seiring ada kenaikan harga untuk komoditas bawang merah. Sehingga bisa membeli dengan harga di bawah harga pasar.

"Alhamdulillah dapat harga murah di sini. Cukup membantu. Saya datang sejak pagi, pukul 08.00," katanya. (wia/laz)

Editor : Satria Pradika
#harga telur #bahan pokok #pasar murah