RADAR JOGJA - Berburu walang kayu (belalang kayu) menjadi kegiatan rutin yang biasa dilakukan sebagian warga Gunungkidul. Sebelum diolah menjadi kuliner legendaris khas kabupaten ujung timur Provinsi DIJ ini, serangga dengan nama latin valanga nigricornis ini banyak dijumpai bertengger di pepohonan.
Belalang ini berukuran cukup besar yang hidup di semak-semak dan pepohonan. Serangga itu dapat melakukan reproduksi dengan cepat dan melakukan migrasi secara besar-besaran.
Menurut pengakuan para pemburu, musim walang kayu diperkirakan muncul berdekatan dengan akhir hingga awal tahun. Paling sering dijumpai hinggap di pohon turi dan jati. "Saya biasa berburu walang kayu, tapi kalau sekarang belum musim," kata Surya Atmaja.
Warga Padukuhan Giring, Kalurahan Giring, Kapanewon Paliyan, ini jadi ingat keseruan berburu walang kayu satu tahun silam. "Untuk dikonsumsi sendiri, sebagian lainnya kalau hasil buruan banyak bisa dijual," ujarnya.
Kemudian bapak dua anak ini membagikan tips cara menangkap walang kayu. Bagi kebanyakan orang, menangkap serangga bersayap tidaklah mudah. "Karena walang kayu bisa terbang ke sana ke mari, sulit ditangkap menggunakan tangan," jelasnya.
Karena itu dibutuhkan alat bantu. Peralatan yang digunakan untuk menangkap walang kayu cukup sederhana. Kalau ingin mencoba menangkap cukup menyiapkan sejumlah perangkat biasa. "Ada dua cara menangkap walang kayu," ungkapnya.
Pertama, siapkan sebatang batang kayu atau potongan bambu panjang ukuran sekitar lima sampai enam meter. Di Gunungkidul biasanya walang kayu bertengger di pepohonan cukup tinggi. "Kedua siapkan pulut (lem) oleskan pada bagian ujung kayu atau ujung bambu," ujarnya.
Selanjutnya bagian ujung yang penuh dengan lem tadi, diarahkan ke bagian sayap walang kayu. Memang tidak mudah, tapi kalau terbiasa satu kilogram walang kayu dapat ditangkap dengan gampang. "Cara menangkap walang kayu kedua menggunakan media jaring," terangnya.
Menurut Surya, metode menangkap walang kayu dengan jaring bukan cara dibentangkan. Warga setempat menyebutnya cundit atau saringan ikan. "Cundit diikat di ujung bambu atau kayu. Kalau ketemu walang kayu tiggal diayunkan saja biar masuk ke dalam jaring," bebernya.
Baca Juga: Ini 4 Tempat Glamping Jogja dengan Pemandangan Alam Memukau, Nomor 4 Lagi Hits di Kulon Progo
Tapi bagi Surya, menangkap walang kayu menggunakan pulut dinilai lebih efektif dan efesien. Hemat tenaga, tidak banyak menguras energi. "Itu kalau saya terbiasa menggunakan pulut. Mungkin orang lain ada yang lebih cepat dengan jaring," tegasnya.
Setelah hasil buruan terkumpul, saatnya dimasak. Kuliner walang kayu kebanyakan tersaji dengan cara digoreng garing. "Bagian sayap dan kaki dibuang," ucapnya. (gun/laz)