Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perdagangan Walang Goreng Marak di Gunungkidul, Ismanto Sudah 25 Tahun Jualan dan Bisa Hidupi Keluarganya

Andi May • Senin, 4 Maret 2024 | 14:00 WIB

 

GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

 

RADAR JOGJA - Perdagangan belalang dalam bentuk makanan marak di Gunungkidul. Lihat saja di sepanjang jalan Jogja-Wonosari, berderet para penjual hewan serangga ini menawarkan dagangan. Dari yang sudah digoreng maupun dibacem. Bisa kiloan hingga sudah dalam kemasan toples. Tidakkah khawatir populasi belalang habis, dan apa pendapat pakar serangga soal fenomena ini?

Walang goreng atau belalang goreng, makanan ekstrem khas Gunungkidul memiliki nilai jual yang lumayan tinggi. Tidak sedikit warga menjajakan makanan yang tidak biasa itu dengan harga berubah-ubah tiap waktunya.


Usaha jual walang goreng dapat dijumpai di Jalan Jogja-Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Pedagang walang goreng Ismanto, 58, mengatakan, daya tarik walang goreng mampu memunculkan rasa penasaran pengunjung ataupun yang sekadar melintas di wilayah Gunungkidul.


"Meski makanan ini (walang goreng) sudah dikenal lama, kadang ada konsumen yang masih penasaran terhadap belalang goreng," ujar Ismanto saat ditemui Radar Jogja di lapak dagangannya (23/2).

Pedagang walang goreng di Jalan Jogja-Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.Andi May/Radar Jogja 
Pedagang walang goreng di Jalan Jogja-Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.Andi May/Radar Jogja 


Warga Jeruksari itu mengaku, berdagang walang goreng sejak 1998 atau suah 25 tahun ini. Serangga yang mudah diburu itu ternyata memiliki nilai jual yang tinggi ketika diolah menjadi makanan. "Awal-awal saya menjual, saya akui banyak keuntungan berdagang walang goreng," ucapnya.


Rasa gurih dan renyah, kata Ismanto, menjadi alasan tingginya penjualan usaha dagang walang goreng. Tidak sedikit orang juga menjadikan makanan ini sebagai lauk untuk makanan sehari-hari atau dijadikannya cemilan.


Walang goreng dipatok dengan harga Rp 20 ribu per toples. Namun seiring banyaknya pemburu dan penjual, harga walang goreng pun selalu naik. "Kalau lagi musim saya berani jual Rp 20 ribu per toples. Tapi sekarang lagi tidak musim, saya jual mulai dari Rp 30 ribu," tuturnya.


Ismanto mampu menjual lebih dari 20 toples per hari jika sedang laris. Namun tak jarang juga walang goreng miliknya tidak terjual sama sekali dalam sehari.


Tak tanggung-tanggung, keuntungan penjualan walang goreng dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. "Hasil dagangan untuk kebutuhan di rumah dan alhamdulillah cukup," katanya.


Pria dengan tiga anak itu mengaku, belalang dapat diburu di area perkebunan jagung ataupun di sawah. Namun sudah lima tahun terakhir belalang dalam jumlah banyak sulit ditemukan. "Karena sekarang rata-rata tanaman pada disemprot dan pemburu juga sudah mulai banyak. Jadi sulit didapatkan," jelasnya.


Ismanto juga menuturkan, walang goreng yang dijualnya berasal dari belalang luar daerah seperti Kebumen dan Purworejo. Ia membelinya dari para pemburu. Hal itulah yang membuat walang goreng dipatok dengan harga jual lumayan mahal.


Di lapak berbeda, pedagang walang goreng Andriyani, 32, mengatakan dirinya menggeluti usaha dagang walang goreng sudah lima tahun lama terakhir. Pemilihan lapak di Jalan Jogja-Wonosari, menurutnya, sangat cocok untuk menarik pendatang yang berkunjung di kabupaten ini. "Alhamdulillah meski harganya tinggi, masih ada yang berminat membeli," ujarnya.


Tak berbeda dengan Ismanto, harga walang goreng milik Andriyani juga dijual mulai Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per toples. Ia menuturkan, tingginya harga yang dipatok dikarenakan walang goreng miliknya dibeli dari Pasar Wonosari. "Belalangnya harganya mahal dan pembeli berkurang, makanya harganya tinggi," tambahnya. (cr6/laz)

Editor : Satria Pradika
#Jalan Jogja-Wonosari #walang goreng #kabupaten gunungkidul