RADAR JOGJA - Susilo Joko Pramono bisa dibilang kreatif. Bagaimana tidak, dia mengajak anak-anak di desanya untuk mengumpulkan bambu limbah alat peraga kampanye (APK) Pemilu 2024. Bambu-bambu itu kemudian dibuat rumah pohon dan menjadi area bermain untuk anak-anak itu sendiri.
IWAN NURWANTO, Sleman
Pesta Pemilu 2024 menjadi salah satu momentum yang paling ditunggu masyarakat. Lantaran dalam kegiatan itu masyarakat bisa menyalurkan hak suaranya untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat lima tahun ke depan.
Di sisi lain, kegiatan pemilu nyatanya juga menimbulkan sampah visual. Yakni penggunaan alat-alat peraga kampanye yang digunakan peserta pemilu untuk meraup dukungan dan suara dari masyarakat. Mulai spanduk, poster, hingga baliho yang terpampang nyata di berbagai fasilitas umum.
Risih dengan hal ini, Susilo mempunyai ide agar limbah APK itu bisa memiliki manfaat. Salah satunya dengan dibuat menjadi rumah pohon. Pada kegiatan itu, dia juga mengajak anak-anak agar bisa belajar berkreasi dengan barang bekas.
Susilo mengungkapkan, dalam pembuatan rumah pohon itu mula-mula dia berdiskusi dengan anak-anak tentang konsep yang akan dibuat. Setelah itu baru mulai dikumpulkan bahan dan peralatan yang digunakan untuk membuat rumah pohon.
Dalam proses pembuatan rumah pohon, diakui membutuhkan bahan baku cukup banyak. Sehingga bambu-bambu sisa kampanye pun menjadi sasaran. Limbah pemilu itu pun dicopot memakai tang dan dibawa menggunakan sepeda motor roda tiga miliknya.
“Kami mreteli (mencopot) sisa atribut kampanye yang tidak dibersihkan oleh petugas,” ungkap Susilo kepada Radar Jogja kemarin (20/2).
Warga Padukuhan Kemusuh RT 01/RW.19, Banyurejo, Tempel, ini memiliki misi mengajarkan anak-anak tentang bagaimana memanfaatkan barang bekas. Serta diharapkan nantinya anak-anak juga tahu tentang cara bergotong royong dan mencintai lingkungan.
Baca Juga: PSS Sleman Wajib Menang Demi Keluar dari Zona Bawah Klasemen
Lebih dari itu, dia ingin anak-anak juga bisa tahu tentang arti kata sabar. Sebab dalam proses pembuatan rumah pohon, membutuhkan waktu tidak instan. Ada tahap pemilihan lokasi, berdiskusi tentang konsep, mengumpulkan bahan baku, hingga proses pembangunan.
Terlebih lagi dalam membangun rumah pohon itu juga hanya dilakukan ketika akhir pekan atau saat libur sekolah. Sehingga tidak mengganggu kewajiban anak-anak itu untuk mendapatkan pelajaran di sekolah.
"Anak-anak saya ajarkan memanfaatkan barang bekas agar terpakai lagi, atau alih fungsi supaya lebih panjang manfaatnya," tandas Susilo. (laz)