Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Momentum Imlek, Kue Keranjang untuk Dewa Dapur, Simbol Kerukunan Keluarga

Agung Dwi Prakoso • Selasa, 6 Februari 2024 | 13:00 WIB

 

KHAS IMLEK: Proses pengemasan kue keranjang yang diproduksi di kawasan Tukangan, Danurejan, Kota Jogja, kemarin (1/2).  Permintaan kue keranjang jelang Imlek.GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
KHAS IMLEK: Proses pengemasan kue keranjang yang diproduksi di kawasan Tukangan, Danurejan, Kota Jogja, kemarin (1/2). Permintaan kue keranjang jelang Imlek.GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

 

RADAR JOGJA - Menjelang Imlek, banyak tradisi unik etnis Tionghoa yang dilakukan. Di antaranya adalah hadirnya makanan khas kue keranjang. Tradisi mengonsumsi kue keranjang ini ditujukan kepada Dewa Dapur (Zao Jun).

AGUNG DWI PRAKOSO, Jogja

Dalam mitologi Tiongkok, Zao Jun adalah dewa pelindung tungku perapian (dapur). Zao Jun dipercaya akan kembali ke langit setiap Imlek untuk melaporkan mengenai aktivitas penghuni rumah selama satu tahun. Laporan itu akan menjadi pertimbangan untuk pemberkatan atau malah menghukum penguhuni rumah tersebut.
Kue keranjang bagi kepercayaan Tri Dharma merupakan makanan yang bukan sembarangan. Kue keranjang memiliki makna filosofi yang berkaitan dengan Dewa Dapur.


"Dewa Dapur tugasnya mencatat amal dan baik manusia di bumi. Jadi (karakter) kue keranjang yang lengket itu mempunyai makna agar Dewa Dapur tidak menceritakan amal keburukan atau dosa-dosa kita saat menuju langit," ujar Alfin Hermanto, salah seorang penganut kepercayaan Tri Dharma di Kota Jogja kepada Radar Jogja, kemarin (5/2/).


Kue keranjang memang dikhususkan untuk konsumsi saat momen Imlek. Selain itu, kue keranjang juga merupakan simbol penentu kerukunan yang ditujukan kepada Dewa Dapur. "Adanya kue keranjang itu supaya keluarga kita lebih rukun. Kepercayaan itu menjadi tradisi turun temurun dari nenek," ungkapnya.


Keluarga Alfin selalu membeli kue keranjang saat momen Imlek. Selain itu, keluarganya juga sering diberi bingkisan kue tersebut dari saudara ataupun temanya. "Itu memang makanan khas Imlek. Kalau makannya sih bebas, tidak perlu ada prosesi khusus," tandasnya.


Keluarga Alfin mempunyai tradisi mengonsumsi kue keranjang semalam sebelum Imlek atau 15 hari setelah Imlek. Hari Imlek sampai 15 hari ke depan (Cap Go Meh), mereka tidak boleh memakan kue keranjang. "Lima belas hari setelah Imlek itu tidak boleh makan kue keranjang. Setelah Cap Go Meh, baru boleh makan," tandasnya.


Ketika ditanya alasanya, Alfin menyebut mungkin di 15 hari itu biar lebih fokus melakukan persembahan kepada Para Dewa. "Tradisi di keluarga saya seperti itu," tambahnya.


Menurut Alfin, Imlek merupakan tradisi hari raya etnis Tionghoa. Imlek lebih pada tahun baru China, sehingga seluruh masyarakat Tionghoa merayakannya.


"Jadi bukan hanya perayaan di agama tertentu, tetapi semua agama, karena banyak yang Kristen, Katholik dan sebagainya. Saya sendiri Budha Tri Dharma," jelasnya. (laz)

Editor : Satria Pradika
#kue keranjang Imlek #Tionghoa Jogja #Imlek #Dewa Dapur #Jual Kue Keranjang Jogja