RADAR JOGJA - Pelarian Elwizan Aminudin, dokter gadungan yang pernah bekerja di PSS Sleman, akhirnya terhenti. Aparat Satreskrim Polresta Sleman berhasil membekuk warga Tangerang, Banten ini di Cibodas, Kota Tangerang, Rabu (24/1).
Ternyata Elwizan bekerja tidak hanya di PSS Sleman saja. Tetapi juga di delapan klub sepak bola profesional lainnya di Indonesia, termasuk tim nasional (Timnas). Uniknya, terungkap juga pekerjaan asli tersangka adalah kondektur bus.
Kapolresta Sleman Kombes Pol Yuswanto Ardi menyampaikan, pengungkapan kasus ini berdasarkan laporan dari manajemen PSS Sleman sejak 3 Desember 2021 lalu. Peristiwanya berawal ketika PSS Sleman membutuhkan dokter untuk timnya.
Lantas merekrut pelaku yang berusia 42 tahun itu dan mulai bekerja pada Maret 2020. Ijazah yang digunakan tersangka untuk mendaftar pekerjaan merupakan dokter lulusan Universitas Syiah Kuala Aceh.
Upah yang diterima Elwizan awal-awal Rp 15 juta dari manajemen PSS. "Bahkan tersangka mendapatkan gaji Rp 25 juta per bulan termasuk bonus dibayarkan melalui transfer ke rekening bank atas nama tersangka," katanya kepada wartawan kemarin (30/1).
Elwizan terendus sebagai dokter gadungan ketika November 2021. Saat itu, tersangka diketahui bukan dokter usai manajemen PSS mendapat klarifikasi dari Universitas Syiah Kuala. Merasa aksi jahatnya mulai terendus, tersangka kemudian meninggalkan PSS Sleman pada Desember 2021 dengan alasan pulang ke Palembang karena orang tuanya sakit.
Yuswanto mengatakan, setelah itu pelaku tidak pernah kembali hingga ditangkap. "Akibat kejadian ini, PSS Sleman mengalami kerugian sebesar Rp 254 juta," tuturnya.
Menurutnya, pengungkapan kasus ini dilakukan karena adanya kolaborasi dengan masyarakat. Itu karena ada warga di Jakarta yang melihat unggahan media sosial (medsos) perihal DPO tersangka. Oleh informasi itu diberitahu sehingga dibekuk di Cibodas, Kota Tangerang.
Elwizan dijerat Pasal 263 KUHP dengan ancaman hukuman enam tahun penjara dan atau Pasal 378 KUHP dengan ancaman hukuman empat tahun penjara. Elwizan sendiri hanya tertunduk di hadapan media saat ditampilkan. Dengan kaos orange tahanan Polresta Sleman, pria itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Dalam kesempatan itu, Presiden Direktur PSS Sleman Gusti Randa juga hadir. Dia berterima kasih atas pengungkapan kasus ini. Menurutnya, kerugian yang dialami PSS Sleman itu dari gaji yang dibayarkan kepada pelaku.
Bahkan dikatakan, PSS bukan satu-satunya klub di Indonesia tempat pelaku bekerja. "Saya terima kasih bahwa hal-hal seperti ini kadang-kadang ngerecokin sepak bola. Ketika lagi giat-giatnya membangun sepak bola, tetapi ada aja masalahnya," ujarnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim AKP Riski Adrian menambahkan, untuk modus tersangka melakukan pemalsuan terhadap ijazah dokternya. Pemalsuan dilakukan dengan cara sederhana. "Jadi simpel, ngambil salah satu contoh ijazah di google dia download lantas diedit.
Dimasukkan dan diubah nama dan dimasukkan fotonya," tuturnya.
Dengan cara sederhana itu, Elwizan mengelabui banyak orang karena dianggap sebagai dokter. Riski menambahkan, pekerjaan asli tersangka bukanlah seorang dokter. Dari pendalaman yang dilakukan, pelaku memiliki sejumlah pekerjaan yang tidak ada kaitannya dengan kedokteran.
"Sebelum dia bekerja sebagai dokter gadungan di beberapa tim sepak bola, dia sebagai kondektur bus kota di daerah Tangerang. Itu dilakukan sambil usaha kios dengan jualan kelontong," tambahnya.
Menurutnya, dalam menangani pemain sepak bola yang cedera saat bekerja menjadi dokter gadungan, Elwizan bermodalkan alat pencarian google. Karena memang tidak memiliki pendidikan dan pengalaman sebagai dokter, sehingga bermodalkan mesin pencarian di gawai untuk pengobatan yang dilakukannya.
Elwizan nekat menjadi dokter gadungan dengan memalsukan ijazah memiliki motif ekonomi. Riski mengaku, motif ekonomi karena mencari pekerjaan dengan pendapatan yang lebih tingggi dari pekerjaan sebelumnya.
Parahnya, tim sepak bola PSS Sleman bukan yang pertama menjadi tempatnya bekerja. Riski menyebut, hasil keterangan dan pengakuan pelaku ada sembilan tim sepak bola yang pernah menjadi tempatnya bekerja, termasuk PSS. Bahkan pelaku pernah menjadi dokter Timnas Indonesia dengan latar belakang yang tidak mumpuni.
"Timnya Persita Tangerang, Barito Putra, Timnas U19, Bali United, Madura United, Sriwjijaya FC, kembali ke Timnas U19, Kalteng Putra, PSS Sleman. Itu dari tahun 2013 sampai 2021," ungkapnya.
Riski menuturkan, penangkapan pelaku mengalami kendala hingga menjadi buronan hampir dua tahun lebih, karena sering berpindah-pindah tempat tinggal dari Palembang ke Depok. Penangkapan Elwizan juga terkendala masalah identitasnya yang diubah-ubah oleh dirinya sendiri.
Menurutnya, tersangka mengubah identitas KTP-nya yang beralamat di Palembang menjadi beralamat di Depok. Riski mengungkapkan, anggotanya sempat mengecek ke dinas terkait di Palembang, tetapi sudah berpindah ke Depok. Oleh karena itu menjadi kesulitan dalam penangkapan pelaku. (rul/laz)