Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lewat Seleksi Ketat, Ingin Tuangkan Pengalaman Menjadi Buku

Naila Nihayah • Rabu, 13 Desember 2023 | 04:10 WIB
MENYENANGKAN: Perjalanannya menuju Kepulauan Selayar dipenuhi rasa senang. Selain menelusuri jalur rempah Nusantara, Deka bersama 19 peserta lainnya berkesempatan naik KRI Dewaruci.
MENYENANGKAN: Perjalanannya menuju Kepulauan Selayar dipenuhi rasa senang. Selain menelusuri jalur rempah Nusantara, Deka bersama 19 peserta lainnya berkesempatan naik KRI Dewaruci.

 


RADAR JOGJA - Berlayar menggunakan KRI Dewaruci merupakan impian banyak orang. Apalagi jika hal itu menjadi pengalaman pertama pasti menyenangkan. Itulah yang rasakan Dwi Kuntari, warga Muntilan, Kabupaten Magelang. Ia terpilih menjadi peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah ke Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, yang dihelat Kemendukbudristek. Bagaimana cerita perjalanannya?

NAILA NIHAYAH, Mungkid

Tahun ini bisa dikatakan membawa keberuntungan bagi penjual jamu asal Muntilan ini. Sebab, ia turut serta menjadi rombongan program Muhibah Budaya Jalur Rempah dengan KRI Dewaruci. Dwi Kuntari, menjadi satu dari 20 peserta yang berlayar menyusuri jalur rempah menuju Kepulauan Selayar.


KRI Dewaruci merupakan kapal pelatihan bagi taruna/kadet Akademi Angkatan Laut (AAL). Kapal berusia 70 tahun ini berbasis di Surabaya. Sementara program Muhibah Budaya Jalur Rempah diadakan Kemendikbudristek guna menyusuri jalur rempah Nusantara.


Deka, sapaan akrabnya, mendaftar sebagai peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah karena tertarik dengan rempah-rempah. Apalagi dia sudah menekuni usaha jamu sejak 2016 silam. Sebetulnya dia berkeinginan ikut menyusuri jalur rempah saat program perdana diluncurkan 2021 lalu.
Hanya saja, saat itu, ada persyaratan terkait batasan usia, yakni maksimal 25 tahun. Harapannya untuk ikut, sempat pupus. Kendati begitu, dia tidak berputus asa.


Deka terus berselancar di media sosial Instagram resmi milik Jalur Rempah RI. Berharap akan ada program kedua Muhibah Budaya Jalur Rempah. Akhirnya pada 2023, ada rukrutmen peserta. Dengan batasan usia maksimal 40 tahun, ia pun bisa mengikutinya.

Dok Deka untuk Radar Jogja
Dok Deka untuk Radar Jogja


Selain usia, ada beberapa kriteria peserta yang harus dipenuhi. Mulai dari melampirkan daftar riwayat hidup dan portofolio serta sertifikat prestasi atau kegiatan. Termasuk mengunggah video yang menjelaskan 'kenapa kamu layak ikut Muhibah Budaya Jalur Rempah?'. Berdurasi maksimal 3 menit.


Semula dia tidak memiliki gambaran apapun soal video itu. Namun Deka merasa jika mengunggah video tanpa adanya kreativitas di dalamnya, akan terasa biasa saja. Akhirnya dia meminta pertimbangan temannya soal konten video itu. Termasuk mencantumkan prestasinya.


Dari 535 pendaftar, panitia hanya mengambil 20 orang. Deka pun menjadi satu peserta yang beruntung lolos seleksi rekrutmen. "Seleksinya online. 20 orang itu, rata-rata mahasiswa semester awal, baru lulus kuliah, dan pekerja yang basic-nya kurang mengenal rempah," bebernya (4/12).
Ia menceritakan, rangkaian kegiatan itu dimulai pada 22 November-1 Desember. Sebab, ada pembekalan yang harus diikuti melalui zoom meeting. Kemudian dia baru berangkat menuju Surabaya pada Kamis (23/11). Di sana, ada pembekalan lagi dan perkenalan di hotel.


Ia menambahkan, baru berangkat ke Kepulauan Selayar bersama 20 laskar rempah --sebutan bagi peserta muhibah budaya, pada Sabtu (25/11). Selain itu, ada beberapa orang yang ikut serta dalam pelayaran. Mulai dari rombongan Kemendikbudristek, artis, influencer, hingga jurnalis. Termasuk puluhan awak kapal dari TNI.


Pelayaran menuju Selayar membutuhkan waktu tiga hari. Setiap hari ada kegiatan yang dilakukan. Deka menceritakan, setelah bangun pagi, seluruh awak kapal olahraga bersama. Barulah sekitar pukul 07.00 mulai makan pagi.

 


Bahkan 20 laskar rempah itu dibagi menjadi tiga kelompok untuk menyiapkan makan. Kelompok 1 untuk makan pagi, kelompok 2 menyiapkan makan siang, dan kelompok 3 untuk makan malam. "Setelah sarapan, ada materi. Karena ada peneliti, penulis, dan kru KRI Dewaruci untuk menjadi pemateri," ungkapnya.


Selain tujuan perjalanan untuk mengenalkan rempah khas Indonesia, lanjut Deka, ada beberapa materi soal kemaritiman. Sebab, perjalanan rempah juga berkaitan erat dengan maritim. Kemudian mereka juga memperoleh informasi soal seluk-beluk KRI Dewaruci serta keselamatan saat di kapal.


Deka mengaku senang berlayar menggunakan kapal laut. Karena itu menjadi pengalaman pertamanya. Apalagi KRI Dewaruci. "Katanya, tidak sembarang orang bisa naik (KRI Dewaruci). Saya juga pengen ngobrol sama komandannya. Karena rencana saya mau buat buku," lontarnya.


Meski baru pertama naik kapal, dia tidak merasakan mabuk laut. Entah terlalu bersemangat atau memang dirinya yang kebal terhadap ombang-ambing air laut. Itu tentu menjadi hal yang patut disyukuri. Melihat teman-temannya yang lain, banyak menghadapi mabuk laut.


Deka menyebut, KRI Dewaruci memiliki beberapa lantai. Lantai paling bawah untuk pengoperasian mesin, lantai kedua untuk tempat tidur, dapur, hingga kantin. Sementara di lantai teratas untuk berkumpulnya para peserta dan awak kapal.


Dari rumah ia membawa bekal puluhan jamu untuk disuguhkan kepada para peserta dan awak kapal lainnya. Seperti jahe merah, kunyit asem, kasmaran, maupun seduh rempah senja. Beruntung mereka menyambut baik saat diberi jamu. "Mereka senang banget. Karena banyak mahasiswa yang kurang tahu rempah," ujarnya.


Selama berada di Kepulauan Selayar, rombongan laskar rempah menelusuri jejak peradaban rempah. Utamanya soal olahan kelapa. Seperti obat gosok, dodol, hingga minyak kelapa.


Sebetulnya, lanjutnya, rempah-rempah di Selayar hampir sama dengan di Jawa. Tapi, ada juga yang membedakan. "Di sini (Jawa), tumbuhan kelor yang dipakai daunnya. Di sana (Selayar) justru dipakai bunganya," ujar perempuan 30 tahun itu.


Deka pun tertarik untuk menerbitkan buku yang berdasarkan pengalamannya selama berlayar menelusuri jalur rempah di Kepulauan Selayar. Agar kenangan itu semakin abadi lewat tulisan yang ia goreskan. Termasuk membuat inovasi-inovasi baru untuk produk jamunya agar lebih dikenal luas dan bervariasi.


Selama berlayar banyak pengalaman berharga yang tidak bisa ia jabarkan seluruhnya. Apalagi Deka bertemu banyak orang-orang hebat yang bisa menambah pengetahuannya. "Saya nggak nyangka di sana ternyata ada artis, influencer. Senang banget bisa berbaur tanpa jarak," akunya. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Kabupaten Magelang #kri dewaruci #Dwi Kuntari