Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Waspada, DIJ Punya Potensi Banjir Bandang

Wulan Yanuarwati • Jumat, 8 Desember 2023 | 03:54 WIB
Bocah mandi di Sungai Gajahwong, Kota Jogja, Selasa (5/12).GUNTUR AGA TIRTANA
Bocah mandi di Sungai Gajahwong, Kota Jogja, Selasa (5/12).GUNTUR AGA TIRTANA

 

 

RADAR JOGJA - Pakar manajemen air Universitas Gadjah Mada (UGM) Agus Maryono mengatakan, selama kurun waktu 20 tahun tidak ada banjir bandang di wilayah DIJ. Meski begitu, tetap harus diwaspadai saat musim penghujan. 
"Sampai sekarang ini kira-kira 20 tahun ini ya kita itu belum mendengar ada banjir bandang di DIJ," ujarnya Kamis (7/12).


Agus menilai, apabila dilihat dari jenis sungai di DIJ ada potensi besar untuk banjir bandang. Misalnya saja daerah sungai di Kulon Progo kerap longsor. Kemudian sungai di daerah Sleman yang terkena sumbatan sedimen Gunung Merapi juga berpotensi banjir.
"Di sungai-sungai kecil di sepanjang kota, terutama yang tebing-tebing curam juga perlu diwaspadai. Misalnya di Sungai Code itu tebingnya curam," jelasnya. 


Potensi longsor bisa terjadi di wilayah tersebut. Maka, Agus merekomendasikan agar pemerintah daerah mengecek kondisi sungai secara rutin. Termasuk bersih-bersih sungai dari material yang berpotensi membuat banjir perlu terus digiatkan.


Menyoal sumbatan sungai dari material sampah, Agus menilai sampah sejauh ini tidak sebabkan banjir bandang. Sebab banjir bandang iitu membutuhkan massa yang besar. 
Menurutnya, sampah belum mampu membendung sungai hingga mencapai volume tertentu. Namun potensi banjir biasa akibat sumbatan sampah tak bisa ditampik.
"Jogja sudah bagus ya gerakan sungainya banyak. Perlu ditumbuhkan lagi oleh pemerintah daerah maupun pusat supaya setiap sungai itu ada kegiatan komunitas susur sungai. Kalau tidak ekonomi tidak berjalan ya berhenti lagi," jelasnya. 


Sementara itu, Kepala Pusat Studi Bencana UGM Muhammad Anggri Setiawan mengatakan pentingnya membiasakan diri mencatat dan mengukur hujan. Debit air di sungai perlu dicatat berkala sehingga antisipasi bisa dilakukan.


"Budaya mencatat ini jangan hanya dilimpahkan pada pemerintah tapi kepada desa-desa harus bisa. Kalau hujan melebihi ambang batas ya (warning, Red)," jelasnya.
Dikatakan, di Gunungkidul pun perlu diantisipais. Area yang dulu longsor, samping kanan kiri, kodisi seperti apa. "Apakah sudah mitigasi atau dibiarkan begitu saja, ini yang sering kita lepas," lanjutnya. (lan/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#Universitas Gadjah Mada (UGM) #Potensi Banjir Bandang #sungai code #Agus Maryono