RADAR JOGJA - Mudahnya persyaratan dan tak perlu waktu lama, menjadi pilihan masyarakat khususnya kalangan bawah untuk pinjam bank plecit. Ya, butuh uang kepepet, utang mingguan jadi jalan pintas.
Salah seorang pengelola bank plecit di Kabupaten Purworejo yang tak mau disebut namanya menyampaikan, saat menawarkan pinjaman ke nasabah dilakukan secara door to door. Dikatakan, setiap transaksi ada target pencairan kepada nasabah.
Selain itu, ada pula target tagihan angsuran setiap bulannya. "Untuk bunga kami langsung akumulasikan sebesar 20 persen. Jika utang Rp 500 ribu, nasabah mengangsur Rp 600 ribu," katanya (5/11).
Sementara terkait jangka waktu, ada yang delapan minggu, 10 minggu dan maksimal 12 minggu. Untuk bunga tetap sama, 20 persen. "Nah kalau jatuh tempo tergantung pas saat akad kredit, ada barang yang dijaminkan atau tidak," jelasnya.
Ketika nasabah tidak bisa menjaminkan sesuatu, pihaknya akan tetap memberikan pinjaman. Namun akan ditinjau terlebih dahulu dan dilakukan pendekatan kepada nasabah. "Kami beri arahan agar nasabah sadar dengan tanggung jawab mereka sebagai peminjam," ungkapnya.
Dia mengatakan, batasan atau jangka waktu keterlambatan mengangsur maksimal 15 minggu. Lebih dari itu, nasabah sudah masuk dalam daftar macet dan tidak layak lagi untuk dicairkan pinjaman.
Ditanya terkait alasan memilih profesi itu, dia mengaku sebenarnya hal itu bukanlah suatu pilihan untuknya. Awalnya karena ajakan teman dan lama-lama beradaptasi dengan cara kerjanya itu.
Di Kabupaten Sleman, AA, salah seorang petugas penagihan lapangan bank plecit mengungkapkan terdapat 700 nasabah yang meminjam di koperasi tempatnya bekerja. Ia mengaku para petugas lapangan biasanya di bagi per daerah. "Kalau dulu areanya kecamatan, terus nanti dibagi aku desa mana aja gitu," ujar AA kepada Radar Jogja (5/11).
Ketika sudah dapat nasabah, jika dalam penagihan tidak lancar maka nasabah akan dikenai denda harian. Jika nasabah tidak membayar selama enam bulan, maka jaminan dari nasabah akan ditahan. "Jaminan di koperasi kami bisa BPKB atau surat tanah. Bunga di koperasi kami relatif kecil kok sekitar 2,5-3 persen," ungkapnya.
AA berkecimpung di dunia bank plecit dari tahun 2017. Tentang suka duka menjadi petugas lapangan, ia mengaku kali pertama melakukan penagihan di rumah nasabah langsung dimaki-maki sambil diacungi celurit. "Awalnya tuh takut, gaji gak seberapa tapi nyawa taruhannya. Tapi saya coba diem dulu, terus omong baik-baik," ungkapnya.
Nasabah yang ditemui beda-beda karakternya. Ada nasabah yang sensi-an, ada pula nasabah yang tiba-tiba ngilang, padahal tadinya lagi asyik ngrumpi. "Kalau pas dapet nasabah yang lancar dan baik, ya senang. Tak sedikit yang kasih semangat harus sabar ngadepin nasabah," tambahnya.
Petugas lapangan ini juga mengaku pernah iba dan kasihan dengan nasabahnya karena tidak bisa melunasi pinjaman. Bahkan ia juga sampai ingin melunasi utang dari nasabahnya itu. "Sampai sering kalau di lapangan ketemu masjid berdiam diri, terus nangis saya karena kasihan," tambahnya. (han/cr5/laz)