Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Keuntungan Menipis, yang Penting Muter, Harga Beras Tak Kunjung Turun

Winda Atika Ira Puspita • Jumat, 13 Oktober 2023 | 14:05 WIB

MASIH MAHAL: Pedagang Beras di Pasar Beringharjo Jogja saat melayani pelanggannya kemarin (12/10).Winda Atika Ira P/Radar Jogja 
MASIH MAHAL: Pedagang Beras di Pasar Beringharjo Jogja saat melayani pelanggannya kemarin (12/10).Winda Atika Ira P/Radar Jogja 
 

 


RADAR JOGJA - Harga komoditas beras terpantau tak kunjung turun di Pasar Beringharjo, Kota Jogja. Bahkan beras premium menyentuh Rp 16 ribu per kilogram.  Keuntungan pedagang pun menipis, hal ini diperparah dengan kondisi sepinya pembeli. 


Seorang pedagang, Mentuk mengaku harga beras masih naik. Harga beras paling mahal jenis raja lele yang menyentuh Rp 16 ribu per kilogram. Yang paling murah Rp 13 ribu per kilogram jenis C4. 
"Normalnya dulu Rp 11 ribu, raja lele Rp 15 ribu sekarang Rp 16 ribu. Kalau sudah naik, biasanya angel (susah) turunnya," katanya saat ditemui di Pasar Beringharjo, Kamis (12/10). 


Mentuk menjelaskan, meski terjadi kenaikan beras hal itu tak mempengaruhi kualitas beras yang dijualnya. Kualitas beras tergolong baik dan barang tidak mengalami kelangkaan. "Barangnya gampang, kualitas sae (bagus)," ujarnya. 


Menurutnya, kenaikan berdampak pada jumlah beras yang dibeli oleh pelanggannya. Selain sepi pembeli, pelanggan pun saat ini membeli beras turut dikurangi hingga 50 persen. Praktis keuntungan yang diperoleh juga tak sebanding dengan modal yang dikeluarkan. 
"Sehari kadang (persediaan) satu kuintal. Tapi ya beda, biasanya (pelanggan) beli 10 kg, sekarang hanya 5 kg. Ya, harus balik modal, sekarang laku langsung untuk kulakan lagi. Le kulak saiki dol saiki," jelasnya. 


Pedagang lain Derajat mengatakan hal senada. Permintaan beras saat ini sepi. Kondisi ini terjadi sejak sepekan terakhir. Biasanya dalam sehari permintaan beras rata-rata 1 sampai 2 kuintal. "Sekarang satu sak saja udah untung," tandasnya. 


Derajat menyebut rata-rata beras medium yang dijual di harga Rp 14 ribu-Rp 15 ribu per kg. Harga beras paling murah Rp 13 ribu jenis C4 dan beras Bulog Rp 55 ribu per 5 kg. 
"Ya jalanin saja. Keuntungan lebih kecil nggak masalah, yang penting uangnya muter. Sekarang lagi lesu sekali, raketang cuma buat makan bisalah," terangnya.


Pedagang nasi bungkus keliling Yanti menjadi salah satu yang terdampak terhadap kenaikan harga beras. Dia biasanya menjual 30 bungkus nasi, kini dikurangi menjadi 15 bungkus saja. Biasanya dalam sehari menghabiskan 3,5 kg beras, ditekan menjadi hanya 2 kg saja. Ini karena pembeli juga berkurang, untuk mengantisipasi sisa. 


"Untungnya ya jadi berkurang. Bingung, yang penting laku. Biasanya kalau sak bungkus (untung) Rp 500, jadi Rp 400," ujarnya. 
Pedagang nasi keliling di Kompleks Kepatihan, DPRD DIJ, Dinas Pariwisata DIJ hingga Bank BPD itu tetap menjaga kualitas nasi yang dijual. Meski naik, beras yang digunakan jenis beras medium seharga Rp 14 ribu hingga Rp 15 ribu per kg. 

Gencarkan Operasi Pasar

Pemprov DIJ menggencarkan operasi pasar (OP) untuk merespons harga kebutuhan pokok yang tak kunjung turun, salah satunya beras. OP dilakukan di sejumlah pasar tradisional sebagai upaya menekan harga di pasaran.

Baca Juga: 7.239 KPM Kembali Digelontor Bantuan Beras


Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah DIJ Yuna Pancawati mengatakan, harga beras di pasaran memang masih tinggi. Rta-rata beras medium dibanderol Rp 13.600 dan beras premium Rp 15.100 per kilogram.
"Sebenarnya kita sudah berupaya walaupun memang belum panen bulan ini, panennya dua bulan lalu," katanya saat ditemui di kantornya kemarin (12/10).


Yuna menjelaskan, upaya yang terus digencarkan adalah bantuan pangan melalui OP yang menyasar empat pasar pantauan meliputi Pasar Demangan, Beringharjo, Kranggan, dan Pasar Prawirotaman.
Saat ini masih ada 10 kali giat OP dengan total 259 ton bahan pangan yang difokuskan beras akan disalurkan dan ditargetkan selesai sebelum akhir tahun ini. OP juga akan diselenggarakan di kabupaten/kota se-DIJ. Masing-masing akan mendapat alokasi bahan pangan sebanyak 21 ton.


"Kemudian upayanya juga ada gerakan pangan murah dari DPKP hingga akhir tahun, masih dilaksanakan 20 kali dengan rata-rata 9 ton," ujarnya.


Selain itu, Bulog juga turut serta menekan gejolak harga beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Hingga akhir tahun, beras SPHP Bulog ini tersedia 6 ribu ton. Sejauh ini sudah menyalurkan 3.500 ton beras kepada masyarakat sampai bulan ini.
Upaya lain adanya kios Segara Amarta di Pasar Prawirotaman sebagai upaya penyeimbang harga yang melambung di pasaran. Salah satu bahan pangan yang dijual adalah beras, selain gula, telur dan segala macam. Bahan pangan yang dijual di kios itu sesuai harga eceran tertinggi (HET).


"Kalau pedagang lain menjual harga tinggi, mereka lihat segara amarta kok jual dengan harga rendah, kan menyesuaikan situ mesti. Nah itu untuk penyeimbang kalau harga lainnya tinggi-tinggi," terangnya.


Menurutnya, kenaikan harga beras ini tidak hanya terjadi di DIJ melainkan secara nasional. Penyebabnya musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino. Sementara pemerintah baru mulai mengimpor beras akhir bulan nanti. (wia/laz)

Editor : Satria Pradika
#pasar beringharjo #harga beras