RADAR JOGJA - Terlahir tanpa tangan yang utuh bukan menjadi halangan bagi Trimah, 33, untuk berkegiatan sehari-hari. Ibu satu anak ini bahkan bisa menghasilkan karya-karya batik tulisnya dengan menggunakan kedua kaki.
KHAIRUL MA'ARIF, Sleman
Sudah lebih 10 tahun terakhir Trimah membuat batik tulis. Pekerjaan yang tidak mudah dan tidak semua orang bisa melakukan. Tentunya dalam menghasilkan karyanya itu dia mengandalkan kedua kakinya untuk menggoreskan canting ke sehelai kain.
Saat Radar Jogja mendatangi rumahnya di Minomartani, Sleman, Trimah sedang menyelesaikan garapan batik. Meski dengan kedua kakinya, ia terlihat lihai dalam membuat batik tulis.
Trimah menceritakan, awalnya mulai membuat batik tulis sejak 2010 lalu. Saat itu dia lulus sekolah tingkat SMA. Perempuan berkacamata itu mengikuti pelatihan untuk para penyandang disabilitas dan dia diajarkan membuat batik tulis.
"Selama enam bulan diajarkan, lalu saya belajar lanjutan secara otodidak," katanya Kamis (12/10). Setelah itu, lambat laun hasil karyanya mulai dilirik pembeli. Namun, jumlah pembelinya belum terlalu banyak.
Pada 2014 Trimah mendirikan "Batik Samparan." Menurutnya, nama itu dipilih berdasarkan cara dia dalam menghasilkan karya batik tulis. Awalnya, ingin dinamai "Batik Kaki". Namun ia enggan karena dinilai kurang pas. Akhirnya "Batik Samparan" dijadikan produknya.
Setidaknya membutuhkan waktu dua pekan hingga satu bulan bagi Trimah menyelesaikan batik tulis buatannya. Dia membuat satu karya cukup lama karena disambi mengurus anaknya yang sedang aktif-aktifnya.
Selain itu juga dipengaruhi oleh mood berkarya dan juga pesanan yang dimintakan oleh pelanggannya. Membatik, baginya tidak lebih dari mengisi waktu luang dan menambah pemasukan keluarga.
Toko Batik Samparan milik Trimah tidak memperkerjakan karyawan satu orang pun. Hal itu karena berdasarkan keinginan dan kemauannya selama ini.
"Bagiku karyaku, ya buatanku sendiri. Kalau buatan orang lain, ya karya mereka," tuturnya. Meski terlahir tanpa tangan yang utuh, dia mengaku tidak pernah merasa putus asa. Bahkan sejak semasa sekolah dia tidak pernah minder dengan teman-temannya.
Padahal, lanjutnya, dia selalu mengenyam pendidikan di sekolah umum. Bukan sekolah khusus untuk penyandang disabilitas. Trimah menuturkan, pernah sempat berada satu lingkungan sekolah dengan para penyandang disabilitas. Malah pada momen itu, dia merasa kepikiran dan putus asa dengan kondisinya. Sejak itu dia tidak pernah bersekolah di tempat khusus penyandang disabilitas.
Di rumahnya berjejer rapi beberapa motif batik karya kakinya. Kain-kain itu tergantung pada sebuah jemuran dengan motif dan warna beraneka ragam. Selama ini, batik hasil karyanya hanya dijajakan secara offline meski sesekali secara online.
"Kadang pada beli ke sini, terus yang beli pada ngomong ke teman-temannya, jadi ada konsumen lain yang datang. Gethok tular lah," ucapnya. Selama ini dia tidak pernah meminta bantuan suaminya dalam menghasilkan batik.
Baca Juga: Okupansi Hotel di Sleman Baru Capai 50 Persen
Trimah mengungkapkan, dari beberapa karya Batik Samparan yang dihasilkannya sudah ada yang sampai mancanegara, seperti Jerman dan Jepang. Tentunya, penjualan itu tidak terlalu masif sampai luar negeri. "Bulan ini nanti Batik Samparan yang saya buat juga dipamerkan di New York," jelasnya. (rul)