RADAR JOGJA - Kementerian Agama (Kemenag) RI mendukung pemasangan chattra di atas stupa induk Candi Borobudur. Upaya itu dilakukan guna menyempurkan keagungan Candi Borobudur. Serta dinilai dapat menambah aura spiritualitas umat Buddha.
Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha, Kemenag RI Supriyadi mengatakan, rencana pemasangan chattra Candi Borobudur sudah pernah dibahas. Tepatnya saat rapat koordinasi nasional (rakornas) pengembangan lima destinasi pariwisata super prioritas (DPSP) semester 1 pada Jumat (21/7) lalu.
Kajian soal pemasangan chattra ini bakal terus dilakukan. Kemenag pun sudah berkirim surat kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk merumuskan kebijakan pemasangan chattra. "Karena dari segi keagamaan, hal itu menjadi salah satu penyempurna stupa candi," ujarnya pada Media Gathering Keagamaan Buddha terkait Chattra Candi Borobudur, Selasa (10/10).
Selain itu, pemasangan chattra di atas stupa induk Candi Borobudur, juga dinilai menambah aura spiritualitas umat Buddha. Rencana tersebut, kata dia, tidaklah mudah karena harus berkoordinasi dengan instansi terkait. Sebab, pengembangannya tidak serta-merta menjadi kewenangan dari Kemenag.
Dia menuturkan, rencana pemasangan chattra tersebut saat ini terus berproses. Harapannya dapat segera direalisasikan. Kemenag pun mendukung sepenuhnya pemasangan chattra sebagai pelengkap Candi Borobudur. "Pemasangan ini tidak serta-merta inisiatif dari Kemenag, tapi juga usulan dari umat Buddha," ujarnya.
Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi dan Media Wibowo Prasetyo mengatakan, umat Buddha sudah lama merindukan kesempurnaan pada stupa di Candi Borobudur. Jika diibaratkan sebagai tubuh, chattra sebagai kepala yang kemudian akan melengkapi bagian tubuh di bawahnya. "Sehingga terjadilah kesempurnaan," paparnya.
Dia menyebut, pemasangan chattra ini sebagian besar merupakan harapan dari kalangan umat Buddha. Dengan banyak diskusi dan pertimbangan. Terutama dalam perspektif arkeologi. Hanya saja, dari arkeolog, pemasangan ini harus memerhatikan sisi orisinalitasnya.
Wibowo menyebut, chattra memiliki nilai filosofis yang luar biasa. Terlebih, tokoh dan umat Buddha menginginkan agar chattra itu dapat dipasang. Dengan begitu, dapat menambah kedudukan Borobudur sebagai wisata religi atau tempat peribadatan bagi umat Buddha dunia.
Dia pun meminta kepada Dirjen Bimas Buddha untuk membentuk ruang diskusi yang objektif dan komprehensif. Tapi juga mempertimbangkan banyak perspektif. Utamanya para umat Buddha. Tidak hanya semata pertimbangan arkeologi, tapi juga harus ada pertimbangan teologis dan spiritualitas dari umat Buddha. (aya/pra)
Editor : Satria Pradika