Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Torehkan Karya Street Art, Tak Ingin Salahkan Siapa-Siapa

Dwi Agus. • Rabu, 11 Oktober 2023 | 03:30 WIB
Photo
Photo

 

RADAR JOGJA - Berkat sosok Adit Doodleman, gunungan sampah di kawasan Kotabaru segera dibersihkan oleh DLH Kota Jogja. Di satu sisi dia menuturkan aksinya hanya merespons apa yang dia lihat dan isu yang berkembang di media sosial.

DWI AGUS, Kota Jogja

Saat melintas kawasan Jalan Merbabu Kotabaru itu, dia melihat lautan sampah. Hingga akhirnya Adit tergerak untuk menorehkan sebuah karya street art.


"Awalnya kan lewat Jalan Kleringan, banyak karangan bunga mengucapkan selamat ulang tahun ke-267 untuk Kota Jogja. Aku juga kepikiran dengan adanya sampah di sini," jelasnya saat ditemui di Depo Sampah Kotabaru, Senin (9/10).


Ia mengawali aksinya pada Minggu sore (8/10), tepatnya sekitar pukul 15.00. Tak berselang lama, video langsung diunggah ke media sosial dan viral. Hingga akhirnya Pemkot Jogja melalui DLH membersikan tumpukan sampah pada Minggu setelah Magrib.


Dia meyakini tumpukan sampah tersebut tidak hanya sehari dua hari. Dia memaparkan sampah awalnya terbentang sepanjang 60 meter ke Timur. Sementara untuk ketinggian bervariasi antara dua meter hingga empat meter.
"Juga kepikiran mengucapkan tapi dengan cara lain dengan cara mengingatkan pihak-pihak yang berkepentingan. Paling tidak untuk peduli dengan lingkungan yang ada di sekitar kita," katanya.


Adit menuturkan bukan kali ini saja dia merespons tumpukan sampah. Aksi serupa pernah dia lakukan saat TPST Piyungan ditutup. Konsepnya sama dengan melukis doodle pada media tumpukan sampah.


Keresahan berawal saat salah satu lokasi yang biasa untuk nongkrong telah menjadi tempat sampah dadakan. Alhasil dia merespons dengan menghadirkan sosok Doodleman. Berupa sepasang mata yang seakan mengawasi para warga yang nakal.
"Kali pertama waktu hebohnya warga kebingungan buang sampah karena TPST Piyungan ditutup. Akhirya beberapa titik gang di kota jadi pembuangan sampah massal," ujarnya.


Adit mengaku tak ingin menyalahkan siapa pun. Namun dia berharap semua elemen masyarakat tergerak hatinya. Pemerintah hadir dengan kebijakan yang tepat dan tanggap. Sementara warga menyikapi dengan tidak membuang sampah secara asal.


Dia mendukung TPST Piyungan ditutup. Tujuannya agar pemerintah kabupaten, pemerintah kota dan warganya dapat mengelola sampah secara mandiri. Terlebih saat ini telah banyak contoh pengelolaan sampah yang bisa diadaptasi.

Baca Juga: Tidak Kodal, Viral Sampah Kotabaru Jogjakarta Menumpuk Sepanjang 50 Meter, Tak Diambil sejak Agustus


"Sebenarnya tidak menyalahkan siapa-siapa karena salah kita semua. Salah warga yang tidak bisa mengelola sampah secara mandiri dan pemerintah bingung mengangkut karena TPST Piyungan ditutup," katanya.
Adit Doodleman sendiri adalah seorang guru seni rupa salah satu SMP di Sleman. Dari akun Instagram miliknya, akan terpampang beragam karyanya. Termasuk respons atas tumpukan-tumpukan sampah di Kota Jogja.
"Kalau karakter khusus tidak ada saya, cuma Doodleman itu saja. Mulai jadi seniman, terjun dunia gambar di jalan dari 2005, dari saya SMA. Background sekarang kerja, dulu kuliah di Seni Rupa ISI," jelasnya.


Pemilihan karakter Doodleman dalam setiap karyanya juga memiiki alasan tersendiri. Adit mengaku telah menggambar karakter ini sejak dia masih bocah. Berawal dari coretan di dinding rumah, hingga akhirnya memutuskan jadi karakter tetap dalam setiap karyanya.


Sosok Doodleman ini lalu dia kolaborasikan dalam sebuah street art. Uniknya, media yang dia pilih tidak sepenuhnya dinding atau tembok. Seperti merespons tumpukan sampah sebagai pengganti kanvas torehan cat.
"Ini masuknya street art. Cuma kalau teman-teman fokus tembok, saya merespons ruang publik, salah satunya di sampah. Pemilihan Doodleman sebenarnya kebiasaan dari kecil corat-coret. Sedari kecil coret dinding rumah, kenapa tidak pakai Doodleman saja," kata pria kelahiran 1991 ini.


Pada kesempatan ini, Adit mengajak masyarakat bijak dalam mengelola sampah. Untuk sampah organik bisa diolah melalui sumur biopori. Sementara sampah daur ulang dimanfaatkan agar menjadi nilai ekonomi.
"Di rumah bikin dari beberapa galon, masukkan sampah limbah rumah tangga di situ. Botol plastik kumpulkan di tempat sendiri, lalu jual. Kalau bisa mulai dari sekarang kelola sendiri, dan itu lumayan jadi uang," katanya. (laz)

Editor : Satria Pradika
#DLH Kota Jogja #Sampah Kotabaru #TPST Piyungan