Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sudah Ada 100 Corak, dari Kimia hingga Matematika

Annissa Alfi Karin • Minggu, 8 Oktober 2023 | 01:25 WIB
INOVATIF: Miftahudin Nur Ihsan (kanan) saat menerima penghargaan atas inovasi batiknya bermotif mata pelajaran.
INOVATIF: Miftahudin Nur Ihsan (kanan) saat menerima penghargaan atas inovasi batiknya bermotif mata pelajaran.

RADAR JOGJA - Berbicara batik, ternyata tidak selalu kaku atau menurut pakem. Seorang warga Wirobrajan, Kota Jogja, suskes menjadi pengusaha batik dengan motif-motif tak biasa. Dia Miftahudin Nur Ihsan, 32. Lulusan Pendidikan Kimia UNY 2016 ini banting setir ke dunia batik, tapi tak meninggalkan jati dirinya sebagai alumni ilmu pendidikan.

ALFI ANNISA KARIN, Jogja

Batik ciptaannya terbilang anti-mainstream. Dia mengombinasikan motif batik klasik dengan berbagai tema yang berkaitan dengan mata pelajaran (mapel). Misalnya, motif biologi, kimia, matematika, hingga sejarah, dan bahasa. "Konsep batiknya memang bertema unik. Saat ini sudah ada 100 motif," katanya kepada Radar Jogja, Minggu (1/10).


Ihsan, sapaannya, memulai bisnis batik sejak 2016. Ini dia lakukan saat masih menempuh bangku pendidikan di perguruan tinggi. Berawal dari menjadi reseller perajin-perajin batik. Lalu pada 2018 berhasil membuat perusahaan yang dinamai Smart Batik dengan bermodal keuntungan dari dia menjadi reseller.


Satu tahun setelahnya, sembari fokus pada usaha batiknya, Ihsan juga kembali melanjutkan pendidikannya. Bahkan, saat itu dia menerima pembiayaan beasiswa LPDP.


Seiring berjalannya waktu, relasi demi relasi mulai terbangun. Bahkan hingga di lingkup pemerintahan dan berbagai asosiasi di tingkat nasional. Paling berkesan bagi Ihsan adalah saat dia menerima orderan batik dari Direktorat Jenderal Pajak Pusat dengan tema Kesadaran Pajak.
"Kami kombinasikan motif kawung dan motif logo kesadaran pajak. Jadi, ada tulisan pajak dalam bentuk otak," kata laki-laki kelahiran tahun 1993 ini.


Meski terbilang berhasil, orderan dari Direktorat Jenderal Pajak Pusat itu bukan berarti tak ada kendala. Ihsan mengaku modal di awal merupakan kendala baginya. Ini lantaran lembaga pemerintahan biasanya tak memberikan uang DP.


Pembayarannya juga seringkali dilakukan di akhir. Namun, dia tetap mencoba profesional. Tanpa uang DP, orderan yang diterima Ihsan saat itu berhasil dia selesaikan. "Saya agak pusing mikir biaya produksinya, tapi Alhamdulillah bisa jalan," katanya.


Kini Ihsan telah bermitra setidaknya dengan 50 perajin batik di Jogjakarta dan Jawa Tengah. Dalam sebulan dia juga mampu menjual ratusan hingga ribuan lembar kain batik. Ke depan dia akan terus melalukukan inovasi.
Terdekat, Ihsan akan mencoba mengembangkan malam dari sawit, pengganti dari malam parafin. Selain lebih ramah lingkungan, asap dari pemanasan malam sawit juga dirasa lebih aman bagi pernapasan.


"Kami akan terus bermitra dengan pengelola dana perkebunan kepala sawit untuk terus mensosialisasikan malam sawit itu bisa digunakan. Dan hasilnya lebih bagus daripada malam parafin," ungkapnya. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Kimia #matematika #UNY #Miftahudin Nur Ihsan