RADAR JOGJA - Kota Jogja pada 7 Oktober 2023 ini tepat berusia 267 tahun. Menyandang berbagai predikat, Kota Jogja terus berbenah. Tak hanya sekadar melayani warganya, juga membuat betah para pelajar dan mahasiswa dari luar daerah yang menuntut ilmu di Jogja. Juga memastikan wisatawan lebih lama dan lebih royal berbelanja di Jogja.
Matahari perlahan mulai meredup panasnya, saat Yana bersama temannya berswafoto dengan latar Tugu Pal Putih. Niatnya untuk bisa mendekat ke ikon Kota Jogja itu diurungkan melihat ramainya arus lalu lintas sore itu. Dia ingin mengenang waktu kuliahnya dulu yang bisa sampai berfoto menaiki Tugu. "Kayaknya sekarang sudah enggak boleh ya, ada pagarnya," katanya setengah bertanya.
Sebagai pekerja di Jakarta yang tengah bertugas di Jogja mengunjungi kawasan Tugu Jogja menjadi salah satu yang diniatkan. Tak punya banyak waktu untuk berlibur, dia pun bereuni dengan teman-temannya sewaktu kuliah, yang masih ada di Jogja. Dibandingkan hampir 20 tahun lalu, saat masih kuliah, Kota Jogja sudah banyak berubah. "Masih ngangenin, cuma sekarang mulai macet," tutur warga Pandeglang, Banten itu.
Bagi warga Kota Jogja sendiri, berbagai predikat mulai dari kota pendidikan, wisata hingga budaya harus bisa berdampak pada kesejahteraan warganya. Warga Pringgokusuman Irwan Yunianto mencontohkan sumbu filosofi yang belum lama ini disahkan oleh UNESCO menjadi warisan budaya dunia.
Namun, dia berharap pemerintah tak hanya menyoroti soal sumbu filosofi saja. Berbagai potensi wisata yang ada di wilayah juga diharapkan tak luput dari perhatian."Untuk wilayah pendukung seperti di tempat kami khususnya di Gedongtengen ada bebrapa warisan budaya dan cagar budaya yang mungkin juga membutuhkan dukungan dana untuk perawatannya," katanya.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Jogja Wahyu Hendratmoko menyadari hal itu. Tantangan bagi pemkot adalah meningkatkan atau setidaknya mempertahankan capaian jumlah kunjungan wisatawan, lama tinggal wisatawan, hingga besar belanja wisatawan. Wahyu memastikan, secara keseluruhan ketiganya telah melampaui target. Misalnya, jumlah kunjungan wisatawan ditargetkan mencapai 1,8 juta orang.
Namun, hingga September 2023 jumlah kunjungan telah mencapai 3 juta orang. Lama tinggal wisatawan yang ditargetkan hanya 1,7 hari, tapi nyatanya telah mencapai 1,82 hari. "Begitu pula dengan besar belanja wisatawan yang ditargetkan rerata Rp 1,8 juta, kini telah mencapai Rp 2 juta per orang," katanya.
Dia menyebut, karakter pariwisata Kota Jogja memang tak berdasarkan pada keindahan bentangan alam. Namun, daya tarik wisata lebih mengarah kepada keanekaragaman potensi budaya. Pihaknya berupaya menangkap setiap potensi budaya di wilayah menjadi potensi pariwisata.
Menurutnya, beberapa wilayah di Kota Jogja masih eksis menggelar ritual budaya, seperti misalnya merti desa, merti kali, merti kampung, merti bocah, dan sebagainya. Dia mendorong setiap ritual-ritual budaya itu bisa digelar dengan konsisten. Termasuk di dalamnya menyangkut konsistensi waktu, venue, juga tema. “Sehingga menambah line up alternatif aktivitas wisatawan yang bisa dilakukan oleh wisatawan,” kata Wahyu.
Sementara itu, sumbu filosofi yang diresmikan oleh UNESCO belum lama ini juga menjadi daya tarik yang kuat bagi sektor pariwisata di Kota Jogja. Ini menjadi perwujudan tata kota yang didasarkan pada filosofi kehidupan manusia sejak lahir hingga tutup usia.
Baca Juga: Puluhan Angkringan Tumplek Blek di Pasar Ngasem, Semarakkan HUT Ke-267 Kota Jogja
“Sependek pengetahuan saya mungkin belum pernah ada, sehingga orang akan menjadi penasaran, melihat secara langsung seperti apakah tata kota yang mendasarkan pada perjalanan kehidupan seseorang dari mulai lahir sampai dengan mati,” tutur Wahyu.
Tak mau menyiakan peluang yang ada, Dinas Pariwisata Kota Jogja gerak cepat membuat paket wisata cosmoligical eksist untuk bisa dinikmati wisatawan. Dikemas dengan story telling yang menarik. Upaya ini diharapkan bisa turut andil .
Penjabat Wali Kota Jogja Singgih Raharjo menyebut destinasi wisata di Kota Jogja menitikberatkan pada sisi kebudayaan. Meski tak punya bentangan alam, Singgih optimistis pengembangan di sektor pariwisata tetap bisa dilakukan. Misalnya, dengan melakukan optimalisasi keberadaan kampung-kampung wisata yang ada di Kota Jogja.
“Bertumbuhnya kampung-kampung yang ada di kemantren atau kelurahan menjadi destinasi yang bisa mengungkit produk UMKM dan ekonomi kreatif yang ada di kampung itu,” ujar Singgih.
Bergulirnya pariwisata akan turut serta menciptakan kesejahteraan masyarakat. Baginya, pergerakan wisatawan akan memberikan multi player effect. Untuk itu, pembinaan bagi para pelaku pariwisata terus dilakukan.
Selain untuk menonjolkan kekhasan dan keunikan masing-masing kemantren maupun kelurahan, pembinaan juga dilakukan untuk menyiapkan destinasi wisata jika sewaktu-waktu dikunjungi wisatawan.“Ukuran keberhasilannya kampung wisata kan punya keunikan. Mereka siap menerima kapanpun itu, siap menerima kunjungan wisatawan,” kata Singgih. (isa)
Editor : Heru Pratomo