Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Konsep Penataan 3M Tak Sekedar Hadirkan Estetika

Winda Atika Ira Puspita • Minggu, 1 Oktober 2023 | 00:52 WIB
Photo
Photo

RADAR JOGJA - Pembangunan dengan konsep 3M yaitu mundur, munggah madhep kali (mundur, naik dan menghadap sungai) untuk menata hunian warga bantaran sungai di Kota Jogja, menjadi konsep yang tepat. Di samping bisa menambah estetika, juga mendorong pembangunan secara luas ke depannya.


Pengamat tata kota Ir Ikaputra mengatakan, penataan tak hanya berimplikasi soal estetika, melainkan fungsi air dalam sungai itu sendiri. "Jadi tidak sekadar estetika, estetika pasti. Fungsi yang jelas bahwa fungsi sungai," katanya kepada Radar Jogja (10/9/23).


Anggota Dewan Kehormatan Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI) ini menjelaskan, ada tujuh sungai di Jogja yang di-support oleh pemerintah setempat menggunakan konsep 3M untuk menata warga bantaran. Ini penting karena sungai dinilai merupakan alam yang sejatinya bisa dinikmati.


Demikian pula kawasan bantaran merupakan kawasan yang rawan kemungkinan longsor, banjir sehingga perlu adanya antisipasi. Dengan cara mundur dari tepi sungai, yang sesuai tata ruang atau tata lingkungan sepanjang 15 meter.
"Itu (3M) prinsip yang sangat luar biasa. Sebenarnya dari dulu sudah ada prinsip mundur. Sehingga dari dulu tanpa harus mengatakan mundur itu sudah tidak diperbolehkan menempati tempat di pinggiran sungai yang disebut wedi kengser," ujarnya.


Setelah mundur, harus munggah karena kebanyakan keberadaan sungai di kota sudah padat penduduk. Munggah berarti ke atas agar efisien dalam penggunaan lahan yang ada. Sehingga penataan ke atas ini bisa dimungkinkan lebih dari satu lantai, bahkan bisa lebih dari tiga lantai jika memiliki desain yang menarik dan sesuai.
"Selama itu juga mengifisienkan ruang, sehingga kita punya ruang yang mundur akibat kita memiliki kewaspadaan terhadap alam, sungai. Itu akan jadi bagus sekali," jelasnya.


Menurutnya, selama ini yang orang anggap sungai adalah bagian belakang rumah atau belakang kota, hal itu salah. Sungai merupakan alam yang indah jika ditata, dan akan terlihat estetikanya.
"Apalagi kalau kita punya namanya hamemayu hayuning bawana. Bawana itu kan alam, sungai gunung kan alam. Pasti dulu sungai itu keren banget, jangan dibelakangi," terangnya.


Maka kemudian menjadi madhep kali atau menghadap ke sungai. Sehingga perlu dimundurkan dan dinaikkan agar sungai bisa lebih dihargai. Ketika hunian warga sudah menghadap ke sungai, akan ada banyak tujuan. Praktis akan mendorong warga menjaga kebersihan, karena menjadi wajah depan rumah mereka.


"Ketika dia menghadap kali ada banyak tujuan. Masa kalau menghadap kali, kalinya kotor. Gak risi? Tapi kalau kita membelakangi kali kan belakang saya gitu kan. Tapi kalau madhep kali mestinya risi, masa alam kita dikotori kita sendiri, nggak pernah mau bergerak untuk membersihkan," tandasnya.


Dia menyebut konsep 3M ini seperti di banyak negara dengan nama riverfronf. Salah satu daerah paling mahal ada di Paris, Prancis. Kemudian Sungai Thames di London, wisata Wina kota artistik di tepi Sungai Danube Austria. Kemudian Sungai Main di Frankfurt maupun di Kalimantan yang diklaim banyak kota sungai.
"Nah sungai ini menjadi bagian karena ada beberapa bagian sungai yang sudah bagus dipakai untuk jogging. Oleh karena itu, konsep Jogja ini luar biasa kalau dilaksanakan," tambahnya.


Diharapkan model seperti di Gemawang yang dimundurkan lalu dinaikkan ke atas bisa menjadi awal. Atau di Terban yang warganya sudah sepakat ditata demikian.
"Insya Allah akan didukung banyak orang, termasuk perguruan tinggi. Kalau saya masukannya pemerintah memfasilitasi, kan ada sekian banyak jurusan arsitektur dan sipil," tambahnya.


Dengan konsep ini, menurutnya, akan dapat mendorong pembangunan jangka panjang tidak hanya masalah estetika, melainkan fungsi dari sungai itu sendiri. Tak kalah penting mendorong pembangunan sumber daya manusia (SDM)-nya atau masyarakat itu sendiri dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik menjaga lingkungan sekitarnya.
"Kalau lingkungannya baik, biasanya mampu mendukung keberlanjutan kawasan. Kalau ditata mengikuti mundur munggah madhep kali dan mengikuti aturan, sehingga tertib. Ketika orang mengikuti aturan insya allah akan menjadi tertib sungainya, kehidupannya, dan sebagainya," tandasnya. (wia/laz)

Editor : Satria Pradika
#Kota Jogja #Gemawang #sungai