Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Aus Bukan karena Usia tapi Intervensi Pengunjung

Wulan Yanuarwati • Senin, 7 Agustus 2023 | 15:05 WIB
Pemerintah membatasi jumlah pengunjung yang naik ke bangunan Candi Borobudur.
Pemerintah membatasi jumlah pengunjung yang naik ke bangunan Candi Borobudur.

RADAR JOGJA - Pemerintah membatasi jumlah pengunjung yang naik ke bangunan Candi Borobudur. Kapasitas pengunjung yang bisa naik ke candi tidak boleh lebih dari 1.200 per hari atau sekitar 300 ribu orang per tahun.


Meski begitu, kunjungan ke kawasan Borobudur tidak dibatasi. Pembatasan terfokus pada kunjungan yang naik ke bangunan atau struktur candi. Selain dibatasi, pengunjung naik ke atas candi juga diwajibkan menggunakan sandal upanat, sudah termasuk dalam biaya tiket masuk candi. "Dari segi konservasi bangunan, memang yang dikhawatirkan semakin banyak yang naik akan membuat batunya aus. Ausnya bukan karena usia, tapi karena pengunjung. Karena banyak dipijak," ujar arkeolog Ayu Dipta Kirana Minggu (6/8/23).


Dikatakan, pembatasan naik ke puncak candi sebetulnya sudah wacana lama, bergulir sejak 2013. Berdasarkan kajian, jika terlalu banyak pengunjung naik ke puncak candi dapat menyebabkan bangunan mendapatkan tekanan yang sangat masif.


Apalagi jika jutaan pengunjung naik ke atas candi setiap tahunnya. Pasti berpengaruh terhadap kondisi bangunan yang sudah menjadi heritage world oleh UNESCO itu."Kerusakan bukan karena usia yang lama tetapi ada intervensi dari pengunjung. Ada yang kemudian, misal pakai sepatu jinjit, hak tinggi (high heels), itu menekan batu candi. Walaupun sudah ada penguatan di batu, tetap saja riskan," tambahnya. 


Kekhawatiran yang sudah lama muncul, tidak bisa serta merta dilakukan dengan kebijakan pembatasan sepihak. Perlu sejumlah diskusi panjang karena jika berkaitan dengan Candi Borobudur, maka banyak pihak yang harus dilibatkan. 


Berkenaan dengan Candi Borobudur, banyak stakeholders terlibat dengan banyak pemikiran. Dari sisi ekonomi, pembatasan akan mengurangi pemasukan dan berpengaruh kepada kesejahteraan warga.


Di sisi lain, menyoal cagar budaya diharapkan bisa memberikan nilai manfaat. Tidak hanya sebatas pada keilmuan arkeologi saja. Namun juga sisi ekonomi maupun sosial. 


Selama ini dari pengelola sudah meminimalisasi kerusakan akibat kunjungan jutaan wisatawan. Beberapa metode yang dilakukan dengan membuat sejumlah wahana di kawasan Borobudur, agar arus wisatawan dapat dipecah.


Namun banyaknya kunjungan tidak bisa dibendung. Ribuan orang naik ke candi setiap harinya. Kondisi ini secara pasti memberikan pengaruh pada bangunan candi karena mendapatkan banyak tekanan. Apalagi permasalahan tidak berhenti di situ, vandalisme juga kerap terjadi di struktur bangunan Candi. "Ada vandalisme, mancik-mancik (memanjat) stupa karena mitos pegang bisa dapat rezeki. Itu bisa membahayakan pengunjung dan bagi candi," ujarnya. 


Hal yang tidak kalah penting adalah status heritage yang diberikan oleh UNESCO. Status itu tidak selamanya melekat. Bisa dicabut apabila dalam pengelolaan asal-asalan.


Ekploitasi terhadap benda cagar budaya dapat merusak bukan hanya bangunan, namun esensi  sejarah peninggalan nenek moyang. Apalagi jika usianya sudah ribuan tahun. "UNESCO selalu memantau karena label heritage. Mana situs yang terancam ketika pengelolaan tidak baik dan sesuai kaidah konservasi, maka gelar heritage bisa dicabut," tegasnya. 


Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengatakan, kapasitas pengunjung naik ke puncak Candi Borobudur sudah dihitung. Ditentukan tidak lebih dari 1.200 orang per hari. "Sudah dihitung untuk naik ke atas jumlahnya tidak bisa melebihi 1.200 per hari atau sekitar 300 ribu orang per tahun," ujarnya saat Weekly Brief with Sandi Uno di Jakarta (24/7). (lan/laz)

Editor : Satria Pradika
#Candi Borobudur #Magelang #UNESCO