Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Minimalisasi Keausan Batu Candi Borobudur, Batasi 1.200 Orang Per Hari

Naila Nihayah • Senin, 7 Agustus 2023 | 14:20 WIB
ANTUSIAS: Pada kajian lapangan terbuka, para pengunjung diperbolehkan naik ke struktur Candi Borobudur dengan sejumlah ketentuan. Termasuk penggunaan sandal upanat dan pendampingan dari pemandu wisata
ANTUSIAS: Pada kajian lapangan terbuka, para pengunjung diperbolehkan naik ke struktur Candi Borobudur dengan sejumlah ketentuan. Termasuk penggunaan sandal upanat dan pendampingan dari pemandu wisata

RADAR JOGJA - Pertengahan 2022 lalu pemerintah menetapkan jumlah kunjungan wisatawan yang diperbolehkan naik ke struktur Candi Borobudur. Hal itu selaras dengan kajian physical carrying capacity oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Kapasitasnya 1.200 orang per hari atau 150 orang dalam satu waktu.


Sebab konservasi menjadi hal mendesak yang perlu diterapkan. Demi menjaga kelestarian dan memperpanjang usia Candi Borobudur. Karena sebelum diterapkan pembatasan, wisatawan bebas naik-turun ke struktur candi. Hingga menyebabkan bebatuan di relief dan tangga candi tergerus beberapa sentimeter dari kondisi semula.


Hal itu dipicu akibat gesekan alas kaki para wisatawan dan faktor alam. Museum dan Cagar Budaya (MCB) Borobudur telah melakukan penghitungan tingkat keausan di Candi Borobudur sejak 1984. Keausan itu tergantung dengan banyaknya jumlah pengunjung yang naik ke struktur candi. Yang mulai terjadi pasca pemugaran kedua tahun 1984 hingga 2020 atau sebelum penutupan candi.


Pegawai MCB Borobudur Mura Aristina mengatakan, carrying capacity Candi Borobudur tidak hanya sekadar daya dukung bangunan. Melainkan lebih dari itu. Dulunya, Candi Borobudur bisa dinaiki 5.000 wisatawan dalam sekali waktu. Bangunan tetap kuat. Hanya saja perlu diperhatikan beberapa aspek jika berbicara soal konservasi.


"Misal kita berdiri bertiga, di sebelah kiri Anda ada relief dan sedang bercanda, lalu saya terdorong padahal Anda bawa payung, tas, dan sebagainya bisa memukul (menyenggol, Red) relief. Sedangkan banyak relief yang sudah lapuk atau aus. Itulah yang menjadi carrying capacity,” ujarnya saat ditemui Minggu (6/8/23).


Terlebih, kata dia, ketika wisatawan mengenakan alas kaki seperti sandal maupun sepatu, hentakan tersebut akan menimbulkan bebatuan candi semakin aus. “Ibarat kata, lift bisa muat berapa? Sesak-sesakan tidak apa-apa. Tapi dalam hal ini, ruang di Candi Borobudur jangan sampai berpotensi menyenggol relief. Jangan sampai itu terjadi,” tambahnya.


Dia menyebut, hal-hal semacam itulah yang jarang dipahami banyak orang. Padahal beberapa penelitian menunjukkan bahwa persentase keausan batu Candi Borobudur pada tangga sisi barat sebesar 63,39 persen dan utara 27,84 persen. Sedangkan persentase keausan rata–rata batu penyusun struktur tangga pada sisi selatan 30,96 persen.


Dengan begitu, penggunaan alas kaki khusus dinilai berpotensi untuk meminimalisasi tingkat keausan yang terjadi pada bebatuan candi. Tentunya dengan beberapa kriteria, seperti jenis material bahan yang digunakan. Di sisi lain, banyak perilaku pengunjung yang melanggar aturan. Seperti duduk di atas bebatuan, aksi vandalisme atau membuat coretan, hingga meletakkan permen karet di bebatuan.


Setelah mempertimbangkan beberapa aspek, wisatawan akhirnya bisa naik ke struktur Candi Borobudur dengan sejumlah pembatasan. Pada periode 1-15 Maret 2023, PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko mengambil langkah untuk melakukan kajian lapangan tertutup dengan random sampling. Uji coba itu berjalan sukses dan menuai respons positif.


Kemudian mulai 22 Maret 2023 hingga saat ini, TWC melakukan kajian lapangan terbuka untuk umum. Program ini mengedepankan nilai-nilai edukasi yang menjadi added value bagi pengunjung. Terlebih, banyak sekali pesan yang terselip lewat relief-relief Candi Borobudur. Baik mengenai outstanding universal value, quality tourism, sustainable tourism, hingga conservation.


Seorang warga Sambeng, Borobudur, Aziz Dwi mendukung upaya yang dilakukan pengelola dalam hal pembatasan naik ke struktur candi. Dia menilai, saat ini animo wisatawan yang ingin naik ke candi juga cukup tinggi. Lantaran pengelola sempat menutup akses naik ke Candi Borobudur. Sehingga membuat wisatawan tertarik untuk datang ke Borobudur dan kawasannya.


Dia menyebut, pembatasan wisatawan naik candi sudah menjadi kajian dan ditetapkan dari pemerintah, yakni 1.200 orang per hari. Termasuk pemberlakuan tarif untuk naik candi. "Saya rasa tiket untuk naik candi Rp 150 ribu itu masih wajar. Apalagi wisatawan juga mendapat sandal upanat dan tour guide. Ada pemberdayaan masyarakat di dalamnya,” katanya.


Kendati demikian, aspek spiritualitas pada Candi Borobudur harus tetap diperhatikan. Karena keberadaan candi peninggalan Dinasti Syailendra itu sejatinya dibangun untuk mendukung kegiatan kegamaan umat Buddha. "Mungkin dari pengelola juga sudah mengatur prosedur operasional standar (SOP) terkait itu. Harapannya, Candi Borobudur akan tetap lestari,” tambahnya. (aya/laz)

Editor : Satria Pradika
#mcb #candi #TWC #Candi Borobudur #orang #Borobudur #Kemendikbudristek #Wisatawan