Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lembutnya Tiwul Lava Merapi, Kudapan Lawas yang Diminati dan Bisa Untuk Nostalgia

Naila Nihayah • Jumat, 4 Agustus 2023 | 21:46 WIB
LEGIT: Tiwul kreasi Mura Aristina ini sudah dikenal oleh masyarakat sekitar. Termasuk pesanan dari sejumlah hotel dan instansi di Kabupaten Magelang. (Naila Nihayah/Radar Jogja)
LEGIT: Tiwul kreasi Mura Aristina ini sudah dikenal oleh masyarakat sekitar. Termasuk pesanan dari sejumlah hotel dan instansi di Kabupaten Magelang. (Naila Nihayah/Radar Jogja)

 

MUNGKID - Tiwul, salah satu kudapan yang terbuat dari singkong, masih diminati sejumlah orang. Keberadaannya pun sudah jarang ditemui di kota-kota besar. Hanya beberapa lapak di pasaran yang menjualnya. Sebab, tiwul termasuk kudapan khas zaman dahulu dengan parutan kelapa.

Meski begitu, tiwul masih memiliki peminat. Tak jarang, banyak yang ingin merasakan tiwul untuk sekadar bernostalgia. Entah dari buatan simbah atau ibunya.

"Peluangnya luar biasa, bagus sekali. Sekarang orang kalau ada hajatan atau pertemuan-pertemuan gitu, sudah banyak yang menggunakan tiwul," ujar Mura Aristina saat ditemui Jumat (4/8).

Mura bersama sang istri, Linda Purwaningsih, sudah menjalankan usaha ini sejak Agustus 2020 atau saat pandemi. Kendati demikian, kondisi itu tak menyurutkan semangatnya untuk terus berkreasi. Hingga menghasilkan olahan tiwul yang memiliki tekstur lembut itu.

LEGIT: Tiwul kreasi Mura Aristina ini sudah dikenal oleh masyarakat sekitar. Termasuk pesanan dari sejumlah hotel dan instansi di Kabupaten Magelang. (Naila Nihayah/Radar Jogja)
LEGIT: Tiwul kreasi Mura Aristina ini sudah dikenal oleh masyarakat sekitar. Termasuk pesanan dari sejumlah hotel dan instansi di Kabupaten Magelang. (Naila Nihayah/Radar Jogja)

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa peminat tiwul cenderung pasang surut. Ada waktu-waktu dimana akan banyak pembeli maupun sepi. Kondisi tersebut, kata dia, sudah menjadi risiko ketika memutuskan untuk berwirausaha. Tapi, Mura tak kehabisan akal dengan menggandeng biro perjalanan untuk merekomendasi produknya kepada pengunjung.

Dibanding tiwul lainnya, produk milik Mura ini cenderung berbeda. Bentuknya menyerupai gunung yang diberi gula jawa cair. Seolah-olah gunung itu mengeluarkan lava dari puncaknya. Tak heran jika produknya diberi nama Tiwul Lava Merapi.

Proses pembuatan tiwul ini memakan waktu sekitar sepuluh menit. Tepung gaplek atau singkong yang sudah siap, lantas dikukus. Tapi, bagian tersulit adalah proses pemilahan tepung yang sudah dicampur dengan air. Jika teksturnya keras akan dibuang, sedangkan yang bertekstur lembut akan dimasak.

Selain itu, saat ini, ia tengah mendalami ilmu Gastronomi. Karena ada salah satu relief Candi Mendut yang berkaitan dengan proses pembuatan tiwul. Hal itu, kata dia, akan menambah tingkat promosi dan daya tarik dari tiwul buatannya. Sehingga nantinya, ketika orang membeli tiwul, akan diberikan narasi soal relief di Candi Mendut tersebut.

Toko yang berada di Dusun Bumen, Kembanglimus, Borobudur ini menyajikan aneka rasa tiwul. Seperti original yang dibanderol dengan harga Rp 20 ribu. Kemudian, gula jawa, coklat, dan keju dengan harga Rp 25 ribu. Lalu, rasa gula aren, coklat keju, gula jawa keju, pisang coklat, kopi gula aren, dan milo Rp 27 ribu.

Selain itu, ada juga varian rasa campuran antara pisang, coklat, keju, dan gula jawa yang dijual dengan harga Rp 28 ribu. "Kami di sini tiwul (dengan kreasi) baru. Ya percaya diri aja karena memang rasanya sebanding dengan harga yang ditawarkan," kelakarnya.

Ia menjadi salah satu pelaku UMKM yang beruntung mengikuti gelaran Tour de Borobudur (Tdb) pada 6 Agustus 2023 mendatang. Yang bakal dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. "Pak Ganjar itu sudah beberapa kali mencicipi tiwul buatan saya. Beliau juga memberi kesan yang baik," imbuhnya.

Mura berharap, gelaran event bagi para pesepeda itu bisa menjadi satu ajang untuk mempromosikan produknya. Ini agar tiwul buatannya lebih dikenal oleh masyarakat secara luas. Tidak hanya di Kabupaten Magelang, tapi juga luar daerah.

Selain itu, dia berharap, bisa mempertahankan kualitas dan cita rasa tiwul miliknya. Dengan begitu, permintaan akan semakin tinggi yang dapat berimbas pada peningkatan omzet. Bisa memberdayakan masyarakat juga. "Ini salah satu cara kami mengisi kemerdekaan. Tidak menggantungkan siapa-siapa, tapi kami bisa berdikari," tegasnya. (aya)

Editor : Amin Surachmad
#tiwul #lava merapi #UMKM #tour de borobudur 2020