Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

HB X: Kalau Tak Dipaksa Tidak Jalan

Fahmi Fahriza • Selasa, 1 Agustus 2023 | 14:10 WIB

Persoalan Sampah Bisa Merusak Citra Jogja.
Persoalan Sampah Bisa Merusak Citra Jogja.

 

RADAR JOGJA - Persoalan sampah telah selesai dilakukan, kewenangan dikembalikan ke kabupaten/kota. Gubernur Hamengku Buwono (HB) X meminta saatnya masyarakat mengurangi produksi sampah di hulu untuk mengurangi beban TPST Piyungan Bantul yang kelebihan kapasitas.


Gubernur mengatakan, penanganan sampah sudah diserahkan kepada wilayah kabupaten/kota. Sejatinya tiap wilayah sudah harus melakukan penanganan sampah secara mandiri. "Pokoknya kewenangan ke kabupaten/kota," katanya di Kompleks Kepatihan Jogja, Senin (31/7/23).


Terlebih, saat ini usia TPST Piyungan sudah semakin singkat karena tidak ada pengurangan volume sampah dari hulu. TPST itu pun terpaksa mengalami penutupan hingga 45 hari.


Kebijakan penutupan itu diharapkan dapat menggerakkan kabupaten/kota untuk aktif mengolah sampah di wilayahnya. "Kalau sekarang kan masalahnya kalau tidak dipaksa, kabupaten itu tidak jalan. Jadi memang ditutup, dipaksa," ujarnya.
Sebelum kebijakan ini beredar, HB X sudah memberikan izin pemanfaatan tanah kas desa (TKD) di wilayah sebagai tempat pengolahan sampah oleh pemerintah kabupaten/kota. Namun, belum ada realisasinya sampat saat ini. Terpaksa, kebijakan itu ada melihat kondisi TPST Piyungan yang sudah kelebihan kapasitas.


"Kami sudah memberikan izin tanah desa untuk membuang sampah, tapi tidak dibuat. Sudah dua tahun lalu. Baru empat bulan lalu (diperingati TPST Piyungan), begitu kami kasih surat saya tutup, grobyakan. Ya gitu, kita sudah biasa begitu," jelasnya.


Saat ini TPST Piyungan sudah dibuka secara terbatas. Namun baru menerima pembuangan sampah dari Kota Jogja dengan kuota 100 hingga 200 ton per hari. Sementara untuk Kabupaten Sleman dan Bantul dikelola secara mandiri.
"Mereka sudah punya (tempat pengolahan sampah) sendiri-sendiri. Akhirnya kan mau begerak. Kalau nggak dipaksa rodok (agak) otoriter ternyata tidak mau juga. Masalahnya hanya di situ saja," terangnya.


Permasalahan sampah berpengaruh terhadap seluruh lini kehidupan. Tak hanya masalah kesehatan saja, namun juga kepada citra Jogja sebagai kota pariwisata unggulan di Indonesia.


Diketahui, ditutupnya TPST Piyungan selama 1,5 bulan terhitung 23 Juli hingga 5 September 2023, menyebabkan banyak sampah bertumpuk. Baik di ruas jalan, tanah kosong maupun tempat wisata seperti di kawasan heritage Kobabaru.
Pakar Kepariwisataan Damiasih tidak menampik hal itu. Masalah sampah mempengaruhi citra Jogja, bisa menurunkan minat wisatawan datang. Maka, harus segera diselesaikan.


"Of course (tentu, berpengaruh kepada citra, Red) karena Jogja tujuan wisata. Memang sebagai kota tujuan wisata tidak terlepas dari masalah, tapi kan kita harus menjual, gak mungkin membunuh imej," ujarnya Senin (31/7/23).
Damiasih mengatakan Kota Jogja tidak hanya dikunjungi saat akhir pekan saja. Sebagai tempat kunjungan unggulan pariwisata di Indonesia, hampir setiap hari selalu ada kunjungan wisatawan. Jadi setiap saat memang harus bersih, sesuai sapta pesona pariwisata.


Apalagi, menurutnya, apa saja yang ada di Jogja bisa langsung viral dengan cepat. Sehingga harus segera dicari solusi. Dosen di Stipram Jogja ini mencatat, sebelumnya masalah kejahatan jalanan yang viral dan berpengaruh terhadap citra Jogja. Dan sekarang masalah sampah.


Ketua DPD Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIJ Bobby Ardyanto Setyo juga mengkhawatirkan masalah sampah berdampak pada trafik kunjungan wisatawan ke Jogjakarta. Cenderung ada perbedaan antara wisatawan domestik dan wisatawan internasional.


Dikatakan, secara umum wisatawan internasional sudah merencanakan liburan sejak jauh-jauh hari, sehingga minim kemungkinan untuk membatalkan rencana liburan secara mendadak. "Wisman itu biasanya merencanakan liburan sudah berbulan-bulan sebelumnya, bahkan setahun sehingga trafiknya tetap tinggi," sebutnya.
Bobby mengungkapkan, saat ini bisa dibilang sudah memasuki periode high season liburan dan persoalan sampah ternyata disadari oleh para wisatawan, sebelum mereka sampai di Jogjakarta. "Mereka baca-baca di media online soal isu sampah. Kami juga berusaha memberi pengertian bahwa ada pengelolaan yang dilakukan, sejauh ini trafiknya masih lancar," sebutnya.


Meski demikian, Bobby juga cukup khawatir dengan persoalan sampah tersebut, karena menurut pandangan matanya beberapa titik di berbagai wilayah DIJ juga sudah ada tumpukan sampah yang terbengkalai. Khawatirnya hal itu akan merembet ke area lain, terutama area pariwisata yang banyak dikunjungi wisatawan. (wia/lan/iza/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#Bantul #Sampah #TPST Piyungan