Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Rivalitas Politik Tiga Dinasti Keturunan Senopati

Kusno S Utomo • Selasa, 1 Agustus 2023 | 13:00 WIB
Photo
Photo

RADAR JOGJA - Tiga Dinasti Mataram hasil Perjanjian Giyanti dan Perjanjian Salatiga terus terlibat rivalitas politik. Itu terjadi pada awal-awal Dinasti Paku Buwono, Hamengku Buwono, dan Dinasti Mangkunegara berdiri.


Ketiga dinasti yang sama-sama keturunan Panembahan Senopati itu bersaing menghasilkan berbagai karya dalam lapangan politik, ekonomi, kebudayaan, dan keamanan. Rivalitas antardinasti itu didorong rasa sentimen. Melupakan pentingnya bersatu demi membangun persatuan di antara Wangsa Mataram.


Generasi pendahulu dari tiga dinasti itu dimulai dari Paku Buwono (PB) III, Hamengku Buwono (HB) I dan Mangkunegara (MN) I. Susuhunan Paku Buwono III menjadi peletak dasar Kasunanan Surakarta Hadiningrat.


Sedangkan Sultan Hamengku Buwono I sebagai pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Adipati Mangkunegara I sebagai perintis Kadipaten Mangkunegaran yang juga berkedudukan di Surakarta Hadiningrat.


Di antara ketiga dinasti, MN I kerap menyulitkan posisi Belanda. Dibandingkan PB III dan HB I, Raden Mas (RM) Said, nama muda MN I sebelum jumeneng (naik takhta, Red) sebagai adipati sering membuat manuver. Misalnya dalam waktu tertentu harus sowan ke Keraton Surakarta, MN I justru mangkir.


Jika datang, MN I dikawal dengan pasukan bersenjata yang berlebihan. Sikap itu seolah-olah ingin menunjukkan independensi Mangkunegara yang lepas dari Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Ngayogyakarta. Ini berbeda dengan sikap PB III dan HB I yang relatif lebih lunak dan bersahabat dengan VOC.


Bila ditilik lebih jauh, munculnya tiga dinasti itu menunjukkan proses suksesi di Kerajaan Mataram tak selalu mulus. Ada pasang surut di setiap pergantian takhta. Ada tiga kali perang suksesi terjadi di Mataram. Perang Suksesi I melibatkan Susuhunan Hamangkurat III atau Sunan Mas melawan pamannya, Pangeran Poeger.
Dalam perang Suksesi I itu, Poeger berhasil memenangkan pertarungan berkat disokong VOC. Poeger naik takhta dengan gelar Paku Buwono I. Sunan Mas akhirnya dibuang ke Srilangka setelah menyerah dalam pelarian di Surabaya.


Perang Suksesi II terjadi pada masa pemerintahan Susuhunan Hamangkurat IV atau Amangkurat Jawi melawan Pangeran Balitar dan Pangeran Mangkunegara Kartasura atau ayah RM Said. Meski menggunakan nama Amangkurat, raja ini bukanlah anak dari Hamangkurat III. Dia putra mahkota dari Paku Buwono I. Namun gelarnya bukan memakai nama Paku Buwono II.


Pengganti Hamangkurat IV bukan Hamangkurat V. Anaknya memilih melanjutkan gelar kakeknya, Paku Buwono II. Selama memerintah Paku Buwono II tak pernah sepi dari konflik perebutan takhta. Paku Buwono II pernah terusir dari Keraton Mataram di Kartasura saat menghadapi Geger Pacinan yang dipimpin RM Garendi didukung orang-orang Tionghoa.


Garendi merupakan cucu dari Amangkurat III. Dia sempat bertakhta selama beberapa bulan saat Paku Buwono II terusir. Garendi menggunakan gelar Amangkurat V atau Sunan Kuning karena didukung tentara berkulit kuning (Tionghoa).


Perang Suksesi III terjadi di era Paku Buwono II dan Paku Buwono III saat Mataram telah berpindah ke Surakarta. Lawan politik yang dihadapi RM Said dan Pangeran Mangkubumi. Penyelesaian Perang Suksesi III berbeda dengan Perang Suksesi I dan II. VOC memenangkan salah satu kubu.


Dalam Perang Suksesi III, semua pihak yang bersengketa diajak ke meja perundingan. Solusinya membagi kekuasaan Mataram tidak tersentral pada satu pihak. Tapi dibagi menjadi tiga dinasti.


Jauh sebelumnya, gejolak suksesi Mataram juga terjadi di masa Sultan Agung Hanyakrakusuma. Kala itu Mataram masih berpusat di Kotagede. Sebelum naik takhta Sultan Agung bernama RM Rangsang. Dia menggeser adiknya RM Martapura. Sang adik hanya sebentar duduk di dampar kencana lalu diturunkan oleh sang kakak.


Babad Tanah Jawa mengisahkan begitu romantismenya pergeseran kekuasan itu seolah-olah tidak ada konflik. Dari Kotagede, Sultan Agung memindahkan keraton ke Kerta yang lokasinya tak jauh dari Plered.


Pemberontakan Trunajaya saat Keraton Mataram berpindah di Plered di era Amangkurat I telah menimbulkan konflik antara RM Rahmat dan RM Drajat. Keduanya sama-sama lahir dari dua permaisuri Amangkurat Agung. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Cerbung #Kusno #perjanjian giyanti #Kadipaten Mangkunegaran #mataram #VOC