Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menikmati Hangatnya Wedang Kacang di Kota Magelang

Naila Nihayah • Minggu, 30 Juli 2023 | 18:10 WIB
TAMPAK SEGAR: Wedang kacang ini menjadi satu menu yang paling banyak diminati pengunjung. Cita rasanya pun khas dan resepnya bertahan dari 1980-an hingga sekarang.
TAMPAK SEGAR: Wedang kacang ini menjadi satu menu yang paling banyak diminati pengunjung. Cita rasanya pun khas dan resepnya bertahan dari 1980-an hingga sekarang.

RADAR JOGJA - Warung dengan cat putih dan biru itu selalu tampak ramai setiap malamnya. Sesak oleh para pengunjung yang ingin menyantap aneka makanan dan minuman. Khususnya bagi penikmat minuman untuk menghangatkan tubuh.


Di warung yang terletak di Jalan Pajang, Kelurahan Kemirirejo, Kota Magelang ini terdapat aneka wedang yang menjadi favorit pengunjung. Seperti wedang kacang, wedang kacang sekoteng, wedang ronde, dan kolak. Namun, yang paling laris dan diburu pengunjung adalah wedang kacang.


Sesuai dengan namanya, minuman hangat ini menggunakan kacang sebagai bahan utamanya. Pemilik warung Menik mengatakan, kacang di minuman tersebut harus direbus bersama dengan gula pasir. Proses merebusnya memang cukup lama agar mendapatkan tekstur kacang yang empuk.


Waktu perebusan yang lama itu menghasilkan kuah kecoklatan dan sedikit kental. Wedang kacang ini disajikan dalam mangkuk bersama dengan ketan putih. Sehingga menjadikannya terasa manis gurih yang khas. Porsinya pun tidak terlalu banyak dan mengenyangkan.

Dia mengatakan, Warung Wedang Kacang Kebon ini sudah ada sebelum 1982. Semula, sang kakek hanya berjualan dengan gerobak. Keliling dari satu gang ke gang lain. "Sebenarnya sudah ada sejak lama, cuma baru menempati warung ini sejak 1982. Ibu saya Agustin, yang nerusin," ujarnya saat ditemui Jumat (28/7/23) malam.


Menik menyebut, kacang tanah yang digunakan itu harus direndam menggunakan air panas dengan gula pasir selama satu hari. Sementara pada pukul 05.00 hingga 16.00, kacang itu direbus kembali. Sampai menghasilkan kacang yang benar-benar empuk dan kuah kecoklatan.


Baik ibu maupun dirinya, memang tidak pernah mengubah resep wedang kacang tersebut. Karena sang kakek juga menginginkan agar cita rasanya khas. "Pesan dari Kung Ju, kakek saya, supaya kita tetap menjaga dan mempertahankan kualitas," ucapnya.
Menik menyebut, untuk hari biasa, ada sebanyak empat kilogram kacang yang digunakan. Sementara saat weekend, dia bisa menghabiskan hingga delapan kilogram kacang tanah. Setiap hari kecuali Kamis, warung ini buka mulai pukul 16.30-20.00.


Aneka wedang itu dapat dibeli dengan harga yang ekonomis. Yakni Rp 11 ribu per satu mangkuk. Selain menyediakan aneka wedang, di warung tersebut juga menyajikan aneka gorengan. Seperti tahu bacem, tahu isi rebung, lumpia isi rebung, dan sate pisang. Masing-masing dihargai Rp 6 ribu.


Ada juga makanan seperti nasi godok atau goreng, bakmi godok atau goreng, nasi goreng magelangan, dan bakso mi atau kuah. "Biasanya habis itu jam 19.30. Tapi, kalau ramai banget, jam 19.00 sudah habis. Banyak yang kecele juga karena mau pesan wedang kacang, tapi sudah habis," terang Menik.


Warga Jagoan Ari Tri Widowati, 55, mengaku sudah sejak kecil menyantap wedang kacang tersebut. Menurutnya, mereka mampu mempertahankan cita rasanya hingga sekarang. Tidak berubah. Begitu pula dengan warungnya.


Dia yang baru saja pulang merantau, memang sengaja datang ke Warung Wedang Kebon untuk sekadar bernostalgia. "Biasanya jam 19.00, (wedang kacang, Red) udah habis. Saya selalu kecele kalau ke sini. Ini juga sebenarnya khawatir kalau sudah habis," sebutnya. (aya/eno)

Editor : Satria Pradika
#Magelang #Wedang kacang #wedang ronde