RADAR JOGJA - Roti putu jenisnya ada dua, basah dan kering. Dua varian itu sangat digemari segala usia. Sensasi berceceran dan belepotan saat makan putu kering, menjadi salah satu keunikan jajanan tradisional itu.
Seorang warga Kapanewon Patuk, Gunungkidul Oki Biarso Wicaksono salah satu penikmatnya. Jajanan zaman dulu (jadul) tersebut pertama dikenakan oleh kakeknya, almarhum Noto Wiharjo.
Simbah yang berprofesi sebagai tukang cukur rambut setiap sepekan sekali stand bye di Pasar Wage Ngalang, Gedangsari. "Pasti kalau pulang oleh-olehnya roti putu warna merah putih," kata Oki.
Camilan khas Kota Magelang ini dari bahan dasar beras yang ditumbuk kemudian dibuat sedemikian rupa hingga menjadi kue kering. Memiliki dua warna dan cukup vamilier diberi nama roti putu merah putih. "Rasanya gurih. Makannya perlu hati-hati biar tidak cemong (berceceran) di mulut," ujarnya.
Makan roti putu merah putih, menurut ayah satu anak ini, memiliki sensasi tersendiri. Saat pertama masuk mulut sampai dengan proses mengunyah dan menelan. "Marai kapres (membuat mulut belepotan, Red)," jelasnya.
Terbungkus rapi dan sederhana dalam kemasan plastik, putu kering merah putih teksturnya aneh. Campur aduk saat masuk mulut. Renyah, empuk, ada manis-manisnya tapi biasanya semut tidak suka. "Bentuknya seperti koin tapi tebal dan ada garis melingkar pada permukaan," ungkapnya.
Sekarang jenis jajanan model seperti ini masih banyak di pasaran. Namun kalau mencari ke pasar tradisional Gunungkidul, tidak mudah. Mungkin karena tergeser dengan jenis camilan lokal lain. Akibatnya, peminat menjadi berkurang. "Sejak ramak (kakek) meninggal itulah saya tidak makan kue putu," ujarnya.
Demikian pula kalau soal rasa, dirinya masih bisa berhalusinasi tentang jajanan tradisional legendaris itu. Dia berharap produksi putu merah putih jalan terus. Anak pertama dari satu bersaudara ini yakin peminatnya pasti ada. "Anak generasi sekarang mungkin perlu mencoba sensasi makan kue putu merah putih kering," tandasnya. (gun/laz)