RADAR JOGJA - Retaknya hubungan Pangeran Mangkubumi dengan keponakannya Raden Mas (RM) Said mulai terlihat pada 1752. Keduanya telah membentuk koalisi. Mangkubumi bergabung dengan pasukan Said yang lebih dulu angkat senjata pada 19 Mei 1746.
Direktur VOC Jawa Utara Nicholaas Hartingh menjuluki Said dengan nama Pangeran Sambernyawa. Itu berkat kepiawaiannya melumpuhkan lawan. Beberapa pejabat VOC terbunuh di tangan Said. Perjuangan Sambernyawa dibangun sejak Geger Pacinan di Mataram Kartasura pada 1742. Said menjadi salah satu panglima perang dari RM Garendi, pemimpin pemberontak yang disokong orang-orang Tionghoa.
Akibat Geger Pacinan, ibu kota negara (IKN) Mataram yang berkedudukan di Kartasura jatuh ke tangan Garendi. Susuhunan Paku Buwono II terusir dari keraton. Raja kemudian mendirikan pemerintahan darurat di Panaraga, Jawa Timur. Selama menguasai Kartasura, Garendi yang juga cucu Susuhunan Amangkurat III (Sunan Mas) dinobatkan pendukungnya dengan gelar Susuhunan Amangkurat V atau Sunan Kuning.
Kekuasaan Sunan Kuning hanya seumur jagung. Mataram berhasil direbut kembali oleh pasukan Paku Buwono II dan VOC didukung tentara Cakraningrat dari Madura. Tersingkir dari Kartasura, Said melanjutkan perjuangan dengan perang gerilya. Ihwal bergabungnya Mangkubumi ke barisan oposisi dipicu rasa kecewa gara-gara dibatalkannya hadiah tanah Sukawati.
Mangkubumi merasa dipermalukan di muka umum oleh Gubernur Jenderal VOC Van Imhoff. Kejadiannya saat bos VOC itu melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Surakarta. Kembali ke pasukan pemberontak, lebih dari enam tahun Mangkubumi dan Said berhasil menjadi oposisi yang tangguh. Kekuatan mereka bertambah hebat. Pasukan Mataram dan VOC beberapa kali dibuat kerepotan.
Dalam situasi genting itu, Paku Buwono II wafat. Putra mahkota kemudian dinobatkan sebagai pengganti, bergelar Paku Buwono III pada 15 Desember 1749. Empat hari sebelumnya, Said bersama pasukannya lebih dulu mengukuhkan Mangkubumi sebagai raja tandingan. Gelarnya sama seperti yang disandang Paku Buwono III. Namun pemerintahan tandingan itu tak diakui VOC. Mereka menetapkan Kotagede sebagai pusat pemerintahan.
Bertepatan dengan penobatan itu, Said diangkat sebagai patih dari Sultan Mangkubumi. Raden Ayu (Ray) Inten, putri Mangkubumi yang menikah dengan Said mendapatkan gelar baru. Namanya Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara. Posisi Said menjadi keponakan sekaligus menantu.
Sebagai patih atau semacam perdana menteri, Said menjadi lebih populer dibandingkan sang mertua.Sebaliknya, populeritas dan elektabilitas Mangkubumi cenderung menurun. Sambernyawa makin dikenal rakyat. Posisinya sebagai patih dari kelompok oposisi membuatnya populer. Meningkatnya elektabilitas Said membuat Mangkubumi merasa tak nyaman.
Padahal sejak awal Mangkubumi sangat berhasrat menjadi raja. M.C Ricklefs dalam buku Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792 Sejarah Pembagian Jawa juga menyinggung soal ini.
Saat dilakukan pemungutan suara, dukungan para pejabat Mataram yang bergabung ke barisan pemberontak condong ke Said. Elektabilitasnya terus melejit mengungguli sang paman. Situasi itulah yang memicu perselisihan di antara kekuatan oposisi. Perselisihan berfokus pada ketakutan Mangkubumi kehilangan kekuasaan atas pasukan-pasukan pemberontak.
Mangkubumi rupanya memahami ungkapan politik adalah seni memelihara kepentingan bersama. Sekaligus seni memanfaatkan momentum. Momentum merupakan saat tepat mengambil keputusan terbaik. Putra Susuhunan Amangkurat IV atau Amangkurat Jawi itu tak ingin kehilangan momentum.
Mangkubumi kemudian meninggalkan oposisi. Membangun dan menjalin koalisi baru dengan penguasa Mataram, Paku Buwono III dan Kompeni. Jalinan kontak dengan VOC beberapa kali dilakukan.
Mangkubumi akhirnya bertemu dengan Hartingh di Desa Pedagangan, Grobogan pada 22 September 1754. Dalam pertemuan itu, Mangkubumi berhasrat menjadi penguasa tunggal di Jawa. Pertemuan di Pedagangan menjadi embrio terbelahnya Bumi Mataram.
Puncaknya dengan ditekennya Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Mangkubumi dinobatkan VOC sebagai raja. RM Said sangat kecewa dengan langkah Mangkubumi meninggalkan komitmen merebut takhta Mataram. Belakangan justru memilih menerima tawaran Belanda. Diangkat sebagai raja atas separo wilayah Mataram. (laz)