RADAR JOGJA - Djoenaidi adalah sosok yang memberi arti bagi para pendengar lawak. "Saat pelawak senior sudah surut, tiba-tiba Mas Djoenaidi muncul dan menjadi sosok yang baru," ujar dosen yang juga Kepala UPT Lab Seni dan Concer Hall ISI Jogjakarta Gandung Djatmiko kepada Radar Jogja (21/7/23). Dikatakan, dalam setiap pertunjukannya Djoenaidi selalu mengangkat tema tradisi. Ia juga sosok yang cerdas dan kreatif.
Menurut Gandung, Djoenaedi kalau dilihat dari sisi pertunjukan yang auditif. Ia sangat mengelitik dan bisa menusuk telinga para pendengar dengan tajam.
Ditambahkan, lawakan dari Djoenaidi juga tidak ada yang jorok. "Kalaupun pendengar mendengar kata yang menurutnya jorok, itu kalau dilihat dari diksinya. Padahal tidak jorok," katanya.
Menurut Gandung, sosok Djoenaidi adalah seorang pelawak audio, buka lawak yang visual atau pertunjukan. Dan Gandung menilai model lawak audio Djoenaidi itu model lawak dengan nilai tertinggi.
Gandung menerangkan, Djoenaidi ketika pentas di atas panggung mempunyai kekurangan yaitu bahasa tubuhnya yang kurang menguasai. Namun kalau dari sisi auditif, kalaupun diulang-ulang tetap bikin kangen. "Dan ketika pentas di atas panggung dia menjadi sosok yang menguasai lawakan. Yang lain menjadi tokoh pengumpan saja," jelasnya.
Gandung menyatakan, segi pertunjukan dari Djoenaidi tetap menggunakan alur, walaupun tidak tekstual atau tertulis. "Seperti kita lihat ada rekaman yang terpotong. Ya, itu karena durasi rekaman. Dan itu kan harusnya ada kelanjutan apa yang dibicarakan," ucapnya.
Nah, berangkat dari itu Gandung pun mengungkapkan dari sisi audio terungkap lawakan Djoenaidi tetap ada alurnya. (ayu/laz)