Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Legenda Dagelan Mataram, Djoenaidi

Gunawan RaJa • Minggu, 23 Juli 2023 | 13:00 WIB
Warga Plumbungan, Putat, Patuk, Gunungkidul Sularto adalah satu dari sekian banyak penggemar dagelan Djoenaidi
Warga Plumbungan, Putat, Patuk, Gunungkidul Sularto adalah satu dari sekian banyak penggemar dagelan Djoenaidi

RADAR JOGJA - Dagelan Mataram Djoenaidi sangat populer di garis usia tahun 80 hingga 90-an. Dagelan atau lawak yang dibawakan Djoenaidi Cs terbukti melekat di hati dan pikiran para penggemarnya. Di Gunungkidul, bahkan tidak sedikit warga sampai hapal nama-nama tokoh, alur cerita bahkan dialognya.


Dagelan Djoenaidi Cs personelnya terdiri atas Djoenaidi, Buang dan Jambul. Untuk peran perempuan dibantu Marsidah dan nama lain dari Basiyo dan Ketoprak Mataram. Suara Djoenaidi sangat khas membawakan berbagai cerita jenaka. Seperti dalam judul dagelan Keris Pusaka, Istri Darurat, Junaidi Guru Musik, Ular-Ular Pengantin.
Sebelum tutup usia, Djoenaidi diketahui menjadi mubaligh dan sempat membawakan album Islami. Sebut saja Djoenaidi Ngaji dan Djoenaidi Khotbah.


Meski Djoenaidi telah wafat, karya-karyanya masih hidup sampai sekarang. Seorang warga Plumbungan, Putat, Patuk, Gunungkidul Sularto adalah satu dari sekian banyak penggemar dagelan Djoenaidi. Kala itu satu kaset full atau bolak balik bisa dua cerita sekaligus.
Dia kali pertama mengenal sosok dagelan Djoenaidi di era 80-an. Dalam berbagai judul cerita, Junaidi muncul dengan karakter lucu dan menghibur. Walau tidak jarang berakting antagonis, namun ujung-ujungnya membuat para penggemar terpingkal-pingkal.


"Contoh judul Keris Pusaka, Djoenaidi muncul sebagai tokoh jahat," kata Sularto. Dalam cerita dagelan itu, Junaidi yang kaya raya memiliki seorang adik miskin bernama Buang. Saat santai di teras rumah, Djoenaidi mencibir adiknya karena miskin. Sang istri mengingatkan agar kakak beradik saling bantu. Tak lama berselang Buang dan istri diperankan Marsidah datang.
"Adine teko, ngemis (adiknya datang meminta-minta). Beteen iki mengko mesti njaluk (coba tebak pasti nanti ujungnya minta-minta)," kata Sularto menirukan dialeg khas Djoenaidi.


Kemudian oleh Buang dijawab "Kakang tesih edan to" (kakak masih gila?). "Koyo-koyo kok iseh dilanggengke (sepertinya gilanya Djoenaidi memang seumur hidup)," kata istri Joenaidi.
Sularto mengaku masih ingat dengan dialog dalam cerita Keris Pusaka. Bahkan percakapan masing-masing tokoh pun dia ingat. Klimaksnya perantara perangkat desa, Joenaidi menyesali perbuatan karena menyia-nyiakan adik kandung.


"Ada lagi cerita Ular-Ular Pengantin. Dalam cerita ini munculah jargon Djoenaidi Mrongos," ucapnya. Ketika itu, Djoenaidi sedang bermain gitar. Suara tali senar gitarnya bisa menirukan suara orang. Misalnya, 'sampun ndoro', 'liyane mawon'. Lalu Buang meminta suara gitar berbunyi ' Djoenaidi mrongos' oleh Joenaidi suara gitar hanya digenjreng asal-asalan. Berbunyi 'breng' yang artinya 'prek' atau tidak peduli.


Dalam cerita Djoenaidi Guru Musik, kata Sularto, tokoh Djoenaidi dikenal piawai dalam bermain musik. Dia memberi pelajaran menyanyi kepada Marsidah lagu Tionghoa. 'kwe ree neo, wo jo o sweswe, la kwe lingguan. Kwe lingguwan doteni guwan. Lha kae wong lingguan ongkang-ongkang. Ongkang-ongkang nggolei cuwilan roti'.
"Sebenarnya lirik lagu mirip Tionghoa itu hanya akal-akalanya Junaidi saja. Sebenarnya hanya bahasa Jawa. Seperti kwe ree neo asal kata dari bahasa Jawa koe reneo (kamu ke sini) dan seterusnya," ungkapnya.


Kata Sularto, karya-karya Djoenaidi Cs sangat istimewa. Dulu kaset Djoenaidi biasa diputar di acara hajatan. Saat malam hari tiba, tukang sound system dengan sengaja memutar kaset tersebut sampai dini hari.


"Lawak Djoenaidi sering saya jadikan sebagai pengantar dongeng sebelum tidur anak. Karena ingat alur cerita dan dialognya, ya lancar saja saya cerita ke anak," bebernya.
Sularto sangat mengagumi karya Djoenaidi. Bentuk kecintaan itu terbukti dengan hapalnya beberapa alur cerita dan dialognya. Karena sang legenda dagelan telah tiada, hanya bisa teriring doa semoga amal ibadahnya diterima disisi Allah SWT. (gun/laz)

Editor : Satria Pradika
#Gunungkidul #Dagelan Mataram #Djoenaidi