RADAR JOGJA - Dua hari setelah diangkat VOC sebagai raja bergelar sultan, Pangeran Mangkubumi bertemu dengan keponakannya Susuhunan Paku Buwono (PB) III. Pertemuan keponakan dan paman diliputi suasana penuh emosional. Perpisahan lebih dari sembilan tahun tak membuat keduanya ingin melepas kangen. Justru keponakan dan paman itu saling terdiam. Mereka tidak bicara sepatah katapun.
Itulah gambaran pertemuan kali pertama PB III dengan sang paman, di Lebak Jatisari pada 15 Februari 1755. Dua hari usai Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 diteken. Jatisari sekarang merupakan dusun yang masuk Desa Sapen, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Surakarta. Lokasinya ada di selatan situs Giyanti Desa Kerten, Jantiharjo, Karanganyar.
Direktur Jawa Utara Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Nicholas Hartingh memecahkan kebekuan dengan mengambil inisiatif bicara. Hartingh memakai bahasa Jawa menyapa kedua raja. Sejak meneken Perjanjian Giyanti bersama Hartingh yang mewakili VOC, Mangkubumi telah berubah status. Kedudukannya bukan lagi pangeran Keraton Mataram Surakarta dan pemimpin pemberontak. Dia telah menjadi raja setara dengan keponakannya bergelar Sultan Hamengku Buwono (HB) I.
“Selamat datang kepada saudara-saudara tercinta. Saat yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh semua orang sudah tiba. Perdamaian telah tercapai,” ucap Hartingh seperti ditulis dalam catatan hariannya.
Hartingh kemudian mengambil tangan PB III dan HB I serta mengajak mereka berdiri. Kedua raja saling memberikan salam dan berjanji saling bahu membahu bersama VOC menumpas perlawanan Raden Mas (RM) Said. Sebelum Giyanti, RM Said adalah mitra koalisi Mangkubumi melawan VOC. Koalisi itu bubar setelah Mangkubumi memutuskan balik haluan. Dari seteru menjadi sekutu Kompeni. Sebaliknya, dengan Said dari semula sekutu sekarang seteru.
Menutup pertemuan Jatisari segelas bir pun diteguk. Masalah kembali muncul saat pertemuan berakhir. Ada ganjalan protokoler. PB III dan HB I tidak mau beranjak lebih dulu. Sebab, siapa yang beranjak lebih dulu berarti dirinya lebih rendah dari yang beranjak kemudian. Sebuah cara yang lazim dilakukan bila seseorang undur diri dari hadapan seorang raja.
Lagi-lagi Hartingh sukses membantu mencairkan keadaan dengan menepuk tangan kedua raja. Salam perpisahan dilakukan dengan berkali-kali berpelukan seraya meletakan kepala di bahu yang satu dengan yang lain. Meski diliputi suasana emosi, dalam pertemuan itu PB III menghadiahkan sebuah keris untuk sang paman. Ketika menerimanya, Mangkubumi bertanya apakah keris itu sebuah pusaka. PB III menjawab keris tersebut bukan pusaka, tapi pernah dibawa ayahnya, PB II.
Babad Giyanti karya Yasapura mengungkap keris itu dinamakan Ki Kopek atau Kyai Kopek. Dalam tata urutan pusaka, status kyai berada level terendah di bawah kanjeng kyai maupun kanjeng kyai ageng. Adapun makna kopek adalah susu. Artinya meski telah terbelah menjadi dua, kasultanan harus tetap menginduk pada kasunanan. Tidak terpisah sebagai penerus Dinasti Mataram.
Belakangan keris itu diyakini sebagai Kyai Kopek yang diturunkan dari Sunan Kalijaga. Naskah-naskah berbahasa Jawa mengungkapkan, semula Mangkubumi meragukan keaslian keris itu. Keraguan itu sirna setelah ada penjelasan dari Pangeran Natakusuma, bekas patih PB II di era Mataram Kartasura yang dipulangkan dari pengasingannya di Ceylon atau Srilanka ke Mataram.
Sunan Kalijaga rupanya menjadi figur cukup berarti di hati Mangkubumi. Kalijaga merupakan orang yang berhasil meyakinkan Sultan Hadiwijaya agar segera memberikan Bumi Mataram kepada Ki Ageng Pemanahan sesuai janji raja Pajang tersebut. Belakangan Mataram berhasil merebut hegemoni atas Jawa dari tangan Pajang. Peristiwa itu di mata Mangkubumi menjadi preseden yang mirip dengan Palihan Negari 1755. PB II awalnya berjanji memberikan tanah Sukowati. Janji itu rupanya tidak segera ditepati. Janji itu baru terealisasi setelah ada campur tangan pihak lain.
Mataram diberikan kepada Mangkubumi pada era PB III. Sejarah selalu saja berulang. Meski ada kemiripan, namun pelaku yang terlibat berbeda. Kesamaannya atas kedua peristiwa yang berselang dua abad itu adalah pihak lain itu sama-sama berasal dari pesisir.
Sunan Kalijaga berasal dari Kadilangu, Demak, dan Hartingh memimpin Kompeni yang berpusat di Semarang. Berpindah tangannya keris Sunan Kalijaga itu dinilai menjadi simbol pembagian Bumi Mataram. Raja Mataram tak bisa dipisahkan dari pusaka.
Kini keris Kyai Kopek menjadi bagian dari tiga keris pusaka ageng Keraton Jogja. Keberadaannya setara dengan tombak Kanjeng Kyai Ageng (KKA) Plered dan keris KKA Joko Piturun dan keris KKA Sengkelat. Keris KKA Kopek digunakan KGPH Mangkubumi saat naik takhta pada 7 Maret 1989. Keris itu selalu dikenakan HB X di setiap acara-acara penting kerajaan. Tradisi memakai Kyai Kopek tak dilakukan ayahnya, HB IX.
Sebab, HB IX lebih memilih memakai keris Kyai Joko Piturun yang diserahkan HB VIII di Hotel Des Indes, Batavia pada Oktober 1939. Ungkapan menyempurnakan keris Kyai Kopek dan Kyai Joko Piturun menjadi bagian dari lima isi Sabdaraja HB X pada 30 April 2015. (pra)