RADAR JOGJA - Semangat dan kegigihan Marwiyah, 54, warga Madigondo,Sidoharjo, Samigaluh, Kulon Progo pantas dicontoh. Kendati usianya sudah setengah abad, ia tetap gigih menjawab tantangan modernisasi. Motivasi usahanya juga hebat, ia ingin mengangkat nilai jual kopi lokal.
HENDRI UTOMO, Kulon Progo, Radar Jogja
UDARA dingin dan suasana yang tenang membuat siapa saja betah ketika mampir di Kedai Kopi Mbak Mar di Madigondo, Sidoharjo, Samigaluh, Kulon Progo. Udara yang segar, bebas dari polusi, pohon-pohon rindang yang tumbuh di bukit-bukit begitu elok memanjakan mata.
Sementara di balik meja barista, tangan Mbak Mar sapaan akrab Marwiyah terlihat begitu lihai meracik kopi sesuai pesanan pelanggan. Ia adalah salah satu barista perempuan lokal yang yang mampu meracik kopi dengan cita rasa yang cukup nikmat. Ada kopi robusta tubruk, arabika tetes dan jenis seduhan kopi lainnya.
Mbak Mar memang sudah tidak muda lagi. Namun semangatnya tidak kalah dengan barista muda atau pengusaha kedai kopi milenial pada umumnya. Niat awal dia sebetulnya hanya ingin meningkatkan nilai jual kopi lokal di Menoreh ini. Sebab kalau dijual bahan baku kopi harganya murah. “Tetapi kalau dijual produk olahan (minuman) jauh lebih mahal," ucapnya.
Dijelaskan, wilayah Madigondo memang berada di ketinggian yang cukup ideal untuk budidaya kopi. Bahkan jenis kopi arabika bisa berbuah, karena ketinggiannya memang mencukupi. Wilayah Kulon Progo bagian utara memang cukup tinggi, ada di kisaran 500 – 1.000 meter di atas permukaan laut (Mdpl). “Di sini semua kopi lokal, ada robusta dan arabika, dan meskipun jauh dari perkotaan kami tetap bisa jalan, bahkan disaat pandemi, pangsa pasar kita juga menengah ke atas, wisatawan luar kota bahkan mancanegara sudah sering mampir ke sini," jelasnya.
Diungkapkan, semua harus diawali dengan niat dan keyakinan teguh, ulet dan telaten adalah kunci berikutnya. Meskipun di pegunungan, Mbak Mar memiliki jaringan pertemanan yang luas, banyak kolega dan teman sesama pengusaha kopi di kota. Luwes dalam urusan kerja sama, pandai merangkul komunitas pecinta kopi. Tak ayal, kedainya selalu ramai.
"Bahan baku aman tidak masalah, karena kami punya kelompok petani inti dan petani plasma, kadang petani membawa ke sini dalam bentuk kopi petik merah atau yang sudah baku kering," ungkapnya.
Menurutnya, prospek usaha kopi cukup menjanjikan. Sebab bisa bertahan lama dan kecil resiko kerugian. Kopi tersimpan lama tidak apa-apa. Bahkan justru lebih bagus. Tidak kenal kedaluwarsa dengan proses penyimpanan yang benar. "Ngopi bagi kami bukan lagi tren atau gaya hidup, melainkan sebuah kebutuhan, ya konsumen yang datang kesini dari semua kalangan tanpa batasan umur," ujarnya.
Membuat kedai dan pandai meracik kopi tidak cukup, sambung Mbak Mar, harus juga aktif menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas dan lembaga, termasuk lembaga pendidikan juga ia masuki mulai SD hingga perguruan tinggi. Di setiap pertemuan tidak hanya mencari konsumen, tetapi lebih penting memberikan pemahaman dalam sosialisasi. “Mengenalkan jenis kopi lokal kita yang tak kalah jika dibandingkan dengan kopi-kopi dari daerah lain," ucapnya semangat.
Semua juga dibuktikan dengan data. Bahkan kopi di tempatnya sudah masuk spek istimewa, hal itu dibuktikan dengan uji lab di Jember Jawa Timur. Kopi Robusta menoreh mampu tembus di skor 80, bahkan untuk jenis arabika skornya 85. Sementara untuk jenis kopi kualitas premium skornya 80.
Kendala yang dia hadapi hanya di pemasaran via online. Mungkin karena faktor usia, dia tidak bisa segesit mereka yang masih muda. Kalau dia boleh berharap ya pemerintah bisa membantu pelaku usaha seperti dia. Minimal membantu memfasilitasi marketnya, pameran atau bazar diperbanyak.”Itu sangat membantu kami," harapnya.
Kedai Kopi Mbak Mar boleh berada di pegunungan yang jauh dari hingar bingar perkotaan, namun minimal mampu menjual 5 - 10 cup per hari. Varian harga juga cukup bervariasi tergantung jenis dan pesanannya, kisaran harganya mulai Rp 8 ribu - Rp 20 ribu. Ya mau robusta robusta atau arabika, diseduh dengan model apa itu menentukan harga. “Oh ya saya bisa meracik dan menyeduh kopi secara otodidak, selain itu saya juga belajar dengan datang ke kafe kopi di beberapa wilayah di Jogja dan luar DIJ," ungkapnya.
Salah satu penikmat kopi, Antok, warga Pengasih, Kulon Progo mengaku menemukan sensasi yang cukup berbeda dari kedai Mbak Mar. Kalau seduhan kopinya relatif sama dengan kopi-kopi lainnya. Namun suasananya yang tidak bisa ditiru. Kedainya nyaman sekali, kalau sudah mampir rasanya enggan pulang, nyaman, tenang, sejuk cocok sekali untuk relaksasi, orang kota yang penat dengan kerjaan atau macet-macet di jalan.”Dijamin plong mampir di sini, harganya juga ramah di kantong," ujarnya. (din)
Editor : Satria Pradika