RADAR JOGJA - Salah seorang pelaku atau perajin grafir Jefri Baharudin Sutawijaya menerangkan, penggunaan alat grafir sangat sederhana. Misal kalau untuk menulis huruf di piring, sangat mudah.
"Itu tergantung orang yang menggunakannya saja. Misal buat menulis huruf bisa, ngukir bisa, dan bikin lampion dari bahan lampion juga bisa," ujarnya saat ditemui Radar Jogja (14/7/23).
Jefri mengaku, sekarang banyak orang yang menggunakan grafir piring dan sendok hanya untuk keperluan kampung. "Itu mungkin agar tidak keliru dengan barang-barang yang dipinjam masyarakat," katanya.
Diungkapkan, tukang grafir kalau zaman dahulu hanya melayani person atau perorangan saja. Tukang grafir pun biasanya keliling untuk mencari konsumen.
Biasanya orang yang menggrafirkan barangnya seperti piring dan sendok. Biasanya hanya untuk menuliskan namanya saja di piring atau sendok mereka.
Jefri menyebut pengunaan alat grafir sangat gampang, seperti layaknya menulis dengan bolpoin. "Kalau alatnya bagus, itu semakin gampang lagi," ungkapnya.
Menurut Jefri, alat grafir zaman sekarang dan dulu berbeda. Perbedaan hanya terletak dari bahan dan kualitasnya saja. Zaman sekarang dengan teknologi yang semakin berkembang. Maka banyak teknologi grafir dengan canggi dan kenyamanan yang beragam.
Untuk jasa grafir, ia mengaku tergantung siapa yang akan menggunakan jasanya. Kalau misal tetangganya sendiri, dikasih harga yang berbeda dengan orang lain di di luar kampungnya. Kisaran ia mematok harga Rp 200 untuk piring dan Rp 50 untuk sendok. Hitungan per biji atau pcs.
Jefri mengaku jasa grafir kalau untuk penanda barang pribadi saat ini tidak bisa dijadikan profesi. Namun kalau untuk kerajinan, masih bisa. (ayu/laz)