RADAR JOGJA - Tokoh kemanusiaan asal Belanda Johannes van der Steur dimakamkan di Kota Magelang. Namanya hingga kini masih melekat kuat di ingatan masyarakat. Tak ayal makam yang berada di Jalan Ikhlas, Kelurahan Magersari, Kota Magelang, itu masih mendapat perhatian dan selalu terawat.
NAILA NIHAYAH, Magelang
Saat memasuki kompleks Makam Kerkhof, pengunjung disambut deretan makam bergaya Belanda yang tampak bersih. Meski usianya hampir satu abad, makam-makam itu selalu dirawat. Termasuk mengecat ulang makam yang terletak di Jalan Ikhlas itu.
Di salah satu makam, terbaring seorang tokoh kemanusiaan asal Belanda Johannes van der Steur. Selama hidupnya, ia dikenal sebagai seorang yang bersedia merawat 7.000 anak yatim dari berbagai suku dan kalangan pada masa kolonial.
Seorang pakar sejarah Chandra Gusta Wisuwardana menjelaskan, Johannes van der Steur merupakan pejuang kemanusiaan yang lahir pada 10 Juli 1865 di Rozenprieel, Haarlem, Belanda. Ia meninggal pada September 1945.
Masa kecilnya cukup berat. Lantaran harus membantu ekonomi keluarga dengan bekerja di kedai roti. Sang ibu seorang pemintal kain di toko kaus kaki. "Sedangkan ayahnya seorang pelukis sekaligus penjaga makam," ujarnya saat ditemui Rabu (12/7/23).
Johanes van der Steur hidup serba pas-pasan bersama 10 saudaranya. Di satu sisi dibesarkan bersama keluarga Kristen Protestan yang sangat taat. Menurut Gusta, ketaatan keluarga itu pada agama membuat Johannes van der Steur sejak kecil bercita-cita menjadi penginjil.
Dari lingkungan tempat tinggalnya itulah yang membuat nilai-nilai protestanisme dan kemanusiaan tumbuh dalam diri van der Steur. Lambat laun, ia mulai berderma dan melakukan khotbah di beberapa kota. Namanya perlahan mulai dikenal masyarakat setempat.
Dalam perjalanannya, van der Steur lantas bertemu seorang serdadu yang baru saja kembali dari Hindia Timur di Kota Harderwijk. Saat itu, upaya penguasaan wilayah Nusantara oleh Belanda mengalami peningkatan setelah parlemen Belanda dikuasai orang-orang liberal dan humanis.
Serdadu itu banyak bercerita kepada van der Steur ihwal pengalamannya. Alih-alih mendengar kabar bahagia, van der Steur justru mendapat narasi tragis tentang nasib para serdadu. Kala itu, ia juga pernah mendengar ambisi Belanda yang gencar melakukan ekspansi militer sebagai upaya meningkatkan eksistensi kerajaan.
Mendengar kisah masyarakat Hindia-Belanda itu, Johannes van der Steur bertekad mengunjunginya secara langsung. Beruntung, ia mendapat bantuan pejabat dan politikus humanis di Belanda. Ia pun berlayar ke Hindia dari Kota Ijmuiden pada 10 September 1892.
Pada tahun yang sama, van der Steur tiba di Garnisun Magelang. Ia membawa misi untuk membimbing para serdadu agar mengenal dan kembali ke jalan Tuhan. Ia mengawali misinya dengan bekerja sebagai pembantu di dalam tangsi militer. Tugasnya membagikan kertas berisi renungan nukilan ayat-ayat injil di atas tempat tidur.
Gusta menuturkan, ada catatan sejarah yang menyebut Johannes van der Steur pernah berkirim surat kepada Directur Onderwijes, Eredienst, en Nijverheid (Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri). Surat berisi ketidaksetujuannya pada praktik pergundikan yang kala itu marak terjadi di Hindia Belanda.
Gusta menyebut, perlawanan terhadap pergundikan sebetulnya sudah beberapa kali dilakukan. Dari 1889 hingga 1904 oleh van der Steur. "Suratnya mendesak pemerintah untuk warga Eropa melangsungkan pernikahan sebanyak mungkin. Agar praktik pergundikan yang banyak merugikan anak itu bisa ditekan," ujarnya.
Sampai dengan 1912, kalangan propergundikan masih bisa terus melobi politisi di Den Haag untuk melanggengkan kegiatan ini. Sikap berseberangan mulai terlihat pada 1913 ketika Gubernur Jenderal Idenburg berbeda pendapat dengan panglima militer mengenai pergundikan. Ia menyatakan akan menghapuskan pergundikan tangsi secara perlahan.
Suatu ketika, van der Steur melakukan kunjungan di suatu kampung. Banyak anak-anak dari berbagai latar belakang telantar. Karena orang tua maupun keluarganya meninggal akibat perang. Tergerak untuk membantu, ia kemudian bertolak ke kampung halamannya.
Di sana, van der Steur menjual segala aset miliknya. Kemudian kembali lagi ke Magelang dengan membawa serta istrinya. Ia pun membeli lahan di Kampung Meteseh untuk mendirikan panti asuhan yang bisa menampung ribuan anak-anak terlantar.
Kala itu, anak asuhnya mencapai 7.000 orang. Namun, saat Jepang datang ke Magelang, van der Steur dibawa menuju Cimahi. Saat berusia 80 tahun, ia dirawat di Semarang dan meninggal pada September 1945 di Magelang. Pemakamannya dihadiri ribuan orang dari berbagai etnis.
Gusta menyebut, makam Johannes van der Steur pernah dua kali mengalami pemugaran oleh pemerintah Hindia-Belanda dan komunitas pegiat sejarah Kota Toewa Magelang. "Saat ini kompleks pemakaman Johannes van der Steur masih dalam upaya pengajuan untuk dijadikan sebagai cagar budaya," ucapnya. (laz)