Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Fatal, Sembelih Bangkai Hewan Mati karena Penyakit

Rizky Wahyu • Sabtu, 8 Juli 2023 | 19:35 WIB

Fatal, Sembelih Bangkai Hewan Mati karena Penyakit

 

JADI ANCAMAN: Petugas melakukan penyiraman formalin di lahan yang ada spora antraks wilayah Kapanewon Ponjong beberapa waktu lalu.
JADI ANCAMAN: Petugas melakukan penyiraman formalin di lahan yang ada spora antraks wilayah Kapanewon Ponjong beberapa waktu lalu.

RADAR JOGJA - Pakar dari UGM menegaskan bahaya menyembelih bangkai hewan yang mati karena penyakit. Sebab itu memicu penyebaran penyakit yang disebabkan oleh bakteri, termasuk penyakit antraks.

Pakar kesehatan hewan UGM Agnesia Endang Tri Hastuti Wahyun mengatakan, penyembelihan bagkai hewan yang telah mati karena penyakit itu sangat berbahaya. Karena bakteri sebagian besar berada di dalam darah. "Ketika darah keluar dan berinteraksi dengan udara, maka terbentuklah spora yang akan menjadi momok," ujarnya, saat jumpa pers di Ruang Fortakgama UGM, Jumat (7/7/23).

Agnesia menjelaskan untuk menangani hewan yang mati dan telah terdiaknosis antraks, tidak boleh dibuka atau disembelih. Salah satu penyebab hal itu adalah karena antraks memang merupakan penyakit yang tidak mudah dimusnahkan. “Spora yang dihasilkan oleh bakteri antraks itu sulit untuk dihilang dan bisa bertahan di tanah hingga puluhan tahun," katanya.

Menurut Agnesia penyakit antraks yang menyerang hewan masih bisa disembuhkan. Salah satu caranya menanganinya dengan cara terapi pengobatan. “Sebab bakterinya masih sensitif dengan antibiotik. Dan untuk pencegahan ada vaksinasi yang perlu diulang setiap enam bulan," bebernya.

Sementara itu, epidemiolog UGM Citra Indriani antraks yang dapat menyerang manusia terbagi dalam empat jenis. Seperti antraks kulit, antraks saluran pencernaan, antraks saluran pernafasan, dan antraks injeksi. "Kasus antraks yang sering ditemukan di Jogja adalah kasus antraks kulit," tegasnya.

Citra juga menjelaskan, antrak kulit bisa muncul ketika seseorang menyembelih hewan yang terinfeksi, lalu darah yang keluar kontak dengan kulit yang terdapat luka. "Gejala awalnya adalah seperti gatal lalu berkembang cepat menjadi luka antraks dan terjadi pembengkakan," ucapnya.

Sama seperti yang terjadi pada hewan. Antraks pada manusia juga bisa ditangani dengan dideteksi sejak dini serta pengobatan yang sesuai. Jika merasakan gejala pasca kontak dengan hewan sakit atau menyembelih, maka langsung datang saja ke fasilitas kesehatan. “Dokter sudah menyiapkan untuk mendeteksi sejak dini kasus antraks pada manusia," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, dosen Fakultas Peternakan UGM Nanung Danar Dono mengingatkan, pentingnya pemahaman, kesadaran, dan upaya bersama untuk penanganan antraks agar tidak menimbulkan korban lagi. Menurutnya, kebiasaan memotong dan membagi-bagikan daging hewan yang mati karena sangat berbahaya dan itu harus dihentikan. "Jangan sampai ada kasus lagi. Karena sekarang hampir di semua provinsi Indonesia sudah terkena. Maka mari kita saling menjaga dan mengingatkan," tandasnya (cr2/pra)

 

Editor : Satria Pradika
#UGM #Epidemiolog #sapi #Antraks Gunungkidul