Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Manuver Politik Cakraningrat Bikin Pusing VOC

Kusno S Utomo • Sabtu, 8 Juli 2023 | 13:00 WIB
Cerbung Majid Mataram oleh Kusno S Utomo
Cerbung Majid Mataram oleh Kusno S Utomo

RADAR JOGJA - Laskar Tionghoa semakin terdesak. Penopang utama kekuatan Sunan Kuning itu tak berkutik menghadapi gempuran koalisi tentara Madura, Kompeni dan pasukan pendukung Susuhunan Paku Buwono II dari Panaraga, Jawa Timur.


Jebolnya pertahanan Sunan Kuning dimulai dari arah timur. Pasukan Patih Mangunoneng tak berdaya melawan tentara Madura. Wilayah Sukawati yang berada di timur Kartasura, ibu kota negara (IKN) Mataram jatuh ke tangan pasukan Bupati Cakraningrat.


Menyadari situasinya semakin sulit, laskar Tionghoa akhirnya balik kucing. Mereka bergegas kembali ke istana Kartasura. Tujuannya, menyelamatkan Sunan Kuning dari sergapan lawan. Raja kemudian diajak keluar dari keraton.


Kejadian ini seperti mengulang peristiwa yang dialami Paku Buwono II saat prajurit Mataram kalah melawan pasukan Sunan Kuning. Raja harus menyelamatkan diri. Menyingkir dari istana Kartasura menuju Panaraga pada 30 Juni 1742.


Kini peristiwa itu berulang. Berbalik menimpa Sunan Kuning. Raja yang bergelar Sunan Amangkurat V itu harus meninggalkan takhta pada 26 November 1742. Praktis Amangkurat V hanya berkuasa kurang dari lima bulan. Takhta tersingkat raja Mataram yang pernah bertakhta di Kartasura.


Amangkurat V oleh anak buahnya dibawa ke arah selatan Kartasura. Kapitan Sepanjang mengawal rombongan Sunan Kuning menuju Wonogiri. Mereka singgah lebih dulu di Desa Nguter, Sukoharjo. Berlanjut ke daerah Keduwang. Raden Mas (RM) Said, panglima perang Sunan Kuning menyusul di belakang. Said bersama adik-adiknya Pangeran Timur dan RM Ambiya mengambil jalan lewat Bayat, Klaten.


Ketika Amangkurat V meninggalkan Kartasura, situasi keraton dalam keadaan kosong. Tidak ada lagi laskar Tionghoa yang berusaha mempertahankan istana. Situasi ini memudahkan jalan bagi tentara Madura. Dengan mudah mereka menguasai takhta Mataram.


Nyaris bersamaan, pasukan Sunan Paku Buwono II juga tengah bergerak ke arah istana Kartasura. Namun tiba-tiba laju mereka dihentikan tentara Madura. Pasukan Panaraga diminta menjauh dari Kartasura. Permintaan itu tidak digubris oleh Paku Buwono II. Sunan memilih transit di kediaman kerabatnya Kusumobroto di Desa Gumpang. Lokasinya ada di sebelah timur Kartasura.


Sunan tengah menyusun strategi sembari menunggu situasi. Sunan menyurati Kapten Von Hohendorrf. Isinya menerangkan situasi yang tengah dihadapi. Terutama tindakan pasukan Cakraningrat dari Madura yang bersikap tidak sopan. Melarang rombongan Sunan memasuki istananya sendiri.


Tindakan tentara Madura dinilai semakin jauh. Setelah melarang Sunan masuk ke istana, mereka secara sepihak menobatkan Pangeran Ngabehi Loring Pasar sebagai raja di Kartasura. Langkah ini atas perintah Cakraningrat.


Bupati Madura itu sejak lama menyimpan dendam politik terhadap Paku Buwono II. Cakraningrat bertekad merebut takhta Mataram. Kemudian menobatkan raja baru pengganti Paku Buwono II. Kini semua rencana itu benar-benar direalisasikan.


Tindakan bupati Madura itu membuat pusing petinggi Kompeni di Batavia dan Semarang. Mereka tidak mengerti dengan kemauan Cakraningrat itu. Bagi VOC, Kerajaan Mataram harus dipertahankan. Takhta harus dikembalikan kepada Paku Buwono II. Kompeni tidak ingin rencana itu buyar gara-gara aksi sepihak Cakraningrat.


VOC akhirnya melobi Cakraningrat ke Madura. Duta Kompeni dipimpin Residen Surabaya De Klerk bersama seorang ahli Jawa Nicholaas Hartingh. Semula Cakraningrat menolak permintaan meninggalkan Kartasura. Namun sehari setelah pertemuan, penguasa Madura itu berubah pikiran. Cakraningrat bersedia menyerahkan istana Kartasura dan memulangkan tentaranya balik ke Madura. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Cerbung #Tionghoa #Kusno S. Utomo #IKN #Susuhunan Paku Buwono II #madura #mataram #jawa timur #VOC