Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kepala Pelaksana BPBD DIJ Biwara Yuswantana Tutup Usia

Winda Atika Ira Puspita • Senin, 3 Juli 2023 | 13:35 WIB
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantana
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantana

RADAR JOGJA - Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantana tutup usia, Minggu siang (2/7/23). Banyak hal-hal positif yang dia tinggalkan. Utamanya selama kiprahnya menangani pandemi Covid-19. Dua penghargaan tingkat nasional dia raih untuk Jogjakarta.

WINDA ATIKA IRA P, Jogjakarta

Biwara berpulang pada usia 60 tahun, di RS Bethesda pukul 11.53. Berpulangnya warga Kulon Progo yang lahir 17 Agustus 1963 itu banyak dikenang oleh jajarannya. Pun banyak meninggalkan hal-hal positif selama masa hidupnya. Terutama selama kiprahnya dalam percepatan penanganan pandemi Covid-19 di Jogjakarta ini.


Menurut rencana, jenazah akan dikebumikan hari ini pukul 14.00 di Pemakaman Ngrojo, Kembang, Nanggulan, Kulon Progo.
Pelaksana Harian (Plh) BPBD DIJ Danang Samsulrizal mengenang Biwara dengan pribadi yang sabar dan tenang. Sifatnya itu terbawa hingga caranya dalam memimpin organisasi selama ini. Khususnya saat kondisi kritikal pandemi saat itu. "Karena beliau tenang dan sabar, dalam mengambil keputusan tidak selalu terburu-buru meskipun itu butuh kecepatan. Tapi ternyata keberhasilannya cukup tinggi. Beliau bisa saja membuat keputusan yang berani," katanya kepada Radar Jogja Minggu (2/7/23).


Keberhasilannya nyata. Jogjakarta mendapat dua sekaligus penghargaan level nasional selama penanganan pandemi. Penghargaan pertama yaitu dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentang penanganan pandemi di DIJ terutama berkaitan dengan penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Kedua penghargaan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI berkaitan dengan mitigasi bencana. "Beliau mengorganisasi antarlembaga. Karena di sini (BPBD, Red) kan sekretariat, jadi yang handel. Berat tugasnya, agar peringkat daerah satu, dua, dan selanjutnya satu sinergi. Isu keamanan, ketertiban, logistik, kesehatan, dan lain-lain itu kan harus ada yang koordinir," ujarnya.


Menurutnya, atasannya itu berhasil menjalankan amanah dan tanggung jawabnya. Terlebih dalam penanganan pandemi hingga menerima penghargaan nasional. Dalam kepemimpinannya pun dinilai cukup solid, baik mulai awal pandemi hingga endemi. "Beliau cukup tangguh untuk menangani segala macam permasalahan baik di lapangan, materiil, dan administrasi. Tapi beliau bisa menangani,"pujinya.


Pun ketika mengambil keputusan selalu berdasarkan perencanaan. Jadi, sebelum diputuskan ada perencanaannya dengan baik. “Kemudian bagaimana cara penanganannya dia cukup teliti," tambahnya.
Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIJ Pristiawan Buntoro mengungkapkan banyak kenangan secara personal maupun profesional dengan mendiang selama bekerja bersama. Terutama saat penanganan pandemi Covid-19 selama sua tahun. "Kami berduka mengingat beliau ada di depan memimpin kami bersama," katanya.


Menurut pandangan pribadinya, meski ada bencana lain yang berhasil mendiang tangani seperti siklon Cempaka, ada bencana yang dinilai lebih berat daripada itu yakni pandemi. Dari tolok ukur teman-teman TRC, keberhasilan menangani bencana yang paling signifikan adalah pada saat pandemi. "Itu keberhasilan beliau selama menjabat kepala pelaksana," jelasnya.


Pun paramater kepemimpinan mendiang selama kiprahnya dalam penanganan pandemi di Jogjakarta ini terbilang sangat baik. Dan keberhasilan dalam penanganan pandemi disebut tak terlepas dari peran serta Almarhum secara signifikan. "Beliau sempat menyampaikan kepada kami mesti bagaimana harus bersama-sama ditangani. Dua tahun menangani pandemi tidak hanya dengan Pak Biwara secara personal tapi saat beliau dengan kawan-kawan semua terlibat secara langsung di posko," ceritanya.


Pristiawan kembali mengenang saat bersama mendiang dalam bekerja maupun di luar jam kerja. Keluh kesah tercurahkan bersama. Terkadang mendiang pun sempat mencurahkan rasa kelelahannya kepadanya. Diskusi-diskusi itu terjadi saat puncak-puncaknya proses penanganan pandemi.

"Sampai beliau mengeluh capek. Terus ya kami sama-sama saling menyemangati. Mengeluh, bahkan dia wes kesel wes mundur wae segala macam. Memang sangat sulit. Tapi Alhamdulillah semua bisa dilalui secara bersama. Dan itu cukup membuat kami secara emosional berpengaruh dengan meninggalnya beliau saat ini," ungkapnya.


Dia berharap ke depan akan muncul pengganti mendiang yang paham dalam mengelola instansi BPBD DIJ. Apa yang sudah dilakukan mendiang selama memimpin untuk bisa menjadi parameter dalam menentukan pimpinan berikutnya. "BPBD bukan instansi biasa. Perlu dinamika dan ini persoalan dengan banyaknya potensi bencana saat ini," harapnya. (din)

Editor : Satria Pradika
#nasional #Biwara yuswantana #BPBD DIJ #penghargaan