Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Akhirnya Istana Kartasura Dikuasai Oposisi

Kusno S Utomo • Sabtu, 1 Juli 2023 | 13:00 WIB
Cerbung Oleh Kusno S Utomo
Cerbung Oleh Kusno S Utomo

RADAR JOGJA - Gerakan Perubahan demi Persatuan Mataram yang diusung Raden Mas (RM) Garendi mampu memikat rakyat. Dukungan terus mengalir. Gerakan yang dilakukan bukan lagi sekadar mengusir Kompeni. Namun sebagai pemimpin oposisi Garendi juga mengobarkan gerakan people power. Melengserkan raja dari takhtanya.


Oposisi menggelorakan isu anti Paku Buwono II. Saatnya raja Mataram lengser. Diganti raja baru, Garendi yang bergelar Amangkurat V alias Sunan Kuning. Massa pendukung oposisi ini kian hari jumlahnya semakin bertambah. Bahkan orang Jawa yang bergabung lebih besar ketimbang laskar Tionghoa. Angkanya mencapai lebih dari 20 ribu prajurit. Beberapa orang bangsawan Mataram juga bergabung.


Gerakan people power itu bergerak cepat. Sasarannya hanya satu. Rebut, duduki, dan kuasai Ibu Kota Negara (IKN) Mataram di Kartasura. Kondisi ini menimbulkan kepanikan dan ketegangan di lingkungan istana. Tumenggung Tirtawiguna, sekretaris Paku Buwono II segera menghubungi Hugo Verijsel, penguasa VOC di Semarang.


Kartasura memerlukan bantuan garnisun Kompeni. Permintaan itu disanggupi. Namun saat akan merealisasinya, Verijsel dilanda keragu-raguan. Dia tidak ingin mengulang kesalahan. Pengalaman mengajarkan elite-elite Mataram tidak dapat dipercaya sepenuhnya oleh VOC.


Sebelumnya pada 10 Agustus 1741, Paku Buwono II pernah memerintahkan pasukan Mataram menyerbu benteng VOC di Kartasura. Saat itu Mataram masih berkoalisi dengan laskar Tionghoa. Akibat serangan itu, serdadu VOC kalah. Komandannya Van Velsen akhirnya dieksekusi. Kejadian ini sangat melukai perasaan Verijsel.


Dia kemudian berubah pikiran. Pasukan VOC akan dikirimkan ke Kartasura dengan sejumlah syarat. Dia minta beberapa kerabat Sunan diserahkan ke Semarang. Mereka dijadikan jaminan atau semacam sandera oleh Kompeni. Antara lain Raden Mas Gusti (RMG) Suryadi, putra mahkota Paku Buwono II, Pangeran Hangabehi, para putra Patih Natakusuma dan Tumenggung Pringgalaya.


Kompeni minta mereka dibawa ke Semarang. Baru diizinkan pulang ke Kartasura setelah perang selesai. Paku Buwono II keberatan dengan tawaran itu. Terutama menyangkut penyerahan putra mahkota. Terjadi negoisasi yang alot dan berkepanjangan.


Di tengah suasana itu, muncul kabar mengagetkan. Pasukan Sunan Kuning berhasil menguasai semua jalur menuju Kartasura. Ini berdampak luas biasa. Hubungan Semarang dengan istana Mataram menjadi terputus total.
Sunan Kuning didampingi sejumlah panglima perangnya memutuskan menyerang Kartasura melalui jalur barat yakni Salatiga dan Ungaran. Jalur ini dipakai dengan harapan bekas pasukan Natakusuma, mantan patih Kartasura yang telah ditangkap VOC di Semarang, bisa bergabung dengan mereka.


Penyerangan besar-besaran itu diawali dengan upacara ritual di Desa Gubug, Grobogan. Di markas perjuangan ini, Amangkurat V lebih dulu berziarah ke makam suci di desa tersebut. Setelah itu, pasukan bergerak. Kekuatan Sunan Kuning terdiri atas tiga brigade prajurit Jawa. Ditambah tiga brigade pasukan Tionghoa.


Massa pendukung Sunan Kuning meninggalkan markasnya pada akhir Juni 1742. Mereka bergerak tanpa mendapatkan perlawanan berarti. Ungaran dan Salatiga dengan mudah direbut. Tumenggung Martapura berhasil memukul mundur pasukan Kartasura di Ampel, Boyolali.


Memasuki 30 Juni 1742, prajurit Sunan Kuning memasuki ibu kota Mataram. Kartasura sudah mereka kuasai. Kapitan Sepanjang berada di garis terdepan. Sedangkan Martapura dan Patih Mangunoneng berada di belakang. Keduanya bertindak sebagai pengawal Amangkurat V, raja yang usianya masih remaja, 16 tahun.


Mereka tengah berjalan menuju alun-alun Kartasura. Sebelum pasukan Sunan Kuning sampai, Kapten Baron von Hohendorff dan anak buahnya lebih dulu berada di dalam istana. Dia melihat Paku Buwono II berdiri kebingungan. Sunan terlihat memegang tombak. Sejarah seakan-akan kembali terulang. Kali kedua ibu kota Mataram jatuh karena gerakan people power.


Pada Juni 1677 atau 65 tahun sebelumnya, kejadian serupa pernah dialami Sunan Amangkurat I, kakek buyut Paku Buwono II. IKN Mataram yang saat itu berada di Pleret berhasil direbut Trunajaya. Amangkurat I terpaksa menyingkir ke Banyumas.


Kini kejadian serupa dialami cucunya. Raja Mataram kembali kehilangan takhta dan istana. IKN Kartasura bernasib sama dengan IKN Pleret. Jatuh dan dikuasai lawan politik lewat gerakan people power. (laz)

Editor : Satria Pradika
#IKN #Paku Buwono II #Kartasura #mataram #VOC