Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Natakusuma Dijegal, Percepat Terjadinya Chaos Politik

Kusno S Utomo • Kamis, 29 Juni 2023 | 13:00 WIB
Cerbung Oleh Kusno S Utomo
Cerbung Oleh Kusno S Utomo

RADAR JOGJA - Konsolidasi politik Raden Mas (RM) Garendi yang telah bergelar Susuhunan Amangkurat V alias Sunan Kuning terus berlanjut. Usai menetapkan rencana operasi menyerang ibu kota negara (IKN) Mataram di Kartasura, Sunan Kuning mengumumkan kabinetnya.


Bupati Pati Mangunoneng diangkat menjadi patih. Sedangkan Bupati Grobogan Martapura menjadi panglima tentara. Namanya diubah menjadi Sujunapura. Pemilihan Mangunoneng ini bukan tanpa dasar. Dibandingkan pejabat Mataram lain yang ada di barisan Amangkurat V, Mangunoneng merupakan birokrat paling senior. Sejak lama dia menjadi orang kepercayaan Natakusuma, patih kepercayaan Paku Buwono II di Kartasura.


Mangunoeng juga menjadi guru politik Jayaningrat. Putra Natakusuma yang kemudian menjabat bupati Pekalongan. Dengan jejak rekam itu, pengalaman Mangunoneng di birokrasi tidak perlu diragukan lagi. Natakusuma yang tengah berada di Semarang menyambut gembira dengan penunjukan Mangunoneng sebagai patih kelompok oposisi ini.
Saat itu karir politik Natakusuma tengah di ujung tanduk. Ini terjadi pascakeputusan Kartasura berbalik menyerang laskar Tionghoa dan kembali bermitra dengan VOC. Keputusan itu membuat langkah Natakusuma terjepit. Sebab, selama ini dia berada di barisan terdepan penyokong pasukan koalisi Mataram-Tionghoa.


Natakusuma beberapa kali memimpin pertempuran melawan Kompeni. Terutama saat Mataram menguasai benteng VOC di Kartasura. Namun kini situasinya telah berubah. Natakusuma menyadari Paku Buwono II dan Kompeni tidak lagi menaruh kepercayaan kepada dirinya.
Cepat atau lambat dia sadar akan diganti. Jabatannya sebagai patih tinggal menghitung hari. Dengan diangkatnya Mangunoneng sebagai patih di kubu oposisi merupakan kabar baik. Dia berharap Mangunoneng dapat menyelamatkan posisi anaknya, Jayaningrat.


Natakusuma juga merasa tetap bisa memegang kendali di tengah krisis politik tersebut. Ini karena Mangunoeng menjadi patih Amangkurat V dan dirinya menjabat patih Paku Buwono II. Siapa pun rezim yang berkuasa, situasi Mataram akan tetap dapat dikendalikan. Natakusuma maupun Mangunoneng berada dalam satu kubu. Bedanya Natakusuma berada di dalam istana dan Manguoneng ada di luar istana.


Perintah pasukan Mataram agar menarik diri dari laskar Tioghoa dijalankan Natakusuma. Bersama pasukannya dia meninggalkan Demak menuju Semarang. Setiba di Semarang, Natakusuma memberi tahu Tirtawiguna, sekretaris Paku Buwono II. Dia juga mengirimkan surat ke penguasa VOC di Semarang Hugo Verijsel.


Natakusuma ingin melakukan silaturahmi ke Verijsel. Tanpa sepengetahuan Natakusuma, Verijsel mempersiapkan skenario menangkap patih Kartasura itu. Sang patih berangkat menumpang kereta dikawal tiga orang prajurit. Sebagian besar pasukannya tinggal di perkemahan di daerah Lemper, Semarang.


Saat tiba di loji Kompeni, Natakusuma disambut Verijsel dan koleganya Herman Thellis. Kedua pejabat VOC itu mempersilakan Natakusuma duduk di kursi yang disediakan. Tak lama kemudian Notokusumo ditangkap. Penangkapan terjadi pada 17 Juni 1742. Patih yang malang itu akhirnya dibuat ke Srilanka.


Kabar penangkapan Natakusuma itu segera menyebar. Reaksi keras ditunjukkan Kapitan Sepanjang dan Martapura. Keduanya menilai Kompeni telah sengaja menjegal dan membegal Natakusuma secara brutal. Panglima laskar Tionghoa itu bertekad melanjutkan perjuangan Natakusuma. Sedangkan Martapura merasa kehilangan atasan sekaligus guru politik yang ahli strategi.


Penangkapan Natakusuma memicu semangat laskar Tionghoa dan pasukan Sunan Kuning. Laskar Tionghoa yang terkonsolidasi di Ungaran, Lasem, Blora, dan Salatiga langsung bergerak menuju Kartasura.


Pasukan ini bergabung dengan prajurit Sunan Kuning yang bertolak dari Grobogan. Tujuan mereka satu. Merebut IKN Kartasura. Inilah awal terjadinya Geger Pacinan yang dipicu tindakan VOC menjegal Natakusuma.
Terjadinya gerakan people power menjadi lebih cepat dari perkiraan. Penangkapan Natakusuma menimbulkan chaos (kekacauan, Red) politik di Mataram. Kerusuhan sosial muncul di berbagai tempat. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Cerbung #Kusno S. Utomo #Kartasura #mataram #VOC