Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sinetron Natakusuma Menyerang Laskar Tionghoa

Kusno S Utomo • Senin, 26 Juni 2023 | 13:00 WIB
Cerbung Oleh Kusno S Utomo
Cerbung Oleh Kusno S Utomo

RADAR JOGJA - Satu tuntutan VOC kepada Mataram dipenuhi. Istana Kartasura benar-benar bersedia memisahkan diri dari laskar Tionghoa. Berikutnya Patih Natakusuma diperintahkan memerangi orang-orang Tionghoa. Perintah dari istana itu kemudian diinformasikan Natakusuma kepada Bupati Grobogan Martapura dan pemimpin laskar Tionghoa Singseh serta Kapitan Sepanjang.


Martapura tegas menolak perintah istana. Dia bersumpah tidak mau tunduk dan mengabdi pada VOC. Bahkan hingga keturunannya ke-16, bupati Grobogan ini tetap berkomitmen membantu perjuangan orang-orang Tionghoa melawan Kompeni.
Dalam pertemuan Natakusuma dengan tiga sejawatnya itu dicapai kesepakatan. Mereka membuat trik mengecoh Kompeni. Caranya, patih Mataram itu memimpin pasukan Kartasura menyerang laskar Tionghoa. Namun serangan itu sebenarnya hanya sandiwara belaka. Saat penyerangan, Natakusuma menunggang kuda bernama Bedhami. Ini berasal dari kata berdamai.


Serangan dilakukan di sekitar Bukit Bergota pada Minggu 16 Desember 1741. Daerah ini sebelumnya dikuasai laskar Kapitan Sepanjang. Lantaran hanya sinetron, saat penyerangan terjadi pasukan Mataram justru memberikan keleluasaan bagi laskar Tionghoa. Mereka dibiarkan meninggalkan Semarang.
Natakusuma mempersilakan Martapura berpisah dengan pasukan Mataram. Martapura akhirnya memilih bergabung dengan kekuatan Tionghoa. Tindakan patih Kartasura ini rupanya berhasil meyakinkan VOC.


Keinginan kongsi dagang Belanda agar Mataram berpisah dan balik menyerang orang-orang Tionghoa sudah dijalankan. Susuhunan Paku Buwono II juga mengajukan tuntutan balik. Sunan meminta garnisun VOC tetap tinggal di Kartasura. Tujuannya ikut menjaga ibu kota negara (IKN) Kartasura.


Namun permintaan ini ditolak penguasa VOC di Semarang. Mereka tidak mau mengambil risiko menempatkan pasukan di Kartasura dalam situasi politik yang belum menentu. Akhirnya anggota garnisun yang pernah menyerah pada pasukan Mataram pulang ke Semarang pada Januari 1742.


Sunan kemudian minta dikirim anggota garnisun yang baru. Lagi-lagi permintaan ini tidak dikabulkan. Para petinggi Kompeni masih meragukan sikap raja Mataram itu. Dukungan membantu VOC apakah benar-benar dilakukan atau sekadar siasat.
Setelah menyingkir dari Semarang, orang-orang Tionghoa membangun kekuatan di enam lokasi. Meliputi Grobogan, Demak, Kudus, Pati, Jepara, dan Lasem. Keenam daerah ini dikenal sebagai lumbung beras dan penghasil kayu berkualitas.


Jauh sebelum terjadi perang orang-orang Tionghoa sudah banyak yang menetap di enam daerah itu. Hubungan dengan masyarakat Jawa setempat sudah sangat erat. Kondisi ini tidak diinginkan VOC. Sebab, bersatunya orang Jawa dan Tionghoa sangat berbahaya bagi masa depan kongsi dagang Belanda tersebut.


Fakta membuktikan, Belanda sempat kedodoran menghadapi koalisi pasukan Mataram-Tionghoa. Benteng Kompeni di Kartasura sempat jatuh di tangan koalisi Mataram-Tionghoa. Begitu pula dengan benteng di Semarang. Pasukan VOC sempat dibuat frustasi menghadapi gempuran pasukan koalisi.


Tak ingin itu terulang, Batavia menetapkan kebijakan disintegrasi antara Tionghoa dan orang Jawa. Permukiman kedua etnis itu harus dipisah. Tidak boleh berbaur. Orang-orang Tionghoa di Batavia hanya diizinkan tinggal di Glodok.
Kebijakan serupa diterapkan di Jawa. Salah satu contohnya di Juwana, Pati. Orang-orang Tionghoa yang bermukim di daerah itu diusir. Mereka dipindahkan ke permukiman khusus yang terpisah dengan komunitas orang Jawa.


Kendati demikian, VOC menghadapi ganjalan di daerah Lasem. Hubungan masyarakat Jawa dan orang Tionghoa di wilayah itu sudah terbina dengan baik. Kebijakan pemisahan itu tak bisa berjalan efektif. Lasem kemudian menjadi salah satu pusat perlawanan Laskar Tionghoa dan masyarakat Jawa saat gerakan people power Geger Pacinan yang menggoncang IKN Kartasura. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Cerbung #Kusno S. Utomo #IKN #VOC #Martapura Dewa United