Dodik Prakoso, seorang chef dari Indonesian Chef Association (ICA) BPD DIJ mengatakan, hewan kurban yang melihat prosesi penyembelihan hewan kurban sebelumnya, secara psikologis merasa stres. Hal itu sangat mungkin berdampak pada hewan itu dan akhirnya mempengaruhi dagingnya karena ada ketegangan otot. "Itu benar bisa terjadi, ada ketegangan otot yang akhirnya mempengaruhi kualitas daging ketika hewan melihat temannya disembelih," ungkapnya kepada Radar Jogja Minggu (25/6).
Humas ICA BPD DIJ yang juga dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Jogjakarta ini lalu membagikan tips untuk mengurangi kadar bau berlebih dari kambing atau domba. Yakni dengan memberi rendaman air daun pepaya sebelum disembelih.
"Dua atau tiga jam sebelum disembelih, diberi minum air rendaman daun pepaya. Itu bisa mengurangi baunya dan membuat daging lebih empuk," terangnya.
Secara umum Dodik melihat masih banyak masyarakat yang mencuci daging kurban di aliran air sungai. Ia pun turut berpesan, idealnya daging hewan kurban tidak dianjurkan untuk dicuci di aliran sungai. Hal itu berpotensi bahaya karena ada kotoran dari alir sungai. "Higienitas air sungai tidak terjamin. Seharusnya di keran air, lalu setelahnya direbus juga agar kebersihannya terjamin," pesannya.
Sementara itu, saat hewan sudah disembelih, juga perlu dipikirkan jenis potongan dagingnya. Ini karena akan berpengaruh pada jenis olahan masakan yang dibuat.
"Potongan daging itu banyak jenisnya. Lebih efektif ketika sudah dipikirkan sekaligus potongannya untuk mau dimasak apa," paparnya.
Dodik pun menyarankan masyarakat yang setiap Idul Adha menjadi panitia, perlu diberikan edukasi dan pelatihan terkait pengelolaan dan pengolahan daging secara rinci. "Seharusnya ada pelatihan agar tidak salah. Bisa dari pihak jagal atau rumah potong hewan," tandasnya.
Wajib Ramah Lingkungan
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul mewajibkan penggunaan bahan ramah lingkungan untuk kemasan daging kurban. Kebijakan untuk meminimalisasi penggunaan kemasan plastik pada pelaksanaan Idul Adha tahun ini.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul Ari Budi Nugroho mengatakan, pihaknya juga akan mengawasi penggunaan bahan ramah lingkungan untuk kemasan daging kurban. Yakni dengan melibatkan fasilitator pendamping di 17 kapanewon.
Para pendamping itu akan berkoordinasi dengan para takmir seluruh masjid di Kabupaten Bantul. Ia menyebut, penggunaan bahan ramah lingkungan untuk kemasan daging kurban memang diwajibkan guna mendukung program Bantul Bersih Sampah 2025.
Selain itu juga agar pelaksanaan Idul Adha tahun ini tidak menimbulkan limbah plastik. Penggunaan kemasan plastik bisa diganti dengan besek, daun jati, daun pisang, panci, atau barang ramah lingkungan lainnya.
Ia menghimbau agar selama pelaksanaan Idul Adha masyarakat tidak membersihkan jeroan dan membuang kotoran hewan kurban di aliran sungai. Menurutnya, pembuangan limbah kurban lebih baik dilakukan dengan cara dikubur di dalam tanah karena dapat menjadi pupuk.
Di sisi lain adanya
kewajiban penggunaan bahan ramah lingkungan untuk kemasan daging kurban juga berdampak pada perajin besek. Narwo Sugito, 75, salah satu perajin besek di Kapanewon Sewon mengaku bisa menerima pesanan sampai 200 biji besek menjelang Idul Adha.
Besek yang paling banyak dipesan ukuran 20 sampai 22 sentimeter. Bahkan karena kuwalahan, perajin wadah berbahan dasar bambu itu sampai menolak pesanan pembuatan besek menjelang hari penyembelihan. (cr1/inu/laz)