Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dolanan Pasaran Jadi Rutinitas Selepas Pulang Sekolah

Jihan Aron Vahera • Minggu, 25 Juni 2023 | 15:00 WIB
Dyah Woro Setyaningsih Kabid Kebudayaan, Dindikbud Purworejo.
Dyah Woro Setyaningsih Kabid Kebudayaan, Dindikbud Purworejo.

RADAR JOGJA - Pasaran, pasar-pasaran atau dolanan pasaran menjadi mainan legendaris yang tak lekang oleh waktu. Dari waktu ke waktu permainan itu selalu ada. Hanya saja kini sudah lebih modern dengan media yang lebih praktis dan awet.


Kabid Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purworejo Dyah Woro Setyaningsih bercerita pengalaman serunya waktu bermain pasaran waktu kecil dulu. Zaman dia kecil, permainan pasaran itu menjadi hal yang menyenangkan dan favorit. Sebab, itu menjadi ajang untuk berkumpul dan bercerita ngalor ngidul dengan teman-temannya.


"Kalau dulu itu bolo-bolonan modelnya. Kebetulan saya sama kakak saya itu punya teman dekat masing-masing, tapi kami beda sifat. Kakak saya super halus, jadi kalau main pasar-pasaran saya dan teman-teman saya itu jurusannya ngrecoki dan merusak. Kadang kakak saya sama temen-temennya sampai nangis," katanya (23/6).


Woro menyebut, kakaknya kalau bermain pasaran memakai bahan yang bukan sungguhan. Jadi memakai daun, mi-mian, dan sebagainya. Kemudian memakai genting pecah untuk dijadikan sebagai wajan atau ulekan. Selain itu, menggunakan kayu untuk dijadikan sutil atau spatula.


"Kalau saya dan teman-teman saya berbeda. Saya pakai bahan-bahan asli. Jadi kalau bikin rujak, ya bahan-bahannya nyari. Kalau dulu istilahnya guris, tapi kami tidak mencuri. Carinya bahan yang sudah jatuh, kalau nemu mangga yang sudah dimakan codot, ya sudah kami ambil dan ngupasnya itu dicokoti," ungkap perempuan kelahiran Cimahi, 25 Oktober 1968 ini.


Namun alat tukar yang mereka gunakan tetap sama yaitu menggunakan daun. Daun yang besar nilai rupiahnya lebih besar, kalau daun kecil, nilai rupiahnya lebih kecil.


"Ini menjadi rutinitas kami ketika sore pulang sekolah sebelum mandi. Pasti ada saja kegiatan itu sambil kami ngobrol. Seru pokoknya, sering lupa waktu bisa sampai maghrib. Kadang sampai dimarahi dan dicari orang tua," ungkapnya.


Menurutnya, kegiatan semacam itu lebih mengasyikkan daripada bermain dengan gadget atau dunia maya. "Bahkan sampai tua bisa teringat hal-hal suka, duka, dan lucunya. Kalau ketemu teman bisa jadi bahan untuk bergurau," sebutnya. (han/laz)

Editor : Satria Pradika
#Pasaran #tradisional #dolanan #Dindikbud