Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perang Lawan VOC, Dibayangi Pembelotan Kerabat Istana

Kusno S Utomo • Jumat, 23 Juni 2023 | 13:00 WIB

Cerbung Oleh Kusno S Utomo
Cerbung Oleh Kusno S Utomo

RADAR JOGJABupati Madura Cakraningrat sejak lama mbalela dengan Mataram. Tidak mau tunduk dengan kekuasaan Susuhunan Paku Buwono II. Keduanya sebenarnya memiliki hubungan kekerabatan. Cakraningrat menikahi adik Sunan. Meski berstatus adik ipar raja, Cakraningrat justru memilih membantu VOC. Melawan orang-orang Tionghoa yang berkoalisi dengan Mataram.

Sikap Cakraningrat itu dinilai Paku Buwono II sebagaitindakan seorang makmum yang tengah terlena karena takpatuh dengan imam. Sunan merasa percaya diri menghadapi ulah iparnya itu. Dia memerintahkan adiknya, Pangeran Mangkubumi, berangkat ke Tuban dan Lamongan.

Mangkubumi memimpin pasukan gabungan Mataram-Tionghoa. Paku Buwono II meminta Bupati Madiun Sumbroto mengirimkan pasukan tambahan guna membantu Mangkubumi.

Baca Juga: Bangun Solidaritas Muslim, Lawan VOC yang Kafir

Dari Semarang perang antara koalisi Mataram-Tionghoamelawan Kompeni masih berlangsung. Dari laporan Patih Natakusuma kepada Paku Buwono II disimpulkan situasi lapangan tidak menentu. Mataram tidak dalam posisi menang atau kalah.

Laporan Natakusuma itu dibahas dalam rapat kabinet di istana Kartasura. Hadir para petinggi kerajaan seperti Tumenggung Pringgalaya, Pangeran Hangabehi, Pangeran Hadiwijaya, Pangeran Mangkubumi, dan Tumenggung Mangkuyuda.

Sunan membuka rapat dengan mengungkapkan kekhawatiran atas kekalahan pasukan koalisi Mataram-Tionghoa di Semarang dan Jawa Timur. Karena itu, raja berpandangan soal kemungkinan Mataram membuka ruang dialog dengan VOC.

Baca Juga: Tekuk Lutut, Pasukan VOC Harus Bersedia Masuk Islam

Paku Buwono II kemudian mempersilakan peserta rapat memberikan tanggapan. Komentar pertama datang dari Mangkubumi. Adik raja itu menilai kekalahan koalisi Mataram-Tionghoa di Semarang masih bersifat sementara. Ini tidak dapat dijadikan alasan mengubah tekad mengusir Kompeni dari tanah Jawa.

Pringgalaya berpendapat sebaliknya. Dia mendukung opsi berhenti berperang melawan VOC. Pertimbangannya, senjata Kompeni jauh lebih lengkap. Jika perang terus berlangsung, kerugian lebih besar justru dialami Mataram.

Pandangan berbeda disampaikan Mangkuyuda. Dia memberikan pendapat seputar posisi Mataram yang menghadapi dua lawan sekaligus. Pertama, VOC. Koalisi Mataram-Tionghoa telah berupaya melawan. Namun hasilnya belum menggembirakan.

Baca Juga: Laskar Tionghoa Terbentuk, Momentum Tepat Usir VOC

Kedua, ada kerabat istana yang membelot. Mereka seperti Raden Mas (RM) Said atau Pangeran Suryokusumo, Pangeran Buminata, Pangeran Pamot, dan Raden Wiramenggala, putra Pangeran Tepasana atau cucu Sunan Amangkurat III.

Mangkuyuda mengusulkan kekuatan Mataram agar dikonsentrasikan menyelesaikan persoalan internal ini. Pertimbangannya, akibat pembelotan para pangeran itu bibit-bibit disintegrasi Negara Kesatuan Kerajaan Mataram(NKKM) telah muncul. Karena itu, perjuangan melawan VOC dapat diteruskan usai masalah internal dapat diselesaikan.

Di sisi lain, Kompeni juga ingin segera mengakhiri perang melawan Mataram. Hugo Verijsel, penguasa VOC di Semarang, menyadari kemelut di Jawa tak mungkin hanya didekati dengan cara militer. Dia membuka gagasan berunding dengan Mataram.

Baca Juga: Ejek VOC, Minta Jelaskan Tanda-Tanda Tionghoa Jahat

Dalam pandangan Verijsel, perang yang berkepanjanganmenimbulkan biaya besar. Sebaliknya, kalau perundingan terlaksana, Kompeni dapat mengajukan kontrak baru dengan Mataram. Petinggi VOC di Batavia sejalan dengan pendapat tersebut. Perlu segera diambil langkah memisahkan orang Jawa dengan Tionghoa.

Orang-orang Tionghoa yang melawan akan diberikan pengampunan. Dengan pemisahan itu, kekuatan Mataram akan menjadi lemah. Kompeni merasa lebih mudah menekan Kartasura.

Ada empat prasyarat diajukan Kompeni kepada Paku Buwono II bila terjadi perundingan. Empat hal itu melputidiserahkannya Madura ke VOC, pengangkatan dan pemberhentian patih dilakukan setelah mendapatkanpersetujuan Kompeni, dan semua daerah pesisir diserahkan ke VOC.

Baca Juga: VOC Krisis, Gubernur Jenderal Korupsi dan Lakukan Pencucian Uang

Selain itu, penyerahan daerah pesisir diperhitungkan dengan utang-utang Mataram. Semua daerah pesisir tetap berada di bawah Kompeni sepanjang Mataram belum dapat melunasi semua utangnya.

Batavia menginstrusikan jika semua prasyarat itu ditolak Paku Buwono II, Verijsel diperintahkan mengambil tindakan tegas. Dikeluarkan manifesto untuk melindungi para bupati bawahan Mataram yang bersedia mendukung VOC.  Setelah itu, para bupati itu diajak menyerang Kartasura. Jika Paku Buwono II kalah, Mataram akan berakhir. Musnah dan sekadar menjadi cerita sejarah. Itulah target Kompeni.

Di luar dugaan, Verijsel ternyata tidak senang dengan semua instruksi Batavia itu. Menyelesaikan sengketa dengan Mataram, dia puny pendekatan  berbeda dengan bos-bosnya di Batavia. Dalam perhitungan Verijsel, musnahnya Mataram justru menimbulkan masalah besar bagi VOC. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Cerbung #Kusno S. Utomo #martapura #madura #mataram