RADAR JOGJA - Nilai etis kemanusiaan di tengah gempuran perkembangan teknologi disinggung dalam seminar nasional yang digagas Universitas Sanata Dharma (USD). Dosen Fakultas Sastra USD FX Risang Baskara menyoroti perlunya titik temu antara pedagogik digital kritis dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
"AI dan pedagogik digital kritis bak lentera dan peta untuk petualangan pembelajaran yang transformasional,'' ujarnya Kamis (15/6).
Pedagogik digital kritis menekankan pada pendekatan yang tidak sekadar keterampilan pendidik dalam memanfaatkan teknologi. Namun, juga bagaimana membangun kemampuan berfikir melalui teknologi dengan mengembangkan aspek afektif siswa.
Baca Juga: Sanata Dharma Lepas Tim Relawan Mengajar dari Korea
Sedangkan kecerdasan buatan atau AI bisa menjadi tantangan sekaligus dukungan dalam sistem pendidikan. Sistem kerja AI melalui big data kemudian menganalisis dan disajikan dalam pola tertentu yang diinginkan. AI memudahkan proses pengambilan data sesuai dengan kebutuhan.
"Penting untuk memahami bagaimana prinsip-prinsip pedagogi digital kritis dapat memandu penggunaaan AI yang etis di dalam pembelajaran, di ruang-ruang kelas kita. Demi pertumbuhan pribadi siswa-siswi kita," jelasnya.
Sementara itu, dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) Kristi Poerwandari mengatakan pentingnya memanusiakan manusia. Sebagai upaya membangun kehidupan yang dimediasi oleh teknologi tinggi.
Baca Juga: Rektor Sanata Dharma: Aksi #GejayanMemanggil Punya Agenda Besar
“Selalu ada tantangan dalam menjalani kehidupan dan tampaknya memanusiakan manusia menjadi sesuatu yang lebih sulit dilakukan di masa kini, dibanding di masa sebelumnya, di saat kehidupan manusia total diubah oleh teknologi," jelasnya.
Di sisi lain, Kristi mengatakan kebutuhan psikologis dasar manusia tetap ada. Dan, dimungkinkan semakin kuat dalam pemenuhannya.
Menurutnya, psikologi sebagai bidang ilmu dan helping profession memiliki tantangan berat untuk dapat berperan kritis. Agar memastikan manusia bisa beradaptasi dengan tuntutan pola hidup yang baru. Sekaligus tetap sehat mental.
"Kepedulian sosial dan nilai-nilai kemanusiaan universal perlu secara khusus ditumbuhkan dan menjadi tanggungjawab kita semua,” imbuhnya.
Dua pembicara lainnya ialah Dirjen Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek Iwan Syahril dan Eny Winarti dari FKIP USD. (lan/amd)
Editor : Amin Surachmad