RADAR JOGJA - Fenomena banyaknya kafe literasi menjadi bukti adanya peningkatan minat literasi di kalangan anak muda. Di samping itu menjadi sebuah kreatifitas para pegiat, namun juga menjadi sebuah kampanye literasi.
Pegiat Literasi Muhsin Kalida mengatakan, tren maraknya kafe literasi menjadi sebuah fenomena yang sangat positif. Kegiatan industri yang dibalut dengan program literasi ataupun sebaliknya, menandakan literasi sudah menjadi budaya penting bagi masyarakat saat ini. "Saat ini mungkin masyarakat sudah merasa begitu pentingnya literasi, baik literasi dasar maupun numerasi budaya," katanya kepada Radar Jogja Jumat (16/6/23).
Muhsin menjelaskan, kegiatan literasi tidak boleh berhenti. Literasi harus terus digalakkan dan tidak berbatas waktu. Seiring berkembangnya zaman, kegiatan literasi terus meningkat. Kafe literasi yang marak ini menjadi bukti adanya peningkatan literasi di wilayah DIJ khususnya. "Ini tentu karena gerakan literasi terus menerus bisa dilakukan oleh siapa dan di mana saja. Profesi apa saja kesadaran untuk berliterasi dan turut menggerakan literasi ini tinggi. Tidak hanya di kafe tapi juga di warung-warung usaha UMKM banyak di situ," beber Kaprodi Magister Bimbingan Konseling Islam (BKI) UIN Sunan Kalijaga.
Tren literasi mengalami peningkatan sejak 2015. Mulai marak asosiasi berkaitan dengan para pegiat literasi. Bahkan di tahun ini, tren kesiapan warga untuk berliterasi dinilai sudah cukup membaik. "Bahkan ada beberapa research yang menyatakan Indonesia tren literasinya sangat pesat," jelasnya.
Keberadaan kafe literasi diklaim sangat membantu mendongkrak peningkatan literasi. Dengan adanya kafe itu, tentu mahasiswa maupun pelajar cukup terbantu mencari referensi sembari bersantai atau sekedar ngopi. Maupun sebaliknya, yang berniat ngopi bisa sembari belajar literasi. "Teman-teman mahasiswa atau anak-anak SMA ketika nugas di kafe kadang-kadang butuh referensi. Ketika kafe menyediakan referensi yang banyak tentu salah satu tujuannya tidak hanya ngopi, tapi mencari referensi," sebutnya.
Menurutnya, literasi sangat penting untuk kesejahteraan masyarakat. Membaca sebagai literasi dasar yang harus dikuasai setiap orang. Literasi terbagi dalam empat tingkatan kemampuan mengumpulkan sumber-sumber bacaan, memahami yang tersirat dari yang tersurat dan mengemukan ide, teori, kreativitas dan inovasi baru. Harapannya literasi tidak hanya sekedar membaca namun juga memproduksi. "Ketika orang melampaui itu, saya kira kesejahteraan yang menjadi harapan bangsa bisa tercapailah. Saya kampanyenya sadar membaca sadar menulis sadar dokumen, jangan sampai sejarah itu hilang sampai dokumen itu jadi bahan bacaan bagi orang lain," tandasnya. (wia/eno/sat)